Loading...

MENGENAL TANAMAN PORANG DAN MEMBEDAKANNYA DENGAN SUWEG, ILES-ILES PUTIH DAN WALUR

MENGENAL TANAMAN PORANG  DAN MEMBEDAKANNYA DENGAN SUWEG, ILES-ILES PUTIH DAN WALUR
Pendahuluan Kementerian Pertanian saat ini telah mengeluarkan beberapa kebijakan pembangunan di bidang pertanian salah satunya melalui Program Gratieks. Gratieks adalah gerakan peningkatan ekspor pertanian yang digagas Mentan Syahrul Yasin Limpo untuk menyatukan kekuatan seluruh pemegang kepentingan pembangunan pertanian dari hulu sampai hilir. Gerakan ini diharapkan mampu meningkatkan ekspor komoditas pertanian dengan cara yang tidak biasa. Banyaknya produk pertanian yang menjadi komoditas ekspor berkolerasi positif dengan program Gratieks. Salah satu komoditas yang masuk pada program Gratieks ini adalah Porang. Berdasarkan pengamatan penulis, saat ini tanaman porang sudah mulai memasuki Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Menurut informasi Penyuluh Pertanian Lapangan, di Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka sudah ada petani yang menanam tanaman porang. Benih porang yang ditanam didapatkan dari Pulau Jawa. Hal ini memantik keingintahuan petani lain mengenai produk yang masuk program Gatieks ini. Deskripsi Tanaman Porang Deskripsi tanaman porang (A. oncophyllus) menurut Sumarwoto (2005) dan Perhutani (2013) dijelaskan dengan mengupas setiap bagian tanaman porang. 1). Batang Batang tumbuh tegak, lunak, halus berwarna hijau atau hitam dengan belang-belang putih tumbuh di atas ubi yang berada di dalam tanah. Batang tersebut sebetulnya merupakan batang tunggal dan semu, berdiameter 5-50 mm tergantung umur/periode tumbuh tanaman, memecah menjadi tiga batang sekunder danselanjutnya akan memecah lagi menjadi tangkai daun. Tangkai berukuran 40-180 cm x 1-5 cm, halus, berwarna hijau hingga hijau kecoklatan dengan sejumlah belang putih kehijauan (hijau pucat). Pada saat memasuki musim kemarau, batang porang mulai layu dan rebah ke tanah sebagai gejala awal dormansi, kemudian pada saat musim hujan akan tumbuh kembali. Pertumbuhannya akan tergantung sekali kepada tingkat kesuburan lahan dan iklimnya, tinggi tanaman porang dapat mencapai 1,5 m. 2). Daun Daun porang termasuk daun majemuk dan terbagi menjadi beberapa helai daun (menjari), berwarna hijau muda sampai hijau tua. Anak helaian daun berbentuk elips dengan ujung daun runcing, permukaan daun halus bergelombang. Warna tepi daun bervariasi mulai ungu muda (pada daun muda). Hijau (pada daun umur sedang), dan kuning (pada daun tua). Pada pertumbuhan yang normal, setiap batang tanaman terdaat 4 daun majemuk dan setiap daun majemuk terdapat sekitar 10 helai daun. Lebar kanopi daun dapat mencapai 20-150 cm, tergantung umur tanaman. 3). Bulbil/Katak Pada setiap pertemuan batang sekunder dan ketiak daun akan tumbuh bintil berbentuk bulat simetris, berdiameter 10-45 mm yang disebut bulbil/katak yaitu umbi generative yang dapat digunakan sebagai bibit. Besar kecilnya bulbil tergantung umur tanaman. Bagian luar bulbil berwarna kuning kecoklatan sedangkan bagian dalamnya berwarna kuning hingga kuning kecoklatan. Adanya bulbil/katak tersebut membedakan tanaman porang dengan jenis Amorphopallus lainnya. Jumlah bulbil/katak tergantung dari rusa percabangan daun, biasanya berkisar antara 4-15 bulbil per pohon. Umbi Umbi porang merupakan umbi tunggal karena setiap satu pohon porang hanya menghasilkan satu umbi. Diameter umbi porang bisa mencapai 28 cm dengan berat 3 kg, permukaan luar umbi berwarna coklat tua dan bagian dalam berwarna kuning-kuning kecoklatan. Bentuk bulat agak lonjong, berserabut akar. Bobot umbi beragam antara 50-200 gram pada satu periode tumbuh, 250-1.350 gram pada dua periode tumbuh, dan 450-3,350 gram pada tida periode tumbuh. Menurut Perhutani (2013), bila umbi yang ditanam berbobot 200 – 250 gram, maka hasil umbi dapat mencapai 2-3 kg/pohon per musim tanam. Sementara bila digunakan bibit dari bulbil/katak maka hasil umbi berkisar antara 100-200 gram/pohon. 4). Bunga Bunga tanaman porang akan tumbuh pada saat musim hujan dari umbi yang tidak mengalami tumbuh daun (flush). Bunga tersusun atas seludang bunga, putik, dan benangsari. Seludang bunga berbentuk agak bulat, agak tegak, tinggi 20-28 cm, bagian bawah berwarna hijau keunguan dengan bercak putih, bagian atas berwarna jingga berbercak putih. 5). Buah/Biji Termasuk buah berdaging dan majemuk, berwarna hijau muda pada waktu muda, berubah menjadi kuning kehijauan pada waktu mulai tua dan orange-merah pada saat tua (masak). Bentuk tandan buah lonjong meruncing ke pangkal, tinggi 10-22 cm. Setiap tandan mempunyai 100-450 biji (rata-rata 300 biji), berbentuk oval. Setiap buahnya mengandung 2 biji. Umur mulai pembungaan (saat keluar bunga) sampai biji masak mencapai 8-9 bulan. Biji mengalami dormansi selama 1-2 bulan. 6). Akar Tanaman porang hanya mempunyai akar primer yang tumbuh dari bagian pangkal batang dan sebagian tumbuh menyelimuti umbi. Pada umumnya sebelum bibit tumbuh daun, didahului dengan pertumbuhan akar yang cepat dalam waktu 7-14 hari kemudian tumbuh tunas baru. Jadi tanaman porang tidak mempunyai akar tunggang. Beda Tanaman Porang dengan Suweg Sebagian dari kita yang baru mengenal atau baru mengetahui tanaman ini, sekilas tanaman porang identic dengan tanaman suweg, iles-iles dan walur padahal berbeda antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu perlunya pemahaman yang baik mengenai porang agar tidak terjadi kekeliruan. Berikut disajikan perbedaan ciri morfologi tanaman porang dan tanaman sejenisnya menurut Perhutani, 2013. Karakter Porang (A. ncophyllus) Daun lebar, ujung daun runcing dan berwarna hijau muda. Kulit batang halus, berwarna belang-belang hijau dan putih. Pada permukaan umbi tidak ada bintil, umbi berserat halus dan berwarna kekuningan. Pada setiap pertemuan cabang dan ketiak daun terdapat bubil/katak. Umbi tidak dapat di konsumsi langsung dan harus melalui proses Iles-iles putih (Amorphophallus sp) Daun kecil, ujung daun runcing dan berwarna hijau tua. Kulit batang halus berwarna keunguan dan bercak putih Pada permukaan umbi terdapat bintil, umbi berserat halus dan berwarna putih seperti bengkoang. Pada setiap pertemuan cabang dan ketiak daun tidak terdapat bubil/katak. Suweg (A. campanulatus) Daun kecil, ujung daun runcing dan berwarna hijau. Kulit batang agak kasar, berwarna belang-belang hijau dan putih. Pada permukaan umbi banyak bintil (calon tunas) dan kasar, umbi berserat dan berwarna putih. Pada setiap pertemuan cabang dan ketiak daun tidak terdapat bubil/katak. Umbi dapat langsung dimasak. Walur (A. variabilis) Daun kecil,ujung daun runcing dan berwarna hijau. Batang berduri semu, totol-totol hijau dan putih Pada permukaan umbi banyak bintil (calon tunas) dan kasar, umbi berserat kasar dan berwarna putih. Pada setiap pertemuan cabang dan ketiak daun tidak terdapat bubil/katak. Ditulis Oleh : Feriadi, S.P. (BPTP Kep. Bangka Belitung) Sumber Bacaan : Pusat Penelitian Tanaman Pangan. 2015. Tanaman Porang Pengenalan, Budidaya dan Pemanfaatannya. Puslitbang Tanaman Pangan-Balitbangtan. http://balitkabi.litbang.pertanian.go.id/berita/balitkabi-tembus-kembali-hutan-porang-di-madiun/ https://www.sonora.id/read/422012302/mengenal-tanaman-porang-umbi-yang-bikin-mantan-pemulung-jadi-miliarder?page=all Sumber Gambar : sonora.id.com