Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) adalah semua organisme yang menggangu pertumbuhan tanaman pokok dalam hal ini Tanaman Padi yang dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman padi dan kerugian bagi petani. Sedangkan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman Padi adalah upaya manusia untuk menekan besarnya populasi OPT sampai batas tidak menimbulkan kerusakan pada tanaman padi dan menndatangkan kerugian bagi petani/yang melakukan usaha tani padi tersebut.Organisme Pengganggu Tanaman ini terdiri atas :a. Hama yang umumnya adalah dari golongan serangga, tikus, dan binatang lainnyab. Penyakit yaitu kerusakan yang disebabkan oleh cendawan, bakteri, nematoda, tungau dan virus.c. Gulma yaitu tumbuhan/ tanaman liar yang dapat menjadi pesaing dan mengganggu pertumbuhan tanaman pokok.Penggunaan pestisida merupakan alternatif terakhir, bila populasi hama telah melewati ambang batas pengendalian, gunakan pestisida secara berkala dan sesuai dengan dosis yang diajurkan.1. TIKUS SAWAH (RATTUS ARGENTIVENTER)a. Bioekologi Tikus Sawah• Tikus adalah hama yang sangat merugikan pada banyak jenis tanaman pangan (polyfag).• Sangat adaptif pada berbagai lingkungan pada berbagai lingkungan. Habitatnya : tempat gelap dan semak-semak sekitar sumber pakannya.• Kelebihannya : 1). Dapat berenang hingga 72 jam.; 2). Dapat melompat ke atas setinggi 90 cm, datar sejauh 1,2 – 3 m; 3). Tidak cedera meski jatuh dari ketinggian 10 m• Mengerat utk mencegah pertumbuhan giginya yg mencapai 12-15 cm per tahun.• Maksimal berat badan 130 gram.• Warnanya kelabu gelap pada punggung, putih pada bagian dada dan perut.• Perkembangbiakan - Umur 1,5 – 5 bln sdh dapat berkembang biak- Usia bunting 21 hari, dan dapat melahirkan 6-10 ekor anak.- Anak yang sudah berumur 21 hari sudah pisah dari induk dan setiap ekor dapat melahirkan sebanyak 4 kali. b. BIOLOGI DAN EKOLOGI TIKUS SAWAHTikus sawah dalam klasifikasi binatang termasuk dalam kelas Mammalia (binatang menyusui), ordo Rodentia (binatang mengerat), familia Muridae, genus Rattus, dan spesies Rattus argentiventer. Menurut Sudarmaji (2008), ciri-ciri morfologi tikus sawah adalah berat badan tikus dewasa antara 100-230g, panjang kepala-badan antara 70-208 mm, panjang tungkai belakang 32-39 mm dan panjang telinga 20-22mm, ekor lebih pendek dari panjang kepala-badan, tubuh bagian dorsal berwarna coklat dengan bercak hitam pada rambut-rambutnya, bagian bawah berwarna putih. Tikus betina memiliki 12 buah putting susu, tikus jantan terlihat ada testisnya. Tikus sawah menjadi dewasa dan siap kawin setelah berumur 5-9 minggu. Tikus betina bunting selama 21 hari, seekor tikus sawah betina rata-rata menghasilkan 10 ekor anak tikus dengan perbandingan jenis jantan dan betina satu banding satu (5 betina dan 5 jantan), menyusui selama 21 hari. Tikus sawah berkembang biak sepanjang tahun dan selama satu musim tanam padi dapat beranak tiga kali. Kematangan seksual tikus betina pada umur sekitar 28 hari dan bunting pada sekitar umur 40 hari.Habitat merupakan salah satu faktor penting dalam perkembangbiakan tikus sawah. Oleh karena itu pemahaman tentang habitat tikus sawah sangat diperlukan dalam upaya pengendalian. Tikus sawah memilih habitat yang dapat memberikan perlindungan dari gannguan predator dan dekat dari sumber makanan dan air. Hasil penelitian Sudarmaji dkk. (2007) melaporkan bahwa di ekosistem sawah irigasi teknis ada lima habitat utama tikus sawah yaitu tepi kampung, tanggul irigasi, jalan sawah, parit sawah, dan tengah sawah. Habitat tepi kampung dan tanggul irigasi merupakan habitat yang paling disukai tikus sawah. Habitat tepi kampung merupakan tujuan tikus migrasi pada periode bera untuk memperoleh pakan alternative dan tempat berlindung sementara. Tanggul irigasi merupakan habitat penting tikus sawah yang merupakan habitat utama untuk berkembang biak.Faktor utama penyebab peningkatan populasi tikus sawah adalah tersedianya pakan yang berupa tanaman padi. Tanaman padi fase generative merupakan pakan tikus yang berkualitas tinggi dan sangat berpengaruh terhadap berat badan dan perkembangbiakan tikus. Tanpa tersedianya tanaman padi, tikus sawah tidak berkembangbiak dan mati. Ratun atau singgang merupakan pakan alternative penting bagi tikus padi sawah yang akan memperpanjang perkembangbiakan tikus. Oleh karena itu sanitasi lingkungan dari ratun atau singgang sangat penting guna memutus rantai makanan tikus agar populasi dapat menurun. c. PENGENDALIAN TIKUS SAWAHPengendalian tikus sawah pada dasarnya adalah usaha untuk menekan populasi tikus pada tingkat serendah mungkin dengan berbagai cara dan teknologi pengendalian. Mengingat banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan populasi tikus sawah dan tikus sawah menyerang tanaman padi mulai dari pesemaian sampai di penyimpanan, oleh karena itu dalam pengendaliannya harus didasarkan pada pemahaman ekologi tikus dan dilakukan secara terus menerus (berkelanjutan) dengan menggunakan teknologi yang sesuai dan tepat waktu. Kegiatan pengendalian harus dilakukan sedini mungkin (sebelum tanam), secara bersama-sama (berkelompok) dan terkoordinasi dalam skala luas (hamparan). Beberapa komponen teknologi dan metode pengendalian yang tersedia sampai saat ini adalah :1. Sanitasi lingkungan .Sanitasi lingkungan dan manipulasi habitat bertujuan untuk menjadikan lingkungan sawah menjadi tidak menguntungkan bagi kehidupan dan perkembanbiakan tikus. Kegiatan sanitasi lingkungan diantaranya adalah membersihkan lingkungan sekitar sawah seperti saluran irigasi, pematang, dan jalan sawah dari tanaman-tanaman perdu dan gulma yang memungkinkan sebagai sarang tikus, dan membersihkan turiang atau singgang dan sisa-sisa tanaman padi yang memungkinkan pakan alternatif tikus. Sanitasi lingkungan membuat tikus kehilangan tempat persembunyian dan sumber pakan alternatif terutama pada masa bera sehingga mengurangi peluang tikus hidup dan berkembang biak.2. Kultur Teknik.Pengaturan pola tanam bertujuan untuk membatasi atau memutus rantai makanan tikus sawah yang berupa tanaman padi guna membatasi perkembangbiakan tikus sawah di lapangan. Pola tanam padi- palawija atau padi- bera akan membatasi bahkan menghentikan aktifitas reproduksi tikus sawah. Nutrisi yang tersedia pada tanaman palawija diperkirakan kurang cocok bagi metabolism perkembangbiakan tikus sawah dibandingkan dengan nutrisi yang tersedia pada tanaman padi terutama pada tanaman padi stadium generatif.Pengaturan waktu tanam dan panen dalam satu hamparan diusahakan serempak, selisih waktu tidak lebih dari dua minggu. Pengaturan waktu tanam bertujuan agar periode generatif padi bersamaan waktunya. Apabila periode generatif tidak sama waktunya, maka tanaman yang bunting lebih awal akan mendapatkan serangan tikus paling berat. Waktu tanam yang tidak serempak pada suatu wilayah akan menghasilkan masa pertanaman generatif yang lebih panjang, sehingga masa perkembangbiakan tikus sawah juga menjadi lebih panjang. Hal ini menyebabkan populasi tikus meningkat secara cepat dan serangan pada tanaman padi akan terjadi lebih panjang dan terus menerus. Oleh karena itu, penanaman padi secara serempak pada skala luas dapat menekan populasi dan mencegah konsentrasi serangan tikus pada pertanaman padi terutama tanaman yang bunting lebih awal.Penanaman padi dengan jarak tanam yang lebih longgar/jajar legowo akan membuat lingkungan lebih terbuka yang kurang disukai tikus. Kondisi tempat yang bersih dan terang cenderung kurang disukai tikus karena kemungkinan tikus merasa lebih terancam terutama oleh musuh alaminya yang berupa predator. Hal ini diperlihatkan oleh serangan tikus sawah yang selalu dimulai dari tengah petak sawah dan biasanya menyisakan pertanaman dekat pematang.3. Gerakan bersama/Gropyokan massalGropyokan massal lebih efektif dilakukan sebelum atau pada awal tanam dengan melibatkan seluruh petani hamparan. Gropyokan dilakukan dengan berbagai cara untuk membunuh tikus , seperti pengemposan, penggalian sarang, penjeratan, pengoboran malam dan perburuan dengan anjing . Pengemposan atau fumigasi efektif membunuh tikus dewasa dan anak-anaknya yang berada di dalam sarang. Agar tikus mati, setelah difumigasi lubang sarang ditutup dengan tanah atau lumpur. Lakukan fumigasi selama masih ada lubang tikus terutama pada stadium generatif padi. Pada stadium generatif padi biasanya tikus berada di dalam lubang bersama anak-anaknya, sehingga fumigasi lebih efektif.4. Penggunaan Bubu PerangkapSistem bubu perangkap (Trap Barrier System = TBS) merupakan salah satu teknik pengendalian tikus sawah yang dapat menangkap tikus dalam jumlah banyak dan terus menerus dari awal tanam sampai panen, terutama di daerah endemik tikus dengan tingkat populasi tinggi dan tanam serempak. System TBS terdiri atas tanaman padi sebagai perangkap atau umpan tikus, pagar plastik, dan bubu perangkap sebagai alat penangkap tikus. Tanaman perangkap berukuran 20 m x 20 m, ditanam 2-3 minggu lebih awal dari pada tanaman padi sekelilingnya dapat mengamankan pertanaman padi disekitarnya seluas 15 ha. Tanam lebih awal dimaksud untuk menarik tikus disekitarnya untuk mendatangi tanaman perangkap. Pagar plastik dapat dibuat dari plastik bening (0,8 mm), plastik mulsa, atau plastik terpal dipasang dengan tinggi 60-70 cm mengelilingi tanaman perangkap. Pagar plastik ditegakkan dengan ajir bambu tiap jarak 1 m dan ujung bawah terendam air dalam parit (Gambar 2). Lebar parit 40-50 cm, usakan parit selalu terisi air agar tikus tidak melubangi pagar, parit tidak ditanami padi, dan bersih dari gulma agar tidak digunakan untuk memanjat tikus. Bubu perangkap dibuat dari ram kawat, berbentuk kotak berukuran 40cm x 20cm x 20cm, dilengkapi corong/pintu masak tikus di bagian depan, dan pintu belakang untuk mengeluarkan tikus. Bubu perangkap dipasang di bagian tengah pada tiap sisi (Gambar 3). Untuk mengarahkan tikus supaya masuk ke pintu bubu dapat difasilitasi dengan dibuatkan jembatan tikus yang terbuat dari ajir bambu yang menghubungkan antara pematang parit menuju ke pintu bubu perangkap Admin Kab. BimaHartanto Ts. SPt. MM (PP Madya)