Loading...

Mengkaji Sistem Tanam Jajar Legowo Dari Aspek Teknis Dan Produktivitas

Mengkaji Sistem  Tanam Jajar Legowo  Dari Aspek Teknis Dan Produktivitas
Dalam rangka menyukseskan UPSUS Pajale, Pemerintah telah mencanangkan gerakan nasional tanam jajar legowo Padi Inbrida tahun 2016. Pada tahun ini, Kabupaten Tegal bahkan mendapat jatah alokasi tanam padi jajar legowo seluas 3.000 ha. Teknologi tanam sistem jarwo ini telah direkomendasikan oleh Balitbangtan sebagai salah satu paket teknologiPengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) agar diterapkan petani, karena mampu memberikan keuntungan buat petani. Sistem tanam jajar legowo merupakan sistem tanam yang memperhatikan larikan tanaman dan merupakan tanam berselang seling antara dua atau lebih baris tanaman padi dan satu baris kosong. Tujuannya, agar populasi tanaman per satuan luas dapat dipertahankan bahkan dapat ditingkatkan. Cara tanam ini pertama kali diperkenalkan oleh Bapak Legowo, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Pada prinsipnya, sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan populasi dengan cara mengatur jarak tanam. Legowo diambil dari bahasa Jawa yang berasal dari kata “lego” berarti luas dan “dowo” bermakna memanjang. Sistem tanam ini juga memanipulasi tata letak tanaman, sehingga rumpun tanaman sebagian besar menjadi tanaman pinggir.. Ada beberapa tipe cara tanam sistem jajar legowo yang secara umum dapat dilakukan yaitu ; tipe legowo (2:1), (3:1), (4:1), (5:1), (6:1) dan tipe lainnya yang sudah ada serta telah diaplikasikan oleh sebagian masyarakat petani di Indonesia. Tipe sistem tanam jajar legowo terbaik dalam memberikan hasil produksi gabah tinggi adalah tipe jajar legowo (4:1) sedangkan dari tipe jajar legowo (2:1) dapat diterapkan untuk mendapatkan bulir gabah berkualitas benih (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2010). Penelitian jajar legowo telah dilakukan sejak tahun 2000. Dari hasil penelitian membuktikan, salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah jarak tanam. Jarak tanam yang rapat mengakibatkan persaingan antar individu tanaman. Persaingan terjadi karena sinar matahari yang diterima sedikit. Akibatnya, varietas pada umumnya tidak tumbuh optimal. Pertumbuhan yang kurang optimal ditunjukkan dari jumlah anakan dan malai yang lebih sedikit. Selain itu, panjang malai lebih pendek, dan jumlah gabah per malai berkurang. Hal tersebut diperkuat dengan fakta di lapangan bahwa penampilan individu tanaman padi pada jarak tanam lebar lebih bagus dibandingkan jarak tanam rapat. Namun demikian, beberapa faktor juga mempengaruhi diterapkannya tanam jajar legowo di suatu wilayah adalah: (1) ketersediaan tenaga kerja, (2) ketersediaan benih, (3) kemudahan operasional di lapang (ada/tidak ada lorong),(4) penyuluhan tentang jarak tanam, dan (5) kondisi wilayah (keadaan drainase, endemik keong mas, dll). Untuk itu, sistem tanam jajar legowo perlu dikaji keunggulanya dilihat dari aspek fisiologis, aspek agronomis, aspek proteksi tanaman, aspek sosial ekonomis dan aspek produktivitas. Berikut ini pembahasan masing-masing aspek tersebut: Aspek Fisiologis Proses fiologis tanaman membutuhkan kondisi lingkungan yang optimal. Jarak tanam dan orientasi tanaman di lapang mempengaruhi enam proses penting yaitu (1) penangkapan radiasi surya oleh tanaman untuk fotosintesis, (2) penyerapan hara oleh akar, (3) kebutuhan air tanaman, (4) sirkulasi CO2 dan O2 hasil fotosintesis,(5) ketersediaan ruang yang menentukan populasi gulma, dan (6) iklim mikro di bawah kanopi, yang berpengaruh terhadap perkembangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Penggunaaan jarak tanam pada dasarnya adalah memberikan kemungkinan tanaman untuk tumbuh dengan baik tanpa mengalami banyak persaingan dalam hal mengambil air, unsur-unsur hara, dan cahaya matahari. Jarak tanam yang tepat penting dalam pemanfaatan cahaya matahari secara optimal untuk proses fotosintesis. Dalam jarak tanam yang tepat, tanaman akan memperoleh ruang tumbuh yang seimbang (Warjido et al. 1990). Hasil penelitian jarak tanam di Indonesia dilaporkan Pratiwi et al. (2010) menyimpulkan bahwa jarak tanam lebar memberi peluang varietas tanaman mengekspresikan potensi pertumbuhannya. Semakin rapat populasi tanaman, semakin sedikit jumlah anakan dan jumlah panjang malai per rumpunnya. Pada populasi rendah (jarak tanam lebar), keragaan rumpun padi besar, namun perluasannya hasil dan komponen hasilnya lebih rendah dibandingkan jarak tanam yang lebih rapat. Jarak tanam yang lebar akan meningkatkan penangkapan radiasi surya oleh tajuk tanaman, sehingga meningkatkan pertumbuhan tanaman seperti jumlah anakan produktif, volume dan panjang akar total, meningkatkan bobot kering tanaman dan bobot gabah per rumpun, tetapi tidak berpengaruh terhadap hasil persatuan luas (Kurniasih et al . 2008, Lin et al. 2009, Hatta et al. 2012). Sebaliknya, pada jarak tanam rapat jumlah malai per rumpun menurun, tetapi jumlah malai per m2 nyata meningkat (Mobasser et al., 2009),Kelemahan tanam rapat, termasuk jajar legowo,adalah senyawa fenolat yang bersifat allelopati dalam jerami dan akar tanaman. Rauf et al., (2005) melaporkan,dari 10 varietas padi yang diuji memiliki asam fenolat dalam tanaman berkisar antara 260 ppm (pada varietas IR64) hingga 777 ppm (pada varietas Merning) yang berpotensi menjadi penghambat pertumbuhan tanaman pada jarak tanam rapat, maupun residunya bagi pertanaman berikutnya. Wu et al., (1999) menambahkan bahwa jenis padi Javanica dan padi beras merah memiliki senyawa alelo kimia yang tinggi sehingga tidak sesuai untuk tanam rapat. Pada sistem pertanaman rapat, termasuk sistem tanam jajar legowo, persaingan perakaran tanaman dalam penyerapan air dan hara berlangsung intensif. Oleh sebab itu, varietas padi yang toleran kekeringan atau adaptif pada tanah dengan tingkat kesuburan rendah berpotensi menghasilkan gabah yang lebih tinggi pada cara tanam jajar legowo dibandingkan dengan cara tegel. Varietas padi yang relatif toleran kekeringan dapat diketahui secara cepat berdasarkan uji daya tembus akar ke lapisan lilin.Varietas-varietas tersebut antara lain Gajahmungkur,Towuti dan IR64 (Lestari et al., 2005, Suardi dan Moeljopawiro 1999).Menurut Sohel et al. (2009), jarak tanam yang optimum akan memberikan pertumbuhan bagian atas tanaman dan pertumbuhan bagian akar yang baik sehingga dapat memanfaatkan lebih banyak cahayamatahari serta memanfaatkan lebih banyak unsur hara.Sebaliknya, jarak tanam yang terlalu rapat akan mengakibatkan terjadinya kompetisi antar tanaman yangsangat hebat dalam hal cahaya matahari, air, dan unsur hara. Akibatnya, pertumbuhan tanaman terhambat dan hasil tanaman rendah. (Ikhwani, et al., 2012) Aspek Agronomis Dari aspek agronomis, Menurut Ikhwani, et al (2012) sistem tanam jajar legowo memanipulasi tata letak tanaman, sehingga rumpun tanaman sebagian besar menjadi tanaman pinggir. Tanaman pinggir akan memperoleh sinar matahari lebih banyak,sirkulasi udara yang lebih baik, dan tanaman akan memperoleh unsur hara yang lebih banyak dibandingkan dengan cara tanam tegel (Mujisihono et al.dalam Yunizar et al. 2012). Populasi yang lebih tinggi pada sistem tanam jajar legowo memberi peluang untuk mendapatkan hasil yang tinggi. Keragaan varietas pada jarak tanam lebar(40cm x 40cm) berbeda dibandingkan dengan jarak tanam rapat terutama pada jumlah malai (Suhartatik et al. 2011) Dari aspek teknis budidaya, adanya lorong kosong pada sistem legowo mempermudah pemeliharaan tanaman, seperti pengendalian gulma dan pemupukan dapat dilakukan dengan lebih mudah. Menurut Salahuddin et al. (2009),jarak tanam mempengaruhi panjang malai, jumlah bulir per malai, dan hasil per ha tanaman padi.Selain memiliki beberapa manfaat, sistem tanam jajar legowo juga memiliki beberapa kelemahan yaitu: Membutuhkan tenaga tanam yang lebih banyak dan waktu tanam yang lebih lama. Membutuhkan benih yang lebih banyak dengan semakin banyaknya populasi. Biasanya pada bagian lahan yang kosong di antara barisan tanaman akan lebih banyak ditumbuhi rumput Aspek Proteksi Tanaman Prinsip pengendalian hama secara bercocok tanam adalah menciptakan kondisi agro ekosistem tidak sesuai untuk kehidupan dan perkembangbiakan hama tanaman. Sehingga dapat nengurangi laju peningkatan populasi hama. Selain itu juga menciptakan kondisi lingkungan yang sesuai untuk perkembangan musuh alami. Pengendalian hama secara bercocok tanam merupakan tindakan preventif atau pencegahan sehingga harus dilakukan jauh-jauh sebelum ada serangan hama. Sistem jajar legowo memudahkan petani dalam pemupukan susulan, penyiangan, pelaksanaan pengendalian hama dan penyakit, serta lebih mudah dalam mengendalikan hama tikus. Aspek Sosial-Ekonomis Apabila menggunakan tenaga manusia, cara tanam jajar legowo memerlukan waktu lebih lama dibandingkan dengan tanam cara tegel, minimal 1,5 kali. Hal ini disebabkan oleh lebih banyaknya benih yang harus ditanam atau spot yang harus ditanami pada cara jajar legowo. Jumlah benih yang digunakan juga lebih banyak sekitar 1,5 kali. Apabila harga benih Rp 20.000/kg maka cara jajar legowo yang menggunakan benih 30 kg/hamemerlukan modal untuk benih sebesar Rp 600.000,sedangkan dengan cara tanam tegel 20 kg x Rp 20.000/kg = Rp 400.000. Dengan demikian, cara jajar legowomemerlukan modal untuk benih Rp 200.000 lebih banyak. Kelebihan upah tenaga pada cara tanam jajar legowo dibandingkan tegel adalah 1,5 x 7 HOK/ha x Rp 35.000/ha = Rp 367.500/ha, sehingga total input dari tanam carajajar legowo lebih besar Rp 567.500. Ini berarti hasil gabah dari cara tanam jajar legowo minimal harus lebih besarRp 567.500 dibagi Rp 4.000/kg atau 142 kg gabah lebih tinggi dibandingkan dengan cara tanam tegel, dengan asumsi harga jual gabah Rp 4.000/kg,( Ayudya ,et al . 2012) Pada daerah dimana tenaga kerja kurang atau kecepatan kerja petani/buruh tani rendah, maka tanam jajar legowo lebih sulit diadopsi petani. Pada daerah seperti ini perlu diintroduksi mesin tanam, baik tanam benih langsung maupun tanam pindah (bibit). Namun dari segi penggunaan tenaga kerja dalam pemeliharaan tanaman , cara tanam jajar legowo akan memudahkan tenaga kerja dalam perawatan tanaman, seperti pemupukan, penyiangan, penyemprotan hama penyakit dan gulma yang dapat dilakukan secara lebih cepat dan efektif. Aspek Produktivitas Padi Pengaruh sistem tanam padi sebagai salah satu komponen budi daya yang berpengaruh terhadap hasil dan pendapatan, ternyata kompleks (Makarim et al. 2005. Banyak penelitian menunjukkan bahwa semakin rapat jarak tanam atau semakin banyak populasitanaman per satuan luas semakin menurun kualitasrumpun tanaman, seperti menurunnya jumlah anakan dan jumlah malai per rumpun. Hal ini akibat semakin besarnya persaingan antar rumpun padi dalam penangkapan radiasi surya, penyerapan hara dan air, serta semakin optimalnya lingkungan bawah kanopi bagi perkembangbiakan penyakit. Penelitian Abdurahman et al (2011) menunjukan bahwa pada pertanaman jajar legowo 2:1 dengan jarak tanam (25 x 12,5 x 50) cm mampu meningkatkan hasil antara 9,63 -15,44% dibanding model tegel (Sinta, 2015). Laporan hasil penerapan jajar legowo di Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa pada sawah beririgasi teknis menunjukan hasil gabah kering mencapai 8,5 t/ha lebih tinggi dibanding sitem tegel yang hanya mencapai 6,36 t/ha. (Sinta,2015). Hasil penelitian dari Melasari dan Supriana, Ginting menunjukkan bahwa Sistem tanam jajar legowo dapat meningkatkan produktivitas petani sebesar 6.485,17 Kg/Ha dengan pendapatan sebesar Rp. 11.627.931,11; sedangkan dengan menggunakan sistem tanam non jajar legowo menghasilkan produktivitas sebesar 5.573,11 Kg/Ha dengan pendapatan sebesar Rp. 9.839.868,83.Produktivitas usaha tani yang menggunakan sistem tanam jajar legowo (6.485,13 Kg/Ha) lebih tinggi dibandingkan dengan produktivitas pada sistem tanam non jajar legowo (5.573,13 Kg/Ha); sedangkan pendapatan pada sistem tanam jajarlegowo ( Rp. 11.627.931) lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan pada sistem tanam non jajar ( Rp. 9.839.869). Berdasarkan analisis aspek-aspek yang dibahas diatas, sistem tanam jajar legowo merupakan bentuk inovasi dalam bidang pertanian. Selain mampu meningkatkan hasil produksi, sistem tanam ini juga menghemat biaya operasional, Jika melihat produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan sistem konvensional, maka inovasi ini sangat membantu program pemerintah dalam mewujudkan upsus Pajale guna mencapai swasembada padi. Daftar Pustaka Anonim, (2012) Berkat Si Jarwo, Panen Padi Berlimpah Ruah. [Berita]. Majalah Sains Indonesia, Edisi 12,Desember 2012, h. 39-45.Berlatih Menanam Sistem Jarwo. [Berita]. Kedaulatan Rakyat.http://www.krjogja.com/read/154615/berlatih. menanam-sistem-jarwo.kr (diaksestanggal 27 Mei 2013). Ikhwani, Gagad Restu Pratiwi, Eman Paturrohmandan A.K. Makarim. Peningkatan Produktivitas Padi Melalui PenerapanJarak Tanam Jajar Legowo .Jurnal Iptek Tanaman Pangan Vol.8 No 2 201372 Ishaq, Iskandar dkk. 2013. Adopsi Jarwo telah sampai ke Lahan Sawah Cianjur Selatan.http://www.jabar.litbang.deptan.go.id(diakses tanggal 27 Mei 2013). Melasari A., T.A Supriana, R. Ginting (2012). Analisis Komparasi Usahatani Padi Sawah Melalui Sistem Tanam Jajar Legowo Dengan Sistem Tanam Non Jajar Legowo(Studi Kasus: Desa Sukamandi Hilir, Kecamatan Pagar Merbau,Kabupaten Deli Serdang) http://portal garuda.com Sinar tani .Jarwo Komponen Teknologi Penciri PTT Penunjang Peningkatan Hasil Padi Sawah. [Berita].Sinar Tani, Edisi 19-25 Desember 2012, h. 6-9. Johar Firdaus,SP