Loading...

MENGUKUR PRODUKTIVITAS DENGAN KEGIATAN UBINAN PADI

MENGUKUR PRODUKTIVITAS DENGAN KEGIATAN UBINAN PADI

Pengambilan ubinan merupakan salah satu cara memprediksi jumlah produksi padi yang masih ada di lahan melalui penentuan sampel, pengukuran dan penimbangan. Dalam ilmu statistika ubinan digunakan sebagai contoh/sampel. Kegiatan Ubinan merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh PPL (penyuluh pertanian) untuk mendapatkan informasi tentang produksi pada tanaman pangan yang akurat dan menggambarkan kondisi terkini. 

Perkiraan hasil panen tanaman padi atau palawija melalui titik sampel dengan cara diukur dengan ukuran 2,5 x 2,5 m² yang kemudian diukur dan ditimbang hasilnya. Hasil inilah yang dapat dijadikan dasar dalam produksi produksi dalam 1 Ha. Tujuan dari pengambilan sampel ubinan ini adalah untuk mengetahui perkiraan hasil produksi tanaman dalam luasan 1 Ha. 

Secara garis besar adapun langkah – langkah dalam pengambilan ubinan yaitu: 

  1. Menentukan petak sawah/lahan yang akan dilakukan pengambilan ubinan. 

  2. Minimal mengambil 2 titik berbentuk ubinan berukuran 2,5m x 2,5m per hektar sawah/lahan padi. 

  3. Beri tanda hasil pengukuran dari kedua lokasi tersebut menggunakan ajir/tali. 

  4. Memotong padi hasil ubinan dalam petakan yang telah diukur. 

  5. Memisahkan bulir padi dari batangnya. 

  6. Menimbang padi hasil ubinan.

Pada 24 Juni 2025, dilakukan kegiatan ubinan pada budidaya padi di Kelurahan Talang Mandi periode tanam April-Juli di lahan Kelompok Tani Makmur. Kegiatan ubinan ini dilakukan oleh petani dengan pendampingan Penyuluh Pertanian Lapangan dan POPT. Kelurahan Talang Mandi dengan luas tanam 9 hektar yang membudidayakan padi varietas Impari 32 memiliki hasil rata-rata jumlah rumpun sebanyak 107 rumpun dengan 14 anakan per rumpun. Hasil rerata berat yang diperoleh Adalah 2.506 gram per plot sehingga menunjukkan angka produktivitas sebesar 4,008 ton per hektar.

Kendala yang dihadapi pada budidaya padi di Kecamatan Mandau adalah keadaan cuaca yang sangat ekstrim dan juga kurangnya sarana dan prasarana yang dimiliki petani, misalnya dengan semakin meningkatnya harga pupuk maka petani hanya melakukan pemupukan seadanya artinya petani tidak melakukan pemupukan sesuai anjuran. Serangan hama dan penyakit tanaman juga dihadapi petani seperti hama keong, hama walang sangit, hama penggerek batang dan lainnya.

(Rizki Aprelia, Juni 2025)