Artikel MENINGKATKAN POTENSI HASIL TANAMAN BUAH DURIAN (durio zibethinus) Oleh : JODOYO SIMANJUNTAK PPL WKPP Pasaribu Tobing Kecamatan Pasaribu Tobing BALAI PENYULUHAN PERTANIAN HITEURAT KECAMATAN SORKAM DINAS PERTANIAN KABUPATEN TAPANULI TENGAH PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2019 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmatNya sehingga artikel dengan judul “Meningkatkan Potesi Hasil Tanaman Buah Durian” ini dapat ditulis dengan baik. Artikel ini ditulis oleh penyuluh WKPP Pasaribu Tobing yang sebahagian besar diambil dari bahan pustaka hasil-hasil Penelitian para Ahli dan akan digunakan sebagai referensi dan pembanding untuk petani-petani lokal agar dapat memperbaiki potensi hasil tanaman durian lokal yang ada di Wilayah Kerja Pasaribu Tobing khususnya dan WKBPP Hiteurat pada umumnya. Terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang telah berperan dalam memberikan masukan sehingga Artikel ini dapat tersusun. Demikian juga penulisan Artikel ini masih tak lepas dari kekurangan , untuk itu kami mengharapkan masukan demi kesempurnaan yang lebih baik lagi di kemudian hari. Pasaribu Tobing, 14 Januari 2019 Penulis, JODOYO SIMANJUNTAK BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Durian merupakan buah yang memiliki daya tarik kuat dan menjadi idaman karena cita rasanya yang istimewa. Tetapi seringkali konsumen kecewa karena kualitas daging buah tidak seperti yang diharapkan. Daging buah yang hambar dan mengkal biasanya ditemukan pada durian yang berukuran buah besar seperti Monthong. Redahnya kualitas daging buah ini disebabkan oleh beberapa faktor. Antara lain defisiensi unsur hara, kekurangan air dan hama penyakit. Rumusan Masalah Redahnya kuantias dan kualitas daging buah ini disebabkan oleh beberapa faktor. Antara lain defisiensi unsur hara, kekurangan air dan hama penyakit. Oleh karena, untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas buah durian perlu dilakukan teknik budidaya durian secara tepat antara lain: Pemupukan tepat dan berimbang dan pengaturan jumlah bunga dan bakal buah. BAB II PEMBAHASAN Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas buah durian perlu dilakukan teknik budidaya durian secara tepat antara lain sebagai berikut : Pemupukan tepat dan berimbang Pemupukan durian masa produksi dapat dibagi dua, yaitu: 1) pemupukan utama, menggunakan pupuk makro, kompos, dan kapur pertanian, 2) pemupukan tambahan untuk keperluan tertentu. Pemupukan utama dapat dilakukan 3x dalam setahun, yang pertama setelah masa panen puncak, kedua sebelum masa berbunga, dan ketiga saat pembesaran buah. Masa panen puncak digunakan sebagai patokan saat pemupukan karena musim buah durian berbeda-beda di setiap lokasi zona agroekosistem. Kadang juga terjadi pergeseran musim berbuah karena pengaruh pergeseran iklim. Aplikasi pupuk utama, terdiri atas: Pemupukan I.Dilaksanakan setelah semua buah dipanen. Sebelum aplikasi pupuk, dilakukan pemangkasan tunas-tunas air dan cabang serta ranting yang sakit dan yang terlalu rimbun. Selanjutnya dilakukan pemberian 2-2,5 kg/m2 kompos atau pupuk kandang, 50-100 gram/m2 kapur pertanian (dolomit) dan 15-25 gram/m2 Pemupukan II. Dilaksanakan sekitar 4 bulan setelah pupuk pertama, atau pada akhir musim hujan dan diperkirakan 1-2 kemudian musim berbunga. Pemupukan pada saat ini berfungsi menyiapkan nutrisi untuk pembentukan bunga. Pupuk yang diberikan mengandung unsur P tinggi, K sedang dan N sangat rendah, yaitu 15-20 gram/m2SP-36 dan 7-10 gram/m2 Pemupukan III. Dilaksanakan sekitar 4 bulan setelah pupuk kedua, atau pada pertengahan masa pembesaran buah sekitar 60-75 hari setelah bunga mekar. Pemupukan pada saat ini berfungsi menyiapkan nutrisi untuk pengisian buah. Pupuk yang diberikan mengandung unsur P sedang, K tinggi dan N sangat rendah atau nol, yaitu 3-6 gram/m2SP-36 dan 7-10 gram/m2 Dosis pupuk utama diberikan bergantung kondisi tanaman. Tanaman dalam kondisi baik dan subur digunakan dosis batas bawah, sebaliknya tanaman dalam kondisi kurang baik digunakan dosis batas atas. NPK yang digunakan berupa kombinasi 16:16:16 atau 15:15:15 dan diusahakan mengandung unsur Sulfur (S), bila tidak ada, dapat diganti dengan bubuk belerang sebanyak 5% dari dosis NPK pada Pemupukan I. Aplikasi pupuk kandang/kompos dilakukan dengan cara tabur merata dibawah tajuk tanaman dan aplikasi NPK bisa ditabur atau di benam dalam beberapa lubang dangkal yang dibuat dengan tugal atau cangkul. Sebaiknya dihindari memupuk dengan menggali parit sekeliling tajuk, karena dapat merusakkan akar dan menjadi pintu masuk penyakit tular tanah. Aplikasi pupuk tambahan, terdiri atas: Pupuk daun tipe D, untuk pertumbuhan vegetatif. Diaplikasikan dengan cara semprot pada daun setelah tanaman mengalami pertunasan. Bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kesehatan daun, sehingga reaksi fotosintesis dapat berjalan optimal. Pupuk daun tipe B, untuk pertumbuhan generatif (bunga dan buah). Diaplikasikan dengan cara semprot pada bunga dan daun pada saat mulai muncul bunga sebesar mata kepiting (stadia I) dan diulang setiap 10 hari atau 14 hari sampai buah masak fisiologis (2 minggu sebelum panen). Pupuk yang digunakan dipastikan mengandung Boron (Bo). Kalium Nitrate (KNO3) dan Kalsium Nitrate (CaNO3),untuk peningkatan kualitas rasa, tekstur, dan warna daging buah. Masing-masing sebanyak 50 gram dilarutkan dalam 20 liter air, diaplikasikan dengan cara disemprot pada daun atau disiramkan di area perakaran pada satu bulan sebelum panen (75-90 hari setelah bunga mekar). Pengaturan jumlah bunga dan bakal buah Pengaturan jumlah bunga dan bakal buah bertujuan untuk mendapatkan jumlah buah yang optimal dan sebanding dengan kemampuan tanaman menopang beban buah. Tahap awal sebelum pengaturan bunga dan bakal buah, ditetapkan target jumlah buah per pohon. Misalnya ditargetkan 15 ton/ha, jumlah tanaman 100 batang, maka setiap pohon ditargetkan hasil akhirnya 150 kg/pohon. Bila satu buah beratnya 2 kilo maka jumlah buah akhir adalah 75 buah per pohon, bila berat per buah 5 kg (misalnya Monthong) maka ditargetkan jumlah buah 30 buah/pohon. Target 15 ton ini untuk tanaman yang sudah dewasa berumur diatas 10 tahun dengan penutupan tajuk sudah >80% terhadap luas lahan. Bila tanaman lebih muda maka target dibuat lebih rendah. Selanjutnya pengelolaan bunga dan bakal buah dilakukan berdasar fase perkembangan tanaman sebagai berikut: Stadia bunga II (elongasi; bunga sebesar batang korek api) mulai dilakukan pengurangan bunga (thining), terutama bunga-bunga di ujung cabang dan yang tumbuh di cabang kecil (diameter <3 cm). Pada dua lokasi ini diusahakan tidak ada bunga, karena kalau menjadi buah kualitasnya rendah. Stadia bunga III (bunga mekar sampai kelopak bunga lepas), dilakukan pengurangan jumlah bunga pada cabang produksi. Pengurangan dilakukan terhadap dompolan yang terlalu rapat dan kuntum bunga yang beda umur terlalu jauh. Maka dipilih bunga yang seumuran atau selisih mekar 1-2 hari. Masing-masing dompol disisakan maksimal 8 kuntum. Setelah pengurangan bunga dilakukan penyemprotan akarisida untuk menghindari serangan kutu yang menyebabkan buah abnormal. Stadia buah I (seukuran kelereng sampai sebesar telur) dilakukan pengurangan terhadap buah yang tidak normal atau terserang hama/penyakit. Setiap dompol disisakan maksimal 4 buah. Selanjutnya dilakukan aplikasi karbofuran sebanyak 20 gram/pohon ditabur di sekitar batang atau dilakukan pembungkusan buah untuk mencegah penggerek buah menyerang secara dini. Stadia buah II (seukuran bola tenis sampai takraw), dilakukan penjarangan lagi dengan menyisakan 1-2 buah per dompol. Pada stadia ini jumlah buah sudah mendekati jumlah yang ditargetkan di awal. Disamping aplikasi pemupukan dan pengaturan jumlah bunga dan bakal buah, perlu juga diterapkan teknologi pendukung agar produksi dapat berkesinambungan, yaitu: Menyediakan sarana irigasi yang memadai Tanaman durian hampir memerlukan air sepanjang tahun, dengan rata-rata 3-5 liter/m2/hari. kecuali pada 2 waktu yaitu: satu bulan menjelang muncul bunga (stressing) dan saat pemasakan buah (2-4 minggu menjelang panen). Bila terjadi kekurangan air selain pada kedua waktu tersebut akan berakibat pada menurunnya kualitas buah. Oleh karena itu, keberadaan sarana irigasi sangat penting di kebun durian. Pengairan dapat berupa aliran, spray jet, springkle, atau tetes. Sumber air dapat berupa sumur, sungai, atau air hujan yang ditampung dalam embung. Drainase lahan Perlu dibuat parit yang cukup dan setiap titik tanam dibuat guludan atau kenongan yang besar dan cukup tinggi sedemikian hingga air hujan tidak menggenangi tanaman. Kondisi tanah yang terlalu basah saat pemasakan buah berakibat buah becek/lembek. Pemangkasan dini untuk mengatur arsitektur tanaman Arsitektur tanaman sudah dibentuk sejak tanaman dalam bentuk benih dan diikuti secara berkala setelah ditanam sampai tanaman berumur produktif. Sehingga tajuk terdistribusi secara merata dan penerimaan intensitas matahari lebih optimal serta percabangan tanaman teratur dan mampu menopang buah secara baik. BAB III KESIMPULAN Selain Pemupukan tepat dan berimbang dan pengaturan jumlah bunga dan bakal buah, untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas buah durian perlu dilakukan teknik budidaya durian secara tepat yaitu antara lain Menyediakan sarana irigasi yang memadai, Drainase lahan dan juga Pemangkasan dini untuk mengatur arsitektur tanaman. Demikian artikel singkat ini, semoga bermanfaat dan bisa digunakan sebagai referensi untuk petani dan masyarakat yang membutuhkannya.