Loading...

Meningkatkan Produktivitas Padi Dengan Pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu di Rawa Lebak

Meningkatkan Produktivitas Padi Dengan Pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu di Rawa Lebak
PENDAHULUAN Kebutuhan pangan khususnya beras terus mengalami peningkatan, seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Keadan ini tidak cukup hanya mengandalkan produksi padi dari lahan sawah beririgasi dan tadah hujan, selain luas lahan tersebut semakin berkurang akibat alih fungsi lahan dan juga produktivitasnya sulit untuk ditingkatkan. Salah satu solusinya adalah pemanfaatan lahan rawa untuk dikembangkan menjadi salah satu sentra produksi padi. Pada umumnya produktivitas padi di lahan rawa masih rendah yaitu 2,9“3,5 ton/ha, salah satu penyebabnya petani belum menerapkan komponen pengelolaan tanaman terpadu (PTT). Penerapan komponen PTT padi di lahan rawa berpotensi dapat meningkatkan produktivitas mencapai 7 ton/ha. KOMPONEN PTT PADI LAHAN RAWA 1. Varietas Unggul BaruPenggunaan varietas unggul baru (VUB) dapat meningkatkan produktivitas padi rawa.VUB dapat memberikan hasil lebih tinggi dibandingkan dengan varietas yang terbiasa ditanam petani, bentuk gabah dan rasa nasi sesuai dengan selera masyarakat setempat dan permintaan pasar. VUB yang dianjurkan adalah Inpara 2 dan Banyuasin, dengan potensi hasil 6,5 “ 7,5 ton/ha. 2. Benih BermutuPenggunaan benih bersertifikat dan bermutu akan menghasilkan bibit yang sehat, pertumbuhannya seragam, tumbuh lebih cepat dan tegar serta akan memperoleh hasil yang lebih tinggi. Benih bersertifikan belum tentu bermutu, oleh karenanya sebelum disemai, direndam dalam larutan garam 20 gram/liter air. Benih yang tenggelam dibilas dengan air untuk menghilangkan larutan garam.Benih direndam selama 24 jam dan setelah itu ditiriskan selama 48 jam, kemudian disemai. 3. Persemaian Bedengan persemaian dibuat dengan lebar 1- 1,2 m, panjang sesuai dengan kebutuhan.Luas persemaian kurang lebih 400 m2 /ha, cukup ditebari benih 20 “ 25 kg. Penyiapan lahan persemaian diberi pupuk organik sebanyak 2 kg/ m2 4. Umur Bibit Muda. Bibit muda kurang dari 21 hari setelah sebar lebih tahan terhadap stres akibat pencabutan bibit, pengangkutan dan penanaman kembali, dibandingkan dengan bibit yang lebih tua. Selain itu dengan bibit muda pertumbuhannya lebih cepat dan jumlah anakannya lebih banyak. 5. Jumlah Bibit dan Sistem TanamJumlah bibit yang ditanam 1“3 batang/ rumpun.Rumpun yang hilang atau mati atau rusak karena hama segera disulam paling lambat 14 hari setelah tanam. Peningkatan populasi tanaman dilakukan dengan sistem tanam jajar legowo 2:1, atau 4:1 (12,5 x 25 x 50 cm). Jumlah rumpun tanaman yang optimal akan menghasilkan populasi tanaman lebih banyak dan subur, sehingga berpeluang besar untuk mendapatkan hasil yang lebih tinggi. 6. Pemupukan Spesifik Lokasi Pemupukan spesifik lokasi merupakan pemupukan sesuai dengan kebutuhan tanaman.Pemupukan N (Urea) berdasarkan bagan warna daun (BWD), P (SP-36) dan K (KCl) berdasarkan status hara tanah dengan menggunakan perangkat uji tanah rawa (PUTR). Penggunaan pupuk organik 1000-2000 kg/ha, kapur 1000 - 1500 kg/ha diberikan satu kali dalam dua musim yaitu pada musim tanam kemarau pada saat pengolahan tanah. Pemberian pupuk kimia dilakukan 3 kali, yakni pemupukan dasar pada saat umur tanaman maksimal 14 hari setelah tanam yaitu 75 kg Urea, SP-36 dan KCl sesuai dengan status hara dalam tanah. Pemupukan susulan I (Urea) berdasarkan BWD saat tanaman berumur 23 - 28 hari, dan susulan II saat umur tanaman 38 “ 45 hari. 7. Pengendalian Gulma Pengendalian gulma dilakukan dengan cara terpadu, yaitu kombinasi antara cara mekanis seperti gasrok atau landak dengan herbisida.Penggunaan gasrok sangat dianjurkan, karena dapat meningkatkan udara di dalam tanah dan merangsang pertumbuhan akar padi lebih baik sehingga jumlah anakan lebih banyak. 8. Pengendalian Hama dan PenyakitMasalah yang sering muncul dalam budidaya padi dilahan rawa adalah gangguan hama dan penyakit yang dapat mengakibatkan kerugian dan bahkan gagal panen. Hama utama yang sering timbul adalah kepinding tanah, penggerek batang padi, wereng batang coklat dan tikus. Penyakit utama yang sering timbul adalah blas, kresek dan bercak coklat. Pengendalian yang dilakukan dengan sistem terpadu, yaitu memanfaatkan perpaduan semua teknik yang dapat menekan populasi hama dan penyakit di bawah ambang ekonomi yaitu kombinasi cara mekanis dan kimia. 9. Panen dan Pasca Panen Panen dilakukan pada saat 95 % gabah menguning dengan menggunakan sabit bergerigi. Panen terlalu awal gabah hampa, gabah hijau, dan butir kapur lebih banyak. Panen terlalu lambat kehilangan hasil lebih tinggi, karena banyak gabah rontok pada saat di lapangan dan dalam proses penggilingan jumlah gabah yang patah lebih banyak. Perontokan gabah segera dilakukan, paling lambat 1-2 hari setelah panen, menggunakan mesin perontok/Powertresher.Untuk mendapatkan mutu gabah dan harga yang lebih tinggi, gabah secepatnya dijemur.Penulis: Kiswanto dan Bambang Wijayanto