Loading...

MIKROORGANISME LOKAL (MOL) BONGGOL PISANG SEBAGAI SUMBER HAYATI MULTIFUNGSI

MIKROORGANISME LOKAL (MOL) BONGGOL PISANG SEBAGAI SUMBER HAYATI MULTIFUNGSI
BPP Kecamatan Kebumen terus menggalakan pemanfaatan sumber daya yang tersedia di sekitar sebagai bahan-bahan organik yang dapat dimanfaatkan untuk penopang usaha tani baik sebagai pupuk maupun pestisida organik. Masing-masing wilayah dengan potensi yang tidak selalu sama menjadi sumber variasi kekayaan lokalita yang sudah seharusnya mendorong kreativitas para pelaku di bidang pertanian baik secara langsung maupun tidak langsung. Pelatihan berbasis partisipasi aktif para peserta, dalam hal ini petani, merupakan langkah nyata untuk mewujudkan efektivitas dan efisiensi adopsi teknologi yang lebih cepat sampai ke tingkat individu. Pada kesempatan pelatihan yang diselenggarakan pada Senin (8/10) di Desa Kawedusan bersama dengan Gapoktan Sri Mulyo, BPP Kecamatan Kebumen menyampaikan sosialisasi pemanfaatan mikro organisme lokal (MOL) sebagai sumber larutan yang dapat berfungsi sebagai dekomposer (pengurai), pupuk, maupun pestisida organik, terutama fungisida. Seperti disampaikan oleh Koordinator PPL BPP Kebumen, Sri Haryanti, S.PKP dalam sambutannya, multifungsi yang dimiliki larutan MOL menjadi keunggulan yang menambah efisiensi dalam konteks adopsi teknologi. Kegiatan pelatihan yang dipandu oleh PPL Kecamatan Kebumen, Abriani Muji Hadiastuti, S.P., menggunakan bonggol pisang sebagai bahan utamanya. Hal ini mengingat ketersediaan bahan yang paling mudah diperoleh dari lingkungan sekitar dibandingkan kemungkinan bahan lainnya. Bonggol pisang lebih banyak mengandung unsur hara P (phospat) yang berfungsi sebagai penambah nutrisi tanaman. Komposisi bahan-bahannya secara lengkap adalah 1 kg bonggol pisang, 2 ons gula merah/pasir, dan 2 liter air kelapa atau cucian beras. Cara pembuatannya, bonggol pisang dipotong-potong kecil lalu ditumbuk. Selanjutnya, gula merah/pasir dilarutkan dalam air dan dicampurkan dengan tumbukan bonggol pisang. Setelah tercampur, ditambahkan air kelapa atau cucian beras dan diaduk sampai merata. Campuran seluruh bahan tersebut dimasukkan ke dalam botol atau jerige dan ditutup rapat sampai kurang lebih 15 hari. Selama proses fermentasi dilakukan pengecekan setiap 2 hari sekali, jika terjadi penggelembungan maka tutup harus dibuka untuk mengeluarkan muatan gas di dalamnya. Sebagai dekomposer, pupuk, dan pestisida hayati, larutan MOL bonggol pisang mengandung zat pengatur tumbuh giberelin dan sitokinin dan berbagai jenis mikroorganisme di dalamnya yakni: Azospirillium, Azotobacter, Bacillus, Aeromonas, Aspergillus, mikroba pelarut phospat, dan mikroba selulotik. Untuk efektivitasnya, aplikasi larutan MOL bonggol pisang sebaiknya dilakukan pada pagi sebelum pukul 09.00 WIB atau sore setelah pukul 16.00 WIB guna menghindari cahaya matahari langsung. Penggunaanya dilakukan dengan pengenceran pada dosis yang berbeda untuk masing-masing tujuan penggunaanya. Sebagai dekomposer, 1 liter larutan MOL diencerkan dengan 5 liter air. Sementara itu, untuk tujuan pemupukan atau pengendalian OPT 400 cc MOL dilarutkan ke dalam air pada kapasitas tangki 14 liter. Terdapat jenis larutan MOL dari berbagai macam bahan dasar lainnya. Hal terpenting dalam setiap inovasi teknologi adalah kemungkinannya untuk benar-benar dapat dipraktekkan oleh petani sebagai pelaku langsung usahat tani. Aspek biaya dan tingkat kesulitan pembbuatannya seringkali menjadi faktor teknis utama yang mempengaruhi tingkat adopsi. Dalam hal ini, partisipasi aktif dan antusiasme petani yang tinggi dapat menjadi indikator bahwa teknologi larutan MOL bonggol pisang realistis untuk dikembangkan sebagai alternatif pendukung usaha tani Desa Kawedusan. (Abriani Muji Hadiastuti)