Indonesia adalah negara kepulauan yang dikelilingi samodra luas dengan topografi yang bervariasi dan rentan terhadap perubahan iklim yang cenderung memicu terjadinya iklim ekstrim terutama kekeringan yang berkepanjangan. Kekeringan akan mempengaruhi produksi berbagai komoditi pertanian diantaranya kelapa sawit. Sebagai penyumbang devisa negara yang cukup besar maka perlu dilakukan berbagai untuk mengurangi (mitigasi) dampak perubahan iklim terhadap produksi tanaman ini. Dampak perubahan iklim pada kelapa sawit Kekeringan berpengaruh terhadap berkurangnya produksi tandan buah segar dan gejala kerusakan kepala sawit berbeda pada tiap stadium kekeringan yang ditunjukkan seperti gejala berikut: 1. Stadium kekeringan pertama, dengan nilai defisit air 200-300 mm/th, produksi tandan buah segar berkurang sekitar 21-32% dengan gejala 3-4 pelepah daun muda mengumpul dan umumnya tidak membuka dan 1-8 pelepah daun tua patah. 2. Stadium kekeringan kedua, dengan nilai defisit air 300-400 mm/th, produksi tandan buah segar berkurang sekitar 33-43% dengan gejala 4-5 pelepah daun muda mengumpul dan umumnya tidak membuka dan 5-8 pelepah daun tua patah. 3. Stadium kekeringan ketiga, dengan nilai defisit air 400-500 mm/th, produksi tandan buah segar berkurang sekitar 44-53% dengan gejala 4-5 pelepah daun muda mengumpul dan umumnya tidak membuka dan 12-16 pelepah daun tua patah. 4. Stadium kekeringan keempat, dengan nilai defisit air > 500 mm/th, produksi tandan buah segar berkurang sekitar 54-65% dengan gejala 4-5 pelepah daun muda mengumpul dan umumnya tidak membuka dan 12-16 pelepah daun tua patah. Kekeringan menciptakan kondisi lingkungan yang mendukung berkembangnya hama kelapa sawit seperti ulat api (Setothosea asigna), ulat jengkal (Mahasena coebetti) dan tikus besar (Bandicota indica). Populasi hama-hama tersebut meningkat secara drastis selama musim kering yang akan merusak kelapa sawit. Kekeringan juga memicu kebakaran lahan yang ditanami sawit. Upaya mitigasi Upaya mitigasi pada tanaman kelapa sawit dapat dilakukan melalui upaya jangka pendek dan jangka panjang. Upaya jangka pendek dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: 1. Membuat rorak yang dikombinasikan dengan penanaman tanaman penghasil pupuk hijau/suplai mulsa dengan tujuan untuk menangkap dan mengawetkan air hujan dan sekaligus mencegah erosi. Rorak diisi dengan mulsa yang disusun diantara tanaman yang belum menghasilkan untuk menahan runoff selama musim penghujan. Air yang tertahan dalam rorak akan mempercepat pembusukan mulsa, yang akan meningkatkan perkembangan cacing tanah dan mikroorganisme pembusuk, dan tahapan selanjutnya adalah cukup tersedianya bahan organik yang siap digunakan untuk pupuk tanaman. Rorak juga bermanfaat untuk meningkatkan poros kapiler tanah sehingga meningkatkan kapasitas menahan air tanah. Selanjutnya air yang tertahan akan dapat digunakan untuk suplai tanaman selama musim kering. 2. Pembuatan kolam sebagai sarana untuk penampungan air dan sekaligus untuk distribusi air. Kolam dapat dibuat secara permanen maupun tidak permanen. Kolam permanen, kolam yang dibangun dengan menggunakan bahan beton dan bahan kedap air lainnya, kolam jenis ini umumnya mampu menyerap dan menahan air sekitar 65% dari volume hujan di daerah tangkapan air hujan. Kolam permanen cocok untuk daerah dengan tipe tanah dengan permeabilitas tinggi. Kolam semi permanen, dibangun dari formasi timbunan tanah, dengan kemampuan menyerap dan menahan air sekitar 30-50% dari volume hujan di daerah tangkapan air hujan. Kolam semi permanen cocok dibangun didaerah dengan tanah yang mempunyai permeabilitas lebih rendah. 3. Melakukan pemupukan yang tepat bertujuan untuk memperbaiki kondisi tanaman agar tumbuh dengan baik. Pemberian pupuk K sebaiknya dilakukan sedikitnya sebelum musim kering. Pupuk K berperan dalam proses membuka dan menutupnya stomata yang berpengaruh terhadap tingkat resistensi tanaman sawit terhadap kekeringan. 4. Pemberantasan gulma yang dilaksanakan ketika kekeringan akan segera tiba guna meminimalisir kompetisi penggunaan air, unsur hara dan cahaya antara tanaman yang dibudidayakan dengan gulma/rumput-rumputan. Pembrantasan gulma dilakukan dengan pembabatan (tanpa penyemprotan) jangan sampai gulma/rumput/semak tingginya tidak lebih dari 30 cm. 5. Implementasi pengendalian hama terpadu melalui konservasi musuh alami, peningkatan keanekaragaman (diversity) tanaman, mengintensifkan pests surveillance yang berkelanjutan dan penggunaan pestisida secara selektif. 6. Melakukan monitoring kebakaran secara intensif terutama didaerah yang banyak rumput/semak belukar dan kaya mulsa. Upaya jangka panjang Upaya yang dilakukan dalam jangka panjang antara lain: 1) menanam kelapa sawit dengan benih yang toleran terhadap kekeringan; 2) penanaman tanaman pupuk hijau seperti rumput guatemala (Azolla spp); 3) menerapkan teknik konservasi air dan penggunaan air yang efisien antara lain melalui pembangunan kolam penampung air di dataran tinggi; 4) perbaikan daerah aliran sungan (DAS) dengan menanam tanaman perkebunan sepanjang sempadan sungai didaerah hulu sungai; 5) membangun resapan "biopori" pada daerah dataran tinggi; 6) pengembangan pengelolaan air dengan memadukan komponen sumberdaya manusia dan sumberdaya alam; 6) melakukan perbaikan daerah lahan kritis melalui perbaikan vegetasi dan ekologi; dan 7) melakukan monitoring dan evaluasi pada daerah rawan kebakaran di musim kemarau/kekeringan. Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com Sumber : Pedoman Antisipasi terhadap Perubahan Iklim pada Sub Sektor Perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian, 2007.