Terjadinya iklim ekstrim ini sebagai dampak perubahan iklim global, berpengaruh terhadap produksi dan pertumbuhan tanaman perkebunan khususnya tanaman kopi. Kopi adalah salah satu komoditi penyumbang devisa negara yang cukup besar, untuk mencegah turunnya produksi sebagai akibat dampak perubahan ikim, perlu dilakukan upaya-upaya untuk mitigasi. Dampak dan upaya mitigasi terhadap tanaman kopi adalah sebagai berikut. Dampak kekeringan pada Kopi Dampak kekeringan pada tanaman kopi sangat bervariasi tergantung pada kondisi lingkungan (tanah, ketinggian dan iklim), intensitas stres akibat kekeringan, varietas kopi yang ditanam dan cara bercocok tanam. Misalnya kopi Robusta mempunyai akar tunggang lebih dangkal daripada kopi Arabika sehingga kopi Robusta lebih rentan terhadap kekeringan, selain itu kopi Robusta ditanam di dataran yang lebih rendah yang mungkin memiliki suhu yang lebih tinggi yang menyebabkan robusta stress karena kekeringan yang lebih berat dibandingkan dengan kopi Arabika. Kekurangan air akibat kekeringan yang berkepanjangan selama pembibitan, akan memperlambat pertumbuhan tunas yang menurunkan kualitas bibit. Tanaman muda kopi yang menderita kekeringan memperlihatkan gejala seperti layu, kekuning-kuningan, mengeriting dan pertumbuhan terhambat. Gejala tersebut sebagai reaksi degradasi klrofil oleh tingginya intensitas cahaya dan suhu. Kekeringan menyebabkan produksi tanaman kopi yang sudah menghasilkan menurun. Kehilangan hasil bervariasi antara 44-76% di kawasan yang basah dan 11-19% di kawasan yang kering. Upaya mitigasi Upaya mitigasi pada tanaman kopi dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: 1. Pembuatan rorak Membuat rorak dengan ukuran 0,4m (panjang) x 0,4m (lebar) x 0,8m (kedalaman). Rorak dibuat sebanyak 50% dari jumlah pohon/ha dengan tata letak saling silang, selanjutnya rorak diisi dengan material organik/mulsa untuk membuat lebih efektif dalam memperbaiki struktur dan poros kapiler tanah dan meningkatakn kapsitas kemampuan mengikat air. Menggunakan sistem penanaman ganda yaitu dengan menanam tanaman pupuk hijau sepanjang baris tanaman. Tanaman pupuk hijau tersebut dipangkas secara rutin, agar tingginya tetap tidak lebih dari 30cm dan limbah pangkasan digunakan sebagai mulsa yang ditimbun dalam rorak. 2. Pembuatan kolam. Sebagai sarana untuk penampungan air dan sekaligus untuk distribusi air. Kolam dapat dibuat secara permanen maupun tidak permanen. Kolam permanen, kolam yang dibangun dengan menggunakan bahan beton dan bahan kedap air lainnya, kolam jenis ini umumnya mampu menyerap dan menahan air sekitar 65% dari volume hujan di daerah tangkapan air hujan. Kolam permanen cocok untuk daerah dengan tipe tanah dengan permeabilitas tinggi. Kolam semi permanen, dibangun dari formasi timbunan tanah, dengan kemampuan menyerap dan menahan air sekitar 30-50% dari volume hujan di daerah tangkapan air hujan. Kolam semi permanen cocok dibangun didaerah dengan tanah yang mempunyai permeabilitas lebih rendah. 3. Menggunakan sistem irigasi tetes. Untuk mengurangi resiko kekeringan dapat dilakukan dengan menerapkan irigasi tetes (drip) dan seepage di daerah yang supplai airnya minimum sebagai sarana alternatif untuk sistem irigasi manual. Cara lain dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi sederhana yaitu dengan menggunakan kendi air berlubang, atau dengan menggunakan batang bambu sepanjang 60 cm yang dilubangi dengan diameter 1 mm kemudian diisi 2 liter air, yang diletakkan dengan jarak 20cm dengan tanaman. Dengan cara ini dapat mengairi tanaman untuk tiga hari. 4. Suplai pupuk hijau. Pupuk hijau sangat penting untuk tipe tanah yang kurang subur untuk memperbaiki kondisi tanah agar tanaman tumbuh subur. Tanaman yang sehat lebih tahan terhadap setiap tekanan pengaruh lingkungan termasuk tekanan kekurangan air. Pupuk hijau dapat digunakan secara efektif pada dosis 20-30 ton/hektar/tahun dengan menggunakan limbah organik seperti kompos cangkang buah kopi dan limbah lainnya yang berasal dari bagian tanaman kopi seperti kulit kopi, pohon naungan dan vegetasi lainnya. 5. Mulsa. Mulsa dapat bermanfaat untuk menjaga agregat tanah dan mempercepat tingkat infiltrasi air, dapat meningkatkan aktivitas biologis serta tingkat kesuburan tanah. Tanah yang bermulsa dapat menjaga suhu permukaan tanah pada kisaran 25 derajat Celcius. Dalam pembibitan kopi, pemberian mulsa selain dapat menyuburkan tanah, juga dapat menurunkan frekuensi pemakaian air sebanyak 0,1-1 liter per bibit. 6. Melakukan penyesuaian jadwal penanaman dengan mempertimbangkan prakiraan cuaca untuk meminimalisir resiko kehilangan hasil produksi. 7. Melakukan pemupukan dengan tepat yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi tanaman agar tumbuh dengan baik. Tanaman kopi yang dipupuk dengan baik akan mempunyai struktur akar yang lebih lebar yang akan membuat tanaman mampu menggunakan air tanah lebih efektif. Untuk itu pada akhir musim hujan dapat diberikan pupuk Urea dengan dosis 15-20% lebih tinggi dari yang direkomendasikan. 8. Pemberantasan gulma dilaksanakan pada saat kekeringan akan segera tiba guna meminimalisir kompetisi penggunaan air, unsur hara dan cahaya antara tanaman yang dibudidayakan dengan gulma/rumput-rumputan. 9. Implementasi pengendalian hama terpadu melalui konservasi musuh alami, peningkatan keanekaragaman (diversity) tanaman, mengintensifkan pests surveillance yang berkelanjutan dan penggunaan pestisida secara selektif. 10.Melakukan pemangkasan secara selektif dengan cara membuang bagian tanaman yang tidak produktif guna mengurangi tingkat transpirasi yang secara tidak langsung mengawetkan kandungan air tanah. 11.Menggunakan varietas kopi robusta yang tahan kekeringan seperti BP409 dan BP308. 12.Untuk menekan irradiasi, sebaiknya menanam pohon naungan yang dapat berfungsi efektif didaerah kekeringan dengan tanaman gamal (Gliricidia sepium) dengan jarak 3m x 3m. Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com Sumber : Pedoman Antisipasi terhadap Perubahan Iklim pada Sub Sektor Perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian, 2007.