Degradasi sumberdaya pertanian, variabilitas dan ketidak pastian iklim, konversi dan alih fungsi lahan, serta pencemaran di sektor pertanian menjadi ancaman sekaligus tantangan dalam mewujudkan kualitas kehidupan masyarakat dan peningkatan kesadaran terhadap penyelamatan dan pelestarian lingkungan. Untuk itu, pertanian ke depan harus dibangun dengan konsep model pertanian ramah lingkungan spesifik lokasi dalam bentuk wujud pertanian bio-industri berkelanjutan. Pertanian ramah lingkungan merupakan konsep model yang bertujuan agar kegiatan ekonomi tidak merusak lingkungan, dengan tetap memperhatikan keterkaitan antara ekologi, ekonomi, dan pertumbuhan yang berkelanjutan dengan prinsip zero waste. Model ini menyediakan berbagai siklus produk, melalui proses produksi yang tidak menghasilkan polusi dan hasil akhir residual untuk tetap dapat digunakan kembali sebagai input bagi proses lain. Salah satu contoh konsep pengembangan pertanian bioindustri berbasis sumberdaya lokal, adalah integrasi antara tanaman dan ternak dalam efisiensi produksi dikembangkan di Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu. Keterkaitan antara tanaman kopi dengan ternak sapi dalam satu sistem usahatani terpadu, dapat dikembangkan dalam suatu kawasan sebagai suatu model dengan gambaran petani peternak mendapatkan sumber income dari dua komoditas diusahakan. Yaitu; selain penurunan biaya produksi usaha tanaman maupun usaha ternaknya, juga munculnya kondisi saling menunjang di antara kedua usaha komoditas tersebut. Model sistem pertanian bioindustri yang dikembangkan di kabupaten Rejang Lebong, dapat meningkatkan produktivitas kopi dari 700 kg/ha/th menjadi 1.696,5 kg/ha. Peningkatan berat badan sapi mencapai 0,4 – 0,5 kg/ekor/hr yang berarti adanya efisiensi usahatani kopi dan ternak sapi. Seperti halnya; pengolahan kompos oleh seorang petani sebanyak 6 ton/bln memperoleh keuntungan Rp 2.250.000 dengan serapan tenaga kerja 8 OH; pengolahan pakan ternak sebanyak 0,6 ton memperoleh keuntungan Rp 720.000 dengan serapan tenaga kerja 4 OH; dan pengolahan urin sebanyak 500 liter memperoleh keuntungan Rp 1.170.000 dengan serapan tenaga kerja 3 OH. Capaian hasil ini kemudian direkomendasikan sebagai suatu model Bioindustri tanaman- ternak spesifik lokasi Rejang Lebong, rekomendasi ini sangat penting artinya untuk meyakinkan orang lain bahwa sesuatu itu tepat dan layak untuk digunakan maupun dikembangkan di daerah lain yang memiliki potensi kawasan sumberdaya alam yang sama. Sperti tertuang pada diagram model berikut. Model tersebut menggambarkan 2 (dua) komoditi utama; 1) Tanaman kopi dengan fokus panen petik merah dan pengolahan secara basah memperoleh nilai tambah (peningkatan produksi, mutu dan harga jual) dan limbah yang dapat diolah menjadi kompos dan pakan ternak olek kelompok lain dalam BUMP; 2) Ternak sapi potong dapat meningkatkan berat badan dan sapi perah dapat meningkatkan produksi susu sampai mencapai 60 % menggunakan formulasi pakan lokal produksi kelompok, disamping juga produk kotoran sapi yang dijual berupa kompos memberikan tambahan pendapatan bagi peternak. Rekomendasi Model Bioindustri tanaman-ternak spesifik Bengkulu, memperlihatkan gambaran Inovasi sudah dikuasai petani dengan titik ungkit berupa; Panen kopi petik merah; Pengolahan dan pemanfaatan pakan sapi sepesifik wilayah; dan pengolahan kompos berbahan baku lokal yang dapat meningkatkan pendapatan petani serta menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat (Ruswendi).