Loading...

Model "KampoengTernak Domba" Mengarah Pada Pengembangan "Village Breeding Center"

Model "KampoengTernak Domba" Mengarah Pada Pengembangan "Village Breeding Center"
Kampoeng Ternak Domba" adalah suatu model pengembangan ternak domba berbasis sumberdaya lokal potensial, melalui introduksi teknologi bibit domba "Komposit Unggul Balitnak" sebagai langkah pendukung sumber pendapatan baru petani yang terintegrasi dengan tanaman hortikultura, dan mampu menjaga kelestarian lingkungan (buffer zone management) Usaha ternak domba telah banyak dilakukan oleh petani di pedesaan Indonesia sebagai upaya diversifikasi usaha pokok di bidang pertanian. Secara umum manajemen pemeliharaan masih bersifat tradisional, belum mengarah pada target pendapatan (terbatas pada usaha sambilan) dan belum menerapkan inovasi teknologi maupun kelembagaan. Salah satu upaya untuk memperkenalkan inovasi teknologi Balitnak melalui kegiatan diseminasi, maka pembentukan "Kampoeng Ternak Domba" memparkan suatu terobosan yang tepat karena paket teknologi yang sudah dikemas dapat diterapkan langsung di lapangan, sekaligus sebagai langkah pengujian inovasi teknologi yang telah dihasilkan pada skala laboratorium. Penerapan teknologi yang dimaksud bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani dan mampu mendukung kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. Model "Kampoeng Ternak Domba" dirancang dalam suatu kawasan desa, dan dikembangkan melalui model usaha ternak domba dengan pola usaha agribisnis. Konstruksi kampoeng ternak domba dirancang dalam suatu kawasan desa, di mana sebagian besar masyarakatnya (50) dari jumlah KK diarahkan untuk memelihara ternak domba, sehingga kawasan tersebut akan menjadi sumber ternak dengan populasi yang stabil atau meningkat, dengan harapan populasi ternak domba lebih dominan dibanding populasi penduduknya serta pendapatan rumah tangga yang berasal dari ternak domba berpeluang ditingkatkan menjadi >50 UMR daerah setempat (Rp, 500.000,-/bulan). Dalam jangka panjang sifat usahanya akan diarahkan sebagai "cabang usaha" bahkan dapat menjadi "usaha pokok" dengan target 50-70 persen total pendapatan petani di pedesaan berasal dari usaha ternak domba. Contohnya saja di Kampung Ternak Domba terletak di Kampung Cinyurup, Kelurahan Juhut, Kecamatan Karang Tanjung, Kabupaten Pandeglang, Propinsi Banten dibentuk sebagai Buffer Zone (kawasan penyangga) karena lokasi tersebut berbatasan dengan kawasan hutan lindung yang dapat menyediakan ketersediaan rumput lapangan dan leguminosa pohon sepanjang tahun dengan kualitas yang baik. Pola pikir yang dikembangkan adalah dengan memberdayakan masyarakat sekitar hutan melalui usaha pemeliharaan ternak domba, maka usahatani sayuran yang banyak merambah hutan sekitar dapat dikendalikan melalui usaha konservasi dan keterkaitan usahatani (integrasi tanainan - ternak). Oleh karena itu upaya rehabilitasi hutan lindung, dan diversifikasi ataupun pengalihan prioritas usaha dari menanam sayuran di kawasan hutan menjadi usahatani ternak terpadu menjadi salah satu sasaran yang hendak dicapai, di sampiiig upaya peningkatan pendapatan petani. Pemilihan lokasi pengembangan berdasarkan pada potensi yang dimiliki wilayah dimaksud, seperti: sumber hijauan pakan yang melimpah, pengalaman masyarakat dalam memelihara ternak domba, peluang pasar yang terbuka, dan adanya kelompok tani yang sudah berjalan cukup baik, serta pertimbangan minat peternak yang sangat mendukung. Oleh karena itu konsep agribisnis untuk memanfaatkan keunggulan komparatif (comparative advantage) menjadi keunggulan kompetitif (competitive advantage) dapat diimplementasikan. Tujuan ¢ Menyelenggarakan pelayanan dan penyebaran hasil penelitian pada masyarakat secara optimal. ¢ Menjalin kerjasama penelitian dan pengembangan inovasi teknologi produk- produk unggulan sebagai wujud dari respon masyarakat. ¢ Kampoeng Ternak sebagai salah satu bentuk chanel diseminasi yang efektif. ¢ Sebagai area buffer zone (kawasan penyangga) agar masyarakat tidak lagi merambah hutan, dengan adanya kesibukan dalam usaha memelihara ternak domba. Tahapan Pembentukan Kampoeng Ternak Domba ¢ Inisiasi dengan pemangku kepentingan ¢ RRA minimal di 3 lokasi calon kampoeng ternak ¢ PRA pada salah satii desa terpilih ¢ Pelatihan ¢ Persiapan sarana dan prasarana kandang ¢ Persiapan penanaman TPT ¢ Pemasukan ternak ¢ Pendampingan ¢ Monitoring dan Evaluasi Kampoeng Ternak Domba Untuk merancang konsep model "Kampoeng Ternak Domba" langkah pertama yang dilakukan adalah inisiasi melalui pendekatan dengan Pemda, dan diperlukan untuk mendukung program yang akan dijalankan, yang dalam jangka panjangnya dapat membentuk "Icon" spesifik wilayah agro-ekosistem, dan dapat digunakan sebagai ajang pembelajaran bagi wilayah lainnya dalam merancang strategi pengembangan wilayah. Inisiasi dilakukan melalui pembentukan "POKJA" (Kelompok Kerja) yang anggotanya terdiri dari staf Pemda, dalam hal ini Dinas Pertanian dan Peternakan sebagai penguasa wilayah, Balai Pengkajian Teknologi (BPTP) sebagai ujung tombak dalam pendampingan teknologi di lapangan, Balitinak sebagai agen inovasi teknologi spesifik lokasi dan kelembagaan yang disesuaikan dengan kondisi setempat. Target yang hendak dicapai adalah: wilayah Kelurahan Juhut diarahkan sebagai wilayah sumber bibit domba komposit (Village Breeding Centre) yang mampu mensuplai kebutuhan ternak domba bagi wilayah lainnya. Selain dari pada itu wilayah yang dimaksud dapat dijadikan tempat pembelajaran atau magang bagi calon peternak domba baru (Training centre). Sumber : Isbandi,Inovasi Mendukung Swasembada (Agro Inovasi)