Mikroorganisme lokal (MOL) adalah mahluk hidup yang sangat kecil/ mikroorganisme yang dimanfaatkan sebagai starter dalam pembuatan pupuk organik padat maupun cair. Menurut Budiyanto (2002), mikroorganisme mempunyai fungsi sebagai agen proses biokimia dalam pengubahan senyawa anorganik yang berasal dari sisa tanaman dan hewan. Bahan utama MOL terdiri dari beberapa komponen yaitu karbohidrat, glukosa dan sumber mikroorganisme. Bahan dasar untuk fermentasi larutan MOL dapat berasal dari hasil pertanian, perkebunan, maupun limbah organik rumah tangga. Karbohirat sebagai sumber nutrisi untuk mikroorganisme dapat diperoleh dari limbah organic seperti air cucian beras, singkong, kentang, dedak/bekatul/bu’uk dan lain-lain. Sumber glukosa berasal dari cairan gula merah, gula pasir, tetes tebu/molase dan air kelapa. Sedangkan sumber mikroorganisme berasal dari keong mas, terasi, bonggol pisang, sayuran busuk, urin kelinci, tape singkong dan rumen sapi. Mikroorganisme yang tumbuh dan berkembang pada suatu bahan dapat menyebabkan berbagai perubahan pada fisik maupun komposisi kimia, seperti adanya perubahan warna, pembentukan endapan, kekeruhan, pembentukan gas, dan bau asam (Hidayat, 2006). Larutan MOL mengandung unsur mikro dan makro dan juga mengandung bakteri yang berpotensi sebagai perombak bahan organik, perangsang tumbuhan, dan sebagai agens pengendali hama dan penyakit tanaman, sehingga MOL dapat digunakan baik sebagai pendekomposer pupuk hayati dan sebagai pestisida organik terutama sebagai fungisida. Salah satu activator yang cukup murah adalah larutan MOL (Mikro Organisme Lokal). Pemanfaatan Rumen Sapi sebagai bahan MOL merupakan salah satu cara untuk mengatasi melimpahnya sampah dari kotoran ternak ini, mengingat di Los Desa Tengket Kecamatan Arosbaya ada tempat penyembelihan Sapi dimana setiap kotoran ternak dibuang langsung ke sungai, sehingga menyebabkan sungai yang ada menjadi dangkal, kebiasaan masyarakat membuang sampah ke sungai menyebabkan Arosbaya menjadi langganan banjir setiap musim hujan. Usaha daur ulang sampah ini banyak mengandalkan dari proses alamiah serta mengurangi pemanfaatan penggunaan bahan kimia. Setiap hari puluhan sapi disembelih ditempat ini sehingga perlu adanya daur ulang pemanfaatan rumen sapi sebagai MOL. Peran MOL adalah untuk mendegradasikan bahan organic untuk diproses menjadi pupuk organic/kompos dan biourine (pupuk cair). Sapi termasuk hewan ruminansia. Keunggulan ternak ruminansia dari non ruminansia adalah dengan adanya tempat pencernaan yang komptek. pada ternak ruminansia mempunyai keistimeaan alat pencernaan yang disebut rumen. Rumen adalah suatu ekosistim yang komplek yang dihuni oleh beraneka ragam mikroba yang anaerob yang keberadaannya sangat banyak tergantung pada pakan (Preston dan Leng, 1987). Lambung atau Rumen ruminansia mempunyai empat ruangan, yaitu : Rumen, Retikulum, Omasum, Abomasum. Rumen dan retikulum dihubungkan dengan lapisan dari jaringan yang disebut reticulo-rumen fold yang memungkinkan ingesta dapat berpindah dengan leluasa dari rumen (perut besar) ke retikulum (perut jala) ataupun sebaliknya. Pada dasarnya isi rumen merupakan bahan-bahan makanan yang terdapat dalam rumen belum menjadi feces dan dikeluarkan dari dalam lambung rumen setelah hewan dipotong. Kandungan nutriennya cukup tinggi, hal ini disebabkan belum terserapnya zat-zat makanan yang terkandung didalamnya sehingga kandungan zat-zatnya tidak jauh berbeda dengan kandungan zat makanan yang berasal dari bahan bakunya. Anggorodi (1979), menyatakan bahwa ternak ruminansia dapat mensintesis asam amino dari zat-zat yang mengandung nitrogen yang lebih sederhana melalui kerjanya mikroorganisme dalam rumen. Mikroorganisme tersebut membuat zat-zat yang mengandung nitrogen bukan protein menjadi protein yang berkualitas tinggi. Mikroorganisme dalam rumen terdiri dari kelompok besar yaitu bakteri dan protozoa, temperatur rumen 39 sampai 40 derajat celcius, pH 7,0 sehingga memberikan kehidupan optimal bagi mikroorganisme rumen. Sekitat 80% Nitrogen dijumpai dalam tubuh bakteri rumen berupa protein dan 20 % berupa asam nukleat. Berdasarkan analisa berbagai rumen maka kadar berbagai asam amino dalam isi rumen diperkirakan 9-20 kali lebih besar daripada dalam makanan. Kandungan rumen sapi menurut Rasyid (1981), meliputi protein 8,86%, lemak 2,60%, serat kasar 28,78%, kalsium 0,53%, phospor 0,55%, BETN 41,24%, abu 18,54%, dan air 10,92%. Berdasarkan komposisi zat makanan yang terkandung didalamnya dapat dipastikan bahwa pemanfaatan isi rumen dalam batas-batas tertentu tidak akan menimbulkan akibat yang merugikan bila dijadikan bahan pencampur pakan berbagai ternak. Rumen sapi dapat diperoleh dari rumah pemotongan hewan ruminansia. Rumen diambil dari sapi yang baru saja disembelih. Untuk mendapatkan rumen sapi yang berkualitas baik, pengambilan rumen diusahakan dari sapi yang sehat Cara pembuatan MOL Rumen Sapi : Bahan : Babonan : Rumen 5 kg, Nenas 2 kg, Dedak 5 kg, Tetes Tebu (Molase) 2 lt, air kelapa 2 lt dan air bersih 50 lt Untuk Perbanyakan Mol : - Babonan - Nenas 4 kg - Dedak 10 kg - Tetes 10 lt - Air kelapa 10 lt - Air bersih 175 lt Masukkan Rumen ke dalam drum Masukkan molase Semua Bahan di masukkan ke dalam air bersih ditutup rapat di aliri selang supaya ada gas yang bisa keluar biar tidak panas/meledak setiap 3 hari sekali diaduk, tutup rapat kembali dan setelah 7 hari bisa digunakan atau difermentasikan Perendaman Benih Saat Olah tanah dan atau sebelum olah tanah Saat Persemaian di semprotkan dengan ukuran setiap 1 gelas agua (220 ml ) dicampur dengan air 15 sampai 30 liter Saat Padi umur 10 HST, 20 HST, 30 HST, 40 HST dan 42 HST disemprot sama larutan mol tersebut MOL juga sebagai bionutrient mengandung auksin, sitokinin, giberin sehingga baik sebagai perangsang pertumbuhan akar. MOL juga dimanfaatkan untuk mempercepat biogas menyala dan banyak manfaat lain dari MOL. Semoga tulisan ini bermanfaat. Oleh : SRI NURHOLIFAH, SP. (BPP AROSBAYA)