Loading...

MONITORING DAN EVALUASI BAGI PETANI MAGANG PENANGKAR BENIH OLEH TIM NPMO PROGRAM READSI DI KABUPATEN BONE BOLANGO

MONITORING DAN EVALUASI BAGI PETANI MAGANG PENANGKAR BENIH OLEH TIM NPMO PROGRAM READSI DI KABUPATEN BONE BOLANGO
Pada tanggal 5 sampai dengan 6 Maret 2024 Tim Monev dan Keuangan Nasional Project Management Office (NPMO) Pusat Program READSI melakukan monitoring kepada petani magang penangkar benih padi. Kabupaten Bone Bolango mengutus petani yang mengikuti magang ke Makassar sebanyak 6 orang.Tim NPMO terdiri dari Syah Bandra Sembiring, S.Pi. CIPFA(Affil), Soenaryo, Raihana, Dalily dan Silvia, diterima langsung oleh Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Dan Pertanian Kabupaten Bone Bolango Magda Kaluara,SP, MM, Manager READSI Kabupaten Bone Bolango Yoana Rahman, STP dan Pengelola READSI Kabupaten Bone Bolango.Setelah itu Tim NPMO menuju BPP Tilongkabila melakukan pertemuan dengan Petani Penangkar yang telah mengikuti Magang. Dalam pertemuan itu Tim NPMO berdiskusi tentang tindak lanjut hasil magang penangkar benih. Pada hari ke 2 Tim NPMO berkunjung ke Desa Huntu Barat Kecamatan Bulango Selatan melakukan hal yang sama yakni bertemu dengan petani penangkar benih padi. Dari hasil kunjungan Tim NPMO menyatakan bahwa tindak lanjut dari pelatihan atau magang penangkar benih yang dilakukan oleh petani Kabupaten Bone sudah melakukan kerja sama dengan PT. Sang Hyang Sri (SHS) selain itu para penagkar sudah menjual hasil tangkarannya kepada para petani diwilayah Bone Bolango khususnya dan luar Gorontalo. Padi merupakan sumber makanan pokok penduduk Indonesia. Jumlah penduduk di Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, permintaan beras semakin besar seiring dengan pertambahan jumlah penduduk di Indonesia. Untuk itu, diperlukan usaha serius untuk menjaga ketahanan pangan nasional maupun rumah tangga. Upaya peningkatan produksi padi untuk mempertahankan swasembada beras menghadapi berbagai masalah. Masalah tersebut berupa kendala fisik, biologis maupun sosial ekonomi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka pemerintah perlu mengambil kebijakan dalam pengembangan padi agar dapat mencapai hasil yang lebih baik.Oleh karena itu Program READSI melakukan kegiatan pelatihan bagi petani untuk magang penangkar benih padi.Tercapainya kondisi ketahanan dan kemandirian pangan dipengaruhi adanya inovasi dan adopsi teknologi dalam pengembangan usaha tani tanaman pangan, usaha tani hortikultura dan usaha perkebunan yang mampu memberikan dampak bagi peningkatan produksi dan produktivitas petani. Keberadaan petani penangkar benih atau usaha perbenihan padi sangat penting khususnya untuk memenuhi kebutuhan benih di Kabupaten Bone Bolango yang masih kekurangan. Ketersediaan dan kebutuhan benih yang diperlukan oleh petani tidak hanya berasal dari pemerintah saja, tetapi berasal dari penangkaran benih. Keberadaan penangkar benih menjadi solusi bagi petani yang tidak mendapatkan benih dari pemerintah saja.Salah satu strategi mencapai swasembada pangan adalah melalui penyediaan benih bermutu varietas unggul baru sesuai preferensi konsumen. Karena itu ketersediaan benih bermutu dengan 6 tepat (tepat jumlah, tepat waktu, tepat varietas, tepat tempat, tepat harga, tepat mutu) memegang peranan sangat penting. Melalui penggunaan benih bermutu, produktivitas tanaman akan meningkat, kualitas hasil juga meningkat dan keuntungan lainnya yakni biaya produksi menjadi murah, karena benih bermutu memiliki vigor yang tinggi dan lebih tahan terhadap derapan cuaca dan serangan hama penyakit Keberadaan petani penangkar benih atau usaha perbenihan padi lainnya sangat penting khususnya untuk memenuhi kebutuhan benih di Provinsi Gorontalo pada umumnya yang masih kekurangan dalam jumlah banyak. Adapun salah satu masalah yang terjadi, seperti menurunnya jumlah petani penangkar benih padi di karena tingginya biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani penangkar benih padi dan tidak diimbangi dengan pendapatan yang diterima oleh petani penangkar benih. Dalam memproduksi benih padi perlu/membutuhkan areal yang luas, sedang penangkaran areal yang dimiliki terbatas sehingga perlu adanya kerjasama (kemitraan dengan petani) bisa saling menguntungkan. Akan tetapi untuk menghasilkan benih yang dibutuhkan sekarang kita harus menyiapkan lahan/tanaman ± 6 bulan sebelumnya. Sedangkan permintaan petani yang dibutuhkan sekarang ini (produsen) belum tahu. Selain itu benih yang produksi sekarang untuk menyediakan enam bulan ke depan. Kadang- kadang petani tidak mau menanam varietas yang dibutuhkan (areal kerjasama) hal ini disebabkan kemungkinan terjadinya kegagalan panen karena faktor lingkungan (cuaca, serangan hama dan penyakit dan sebagainya).Salam READSI. Penulis : Lukman Hairun, STP Penyuluh Pertanian Ahli Madya Dinas Ketahanan Pangan Dan Pertanian Kab. Bone Bolango