Loading...

Musim Hujan di Sentra Produksi Padi Sudah Berubah

Musim Hujan di Sentra Produksi Padi  Sudah Berubah
Perubahan tersebut antara lain mencakup perubahan durasi dan pergeseran musim kering atau musim basah, serta perubahan jumlah curah hujan pada setiap musim. Di Pantura Jawa Barat terjadi perpanjangan durasi musim kering yang mengakibatkan musim hujan tertunda satu bulan. Di Pantura Jateng terjadi peningkatan jumlah curah hujan dan perpanjangan durasi musim basah satu bulan. Di DAS Brantas Hulu terjadi perubahan durasi dan pergeseran musim kering maupun musim basah. Analisis tersebut dilakukan terhadap data curah hujan di Kabupaten Karawang, Subang dan Indramayu (Pantura Jawa Barat), Kabupaten Pati, Rembang dan Blora (Pantura Jateng), serta Kabupaten Malang, Blitar,Tulungagung dan Kediri (DAS Brantas hulu). Di Pantura Jawa Barat, meskipun intensitas rata-rata curah hujan bulanan selama musim kering meningkat, namun periode musim kering semakin panjang. Intensitas curah hujan pada musim basah menurun dengan perubahan durasi musim basah beragam. Di Kabupaten Karawang musim kering bertambah panjang tiga bulan, namun tidak ada perubahan durasi musim basah. Di Kabupaten Subang musim kering bertambah panjang tiga bulan, sebaliknya musim basah bertambah pendek tiga bulan. Di Kabupaten Indramayu musim kering maupun musim basah bertambah panjang satu bulan. Perubahan sebaran curah hujan di Pantura Jawa Barat juga mengakibatkan musim kering datang satu bulan lebih awal di ketiga kabupaten, bahkan di Subang akhir musim kering pun tertunda satu bulan lebih lambat. Musim basah tidak bergeser di Kabupaten Karawang, namun Di Kabupaten Subang awal musim basah tertunda hingga tiga bulan, sedangkan di Indramayu awal musim hujan hadir lebih cepat satu buIan. Di Pantura Jawa Tengah, dampak perubahan sebaran rata-rata curah hujan bulanan mengakibatkan perubahan musim yang berbeda antara satu kabupaten dengan kabupaten lainnya. Di Kabupaten Pati terjadi musim kering maupun musim basah yang lebih singkat, masing-masing selama satu bulan lebih pendek. Kondisi ini mengakibatkan akhir musim kering dan awal musim basah hadir satu bulan lebih cepat, sedangkan akhir musim basah terjadi dua bulan lebih cepat. Di Kabupaten Rembang dan Blora tidak terjadi perubahan durasi musim kering, namun terjadi penambahan durasi musim basah yang mengakibatkan adanya percepatan awal musim basah dan penundaan akhir musim basah. Di DAS Brantas Hulu secara umum tidak terjadi perubahan pada awal musim kering atau akhir musim basah, namun perubahan umumnya terjadi pada akhir musim kering atau awal musim basah. Perubahan tersebut umumnya diiringi penurunan rata-rata curah hujan per bulan pada musim kering dan musim basah. Di Kabupaten Malang terjadi penambahan durasi musim basah selama satu bulan yang mengakibatkan awal musim basah dipercepat selama satu bulan. Di Kabupaten Blitar tidak terjadi perubahan durasi maupun pergeseran musim basah dan musim kering. Di Kabupaten Tulungagung terjadi penurunan durasi musim kering selama dua bulan disertai penurunan durasi musim basah selama satu bulan. Perubahan ini mengakibatkan musim kering berakhir lebih cepat dua bulan dan awal musim basah tertunda selama dua bulan. Di Kabupaten Kediri terjadi penambahan durasi musim kering selama satu bulan yang diiringi penurunan durasi musim basah selama satu bulan. Perubahan ini mengakibatkan musim kering hadir lebih cepat satu bulan dan berakhir lebih lambat satu bulan, serta awal musim basah tertunda satu bulan. Kondisi perubahan musim tersebut berimplikasi pada perilaku budidaya tanam padi petani, khususnya pada lahan padi yang jauh dari sumber air irigasi dan sangat tergantung pada kondisi curah hujan. Pada tanaman padi yang mendapatkan air irigasi, pada musim basah diperkirakan tidak mengalami hambatan dalam pemenuhan air irigasi, sedangkan pada musim kering perlu ada penyesuaian waktu tanam karena diperkirakan adanya keterbatasan ketersediaan air. Pada lahan sawah yang jauh dari irigasi, penyesuaian waktu tanam diperlukan baik pada musim basah maupun pada musim kering. Sumber : SINAR TANI Edisi 20-26 September 2006 , Aris Pramudia - Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi