Pendahuluan Cabai merupakan salah satu komoditas tanaman hortikultura yang berpengaruh cukup besar dalam perekonomian Indonesia terutama pengaruhnya terhadap terjadinya inflasi harga akibat tidak stabilnya pasokan bulanan terutama di musim hujan. Permintaan masyarakat yang tinggi pada cabai dan produk turunannya menjadikan cabai sebagai komoditi yang sangat diperhatikan dalam pertanian. Harga cabai di berbagai daerah juga cenderung fluktuatif karena kondisi musim. Pada musim hujan cenderung produksi menurun sementara permintaan pasar tetap tinggi sehingga berdampak pada harga cabai yang semakin tinggi. Di Kepulauan Bangka ketersediaan cabai sebagian besar masih didatangkan dari luar daerah (Palembang dan Jawa). Kondisi ini merupakan peluang bagi petani di Bangka Belitung untuk bertanam cabai. Peluang untuk berbisnis cabai juga sangat besar dikarenakan areal tanam yang masih sedikit sementara kebutuhan akan cabai terus meningkat yang berdampak pada tetap mahalnya harga cabai. Namun permasalahan yang dihadapi oleh petani cabai dengan kondisi cuaca yang tidak menentu saat ini adalah organisme pengganggu tanaman (OPT). Serangan OPT menyebabkan petani banyak kehilangan hasil dan gagal panen. Pengendalian OPT yang dilakukan petani terkadang tidak tepat sasaran. Untuk itu petani diharapkan dapat mengetahui jenis hama dan penyakit pada tanaman cabai, sehingga tindakan pengendalian dilakukan sesuai OPT sasaran. Hama a. Thrips Thrips merupakan hama yang meletakan telurnya dipermukaan bawah daun atau di jaringan tanaman. Hama ini berkerja dengan cara menggaruk dan menghisap cairan daun. Serangga ini aktif pada senja dan malam hari. Gejala serangan ditandai dengan bagian bawah daun berwarna perak, keriput, mengeriting dan melengkung ke atas. Hama ini menyerang tanaman sepanjang tahun terutama pada musim kemarau. Tanaman inang hama ini adalah cabai, tomat, kentang, tembakau, semangka dan tanaman lainnya. Pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan perangkap likat warna kuning, pemanfaatan musuh alami, penggunaan mulsa plastik dan penggunaan tanaman perangkap seperti caisin. b. Kutu Daun Persik Serangga ini aktif pada sepanjang hari dengan cara kerja menusuk dan mengisap cairan daun. Gejala akibat serangan akan menyebabkan daun keriput, terpuntir, berwarna kuning dan pertumbuhan tanaman kerdil. Tanaman inang dari hama ini adalah cabai, tomat, kentang, tembakau dan semangka. Pengendalian dapat dilakukan dengan sanitasi, penggunaan perangkap lekat kuning dan pemanfaatan musuh alami. c. Ulat Garyak Larva ulat grayak bekerja dengan cara mengigit dan menguyah bagian tanaman. Hama ini aktif dimalam hari. Gejala serangan yang ditimbulkan daun bolong dan tanaman gundul. Tanaman inang dari hama ini adalah cabai, tomat, mentimun, semangka, kacang panjang, terung dan lainnya. Pengendalian dapat dilakukan dengan sanitasi lahan dengan membersihkan gulma dan pengolahan lahan, mengumpulkan larva/pupa dan memusnahkannya serta pemanfaatan musuh alami. d. Lalat Buah. Lalat buah bekerja dengan cara menggigit dan menguyah bagian tanaman. Serangga ini aktif sepanjang hari. Gejala serangan ditandai dengan adanya lubang berupa titik hitam, buah busuk dan kemudian gugur. Tanaman inang dari hama ini adalah cabai, belimbing, mangga, jambu, semangka dan lainnya. Pengendalian dapat dilakukan dengan sanitasi, mengolah tanah secara intensif, penggunaan perangkap yang diberi atraktan, pemanfaatan musuh alami dan pembungkusan buah. Penyakit a. Bercak Daun Seskospora Gejala serangan ditandai dengan pada daun terdapat bercak bulat berwarna pucat. Pada tangkai buah terdapat bercak melingkar berwarna putih kecoklatan. Tanaman inangnya adalah cabai, terong dan tanaman sejenisnya. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara pemupukan berimbang, pengaturan jarak tanam, peninggian guludan, pemakaian mulsa hitam perak, tumpang sari, membuang daun yang sakit dari pertanaman dan penyemprotan fungisida. b. Penyakit Layu Fusarium Gejala serangan ditandai dengan layu dari bagian bawah tanaman, warna jaringan akar dan batang coklat. Jika tanaman sakit dipotong dekat pangkal batang akan terlihat gejala cincin coklat dari berkas pembuluh. Tanaman inangnya adalah cabai, tomat, terong, mentimun, kacang panjang. Pengendalian dapat dilakukan dengan pengolahan yang sempurna, pengaturan drainase, peninggian guludan, pemakaian mulsa hitam perak, tumpang sari, penanaman benih sehat, pemupukan berimbang, penggunaan agen hayati seperti trichoderma dan penggunaan fungisida. c. Penyakit Busuk Buah Penyakit busuk buah disebabkan oleh jamur C.capsici dan C.glaeosporioides. Gejala serangan ditandai dengan warna buah seperti terbakar sinar matahari, diikuti dengan busuk basah yang berwarna hitam. Tanaman inang dari jamur ini adalah cabai dan bawang merah. Pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan benih sehat, perbaikan drainase, membersihkan kebun dan membuang bagian tanaman yang terserang. d. Virus Kuning Penyebab virus kuning adalah oleh Gemini virus yang ditularkan oleh serangga kutu kebul. Gejala yang ditimbulkan berupa warna kuning pada daun tanaman, adanya penebalan tulang daun dan penggulungan daun. Serangan lebih lanjut akan menyebabkan daun mengecil dan berwarna kuning terang serta tanaman menjadi kerdil. Pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan bibit tanaman yang sehat, pergiliran tanaman, pemupukan berimbang, sanitasi lingkungan terutama mengendalian tumbuhan yang dapat menjadi inang virus, eradikasi tanaman sakit, pengendalian kutu kebul dengan musuh alami atau pemasangan perangkap likat kuning, penanaman border crop seperti tanaman jagung.