Loading...

OPT TANAMAN PEPAYA

OPT TANAMAN PEPAYA
I. PENDAHULUAN Pepaya merupakan salah satu komoditas buah tropis Indonesia yang cukup banyak di budidayakan di Indonesia. Tanaman pepaya memiliki banyak fungsi dan manfaat. Hampir seluruh bagian tanamannya dapat dimanfaatkan. Akar pepaya bermanfaat sebagai antioksidan, daun muda dan bunga pepaya untuk sayuran, daun tua berguna untuk alas makanan, dan buah pepaya bermanfaat antara lain untuk menyehatkan mata (kaya vitamin A), sebagai pelangsing tubuh, melancarkan ASI dan sebagainya. Buah pepaya dapat di konsumsi sebagai buah segar maupun dalam bentuk olahan. Sebagai buah segar, pepaya banyak dikonsumsi karena kaya akan nutrisi. Pepaya mempunyai kandungan gizi berupa vitamin C (69-71 mg), Ca (11-31 mg), K (39-337mg), 1-1,5% protein, karotin 1,160—2,431 µg, rendah lemak (0,1%), karbohidrat (7-13%), dan kalori (35-39 Kcal). Selain itu tanaman pepaya mempunyai keuntungan mudah dibudidayakan, permintaan pasar cenderung stabil tinggi, dan harga beli bagi konsumen juga relatif terjangkau dibanding buah lainnya namun memberikan pendapatan yang menguntungkan bagi petani. Namun beberapa permasalahan yang dikeluhkan oleh petani dalam budidaya pepaya adalah teknologi budidaya yang digunakan belum sesuai standar operasional prosedur sehingga menyebabkan tanaman mudah rentan terserang organisme pengganggu tanaman (OPT). Beberapa OPT penting yang sering menyerang tanaman pepaya antara lain lalat, thrips, hama tungau merah, kutu daun, kutu putih, penyakit busuk akar dan busuk pangkal batang, serta penyakit antraknose. OPT ini dapat dicegah ataupun dikendalikan penyebarannya dengan menerapkan budidaya pepaya yang baik dan benar, namun jika sudah terserang pada tanaman dapat dilakukan dengan beberapa tindakan pengendalian yang tepat. II. HAMA TANAMAN PEPAYA Lalat Bactrocera dorsalis complex Gejala serangan akan terlihat pada buah yang hampir masak dimana terdapat bintik bintik hitam bekas tusukan ovipositor lalat buah betina ketika memasuki telur ke dalam jaringan buah. Larva yang telah menetas mengeluarkan enzim perusak atau pencerna yang berfungsi melunakan daging buah sehingga mudah disedot dan dicerna. Enzim ini juga mempercepat pembusukan sehingga buah berwarna coklat, lunak, tidak menarik dan terasa pahit bila dimakan. Tindakan pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan cara 1). Pembungkusan buah muda, 2). Pengumpulan dan pemungutan sisa buah yang tidak panen atau busuk atau yang terserang lalat buah, lalu dibenamkan dalam tanah dengan kedalaman 30 cm, 3). Penggemburan tanah dibawah tajuk agar pupa masuk ke dalam tanah, 4). Penggunaan perangkap Methyl Eugenol (ME), 5). Pemanfaatan musuh alami Biosteres arisanus, B.longicaudatus dan Opius sp. Thrips Thrips lebih cenderung tampak pada daun bagian bawah, pada serangan yang parah daun keriting dan busuk buah. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara 1). Sanitasi lingkungan untuk mengurangi gulma yang berperan sebagai inang alternatif, terutama gulma yang mempunyai bunga warna kuning, 2) Pemberian mulsa yang bertujuan agar pupa tidak masuk ke dalam tanah sehingga memutus siklus hidup hama thrips, 3). Pemakaian insektisida, 4). Pemanfaatan predator kelompok thrips seperti Leptothrips mali (Franklinothrips orizabenzis, Scolothrips sexmaculatus, Aeolothrips fasciatus dan A. kuwanaii), 5). Pemanfaatan parasitoid larva seperti Ceranisus menes, Thripobius semiluters. Tungau (Tetranychus kanzawai Kishida) Hama tungau merupakan hama utama dengan intensitas serangan dapat mencapai 14 – 43 %. Gejala awal ditandai dengan timbulnya bintik bintik putih pada daun. Pada serangan berat seluruh permukaan daun terselaput bintik bintik putih. Hama ini berkelompok pada permukaan bawah daun serta membentuk jaring-jaring. Siklus hidup tungau jantan berupa telur, larva, protonimfa, duetonimfa samapi ke dewasa dengan waktu 7 – 10 hari. Pada tunga betina siklus hidup mencapai umur 8-11 hari dan dewasa mampu hidup 6-19 hari. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara 1). Sanitasi lingkungan dengan mengurangi gulma yang merangkap sebagai inang alternative, 2). Pemberian mulsa jerami di bawah tajuk, 3). Penggunaan akarisida secara bergilir mengingat tungau mudah sekali menjadi resisten terhadap pestisida berbahan aktif dicofol, propargit yang diberikan berselang seling antar bahan aktif sesuai anjuran. Kutu Putih Kutu putih berwarna putih kerdil dimana tubuhnya diselimuti oleh lapisan lilin berwarna putih. Tubuhnya berbentuk oval dengan embelan seperti rambut-rambut berwarna putih dengan ukuran yang pendek. Kutu putih pepaya menghisap cairan tumbuh dengan memasuki stilet kedalam jaringan epidermis daun, buah maupun batang. Pada waktu yang bersamaan kutu putih mengeluarkan racun kedalam daun, sehingga mengakibatkan klorosis, kerdil, malformasi daun, daun mengkerut dan menggulung, daun muda dan buah rontok, banyak menghasilkan embun madu yang dapat berasosiasi dengan cendawan jelaga, hingga kematian tanaman. Pada tanaman yang sudah dewasa, gejala yang muncul adalah daun menguning dan kelamaan daun akan gugur. Serangan pada buah yang belum matang menyebabkan bentuk buah tidak sempurna. Serangan yang berat dapat menutupi permukaan buah hingga terlihat kutu putih akibat tertutup koloni kutu putih tersebut. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara 1). Penggunaan predator Coccinelidae (Chilocorus circumdatus dan C. Nigrita) 2). Penggunaan parasitoid Comperiella lemniscata, Aphytis melinus dan Encarsia citrina, 3). Eradikasi daun daun yang terserang kemudian di bakar, 4). Penyemprotan dengan detergen 2,5 % atau menggunakan monosodium glutamate (MSG) dengan dosis 1 sendok makan/20 liter air ke bagian tanaman yang terserang selama tiga kali dengan interval tiga hari. 5). Penyemprotan dengan mineral oil dan insektisida dilakukan pada kondisi serangan sudah berat dan diawali dengan penyemprotan detergen untuk menghilangkan lapisan lillin. III. PENYAKIT TANAMAN PEPAYA Penyakit Busuk Akar dan Busuk Pangkal Batang Penyebabnya adalah jamur Phytophthora palmivora, Pythium spp., dengan gejala serangan mula mula daun bawah layu, menguning dan menggantung di sekitar batang sebelum akhirnya rontok. Selanjutnya daun daun yang agak muda juga menunjukkan gejala yang sama, sehingga tanaman hanya mempunyai sedikit daun-daun kecil di puncaknya, akhirnya tanaman mati. Jika digali akar lateral membusuk, mengeluarkan masa berwarna coklat tua, lunak dan seringkali berbau tidak enak. Serangan yang parah dapat merusak akar tunggang sampai pangkal batang. Jamur ini juga menyerang tanaman dalam pembibitan yang dikenal dengan penyakit semai damping off yang terjadi ketika kelembaban dan suhu udara tinggi. Serangan pada buah dimulai dari dekat tangkai yang ditandai dengan adanya miselium berwarna putih seperti beludru. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara 1). Drainase dan aerasi di pembibitan maupun di kebun harus baik, 2). Tanah pembibitan perlu diberi fungisida, 3). Rotasi tanaman bukan inang (selain jeruk, coklat, durian, karet, kelapa, lada dan pinang), 4). Tanaman sakit segera dibongkar sampai akar-akarnya lalu dibakar, 5). Serangan pada buah dicegah dengan penyemprotan fungisida terutana di dekat tangkai buah, 6). Sebelum di packing buah direndam dalam larutan Chlorine 100 ppm/liter selama 3 menit atau Amistrartop 250 ppm/liter selama 1 menit. Penyakit Antraknose Gejala serangan antraknose pada buah muda ditandai dengan munculnya bercak kecil kebasah-basahan, yang mengeluarkan getah yang berbentuk bintik. Pada buah yang menjelang matang muncul bercak bercak kecil bulat kebasah-basahan berwarna coklat kemerah-merahan. Bila buah bertambah masak, bulatan-bulatan tadi semakin besar dan busuk cekung kea rah dalam buah. Pada daun, terjadi bercak kecil kebasah-basahan dan bentuknya tidak teratur, meluas berwarna coklat muda, yang sudah lanjut, pusatnya berwarna putih kelabu, dan kadang kadang menjadi berlubang. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara 1). Memusnahkan daun dan buah yang bergelaja penyakit, 2). Hindari terjadinya pelukaan pada buah sejak masih muda sampai saat setelah panen (pemetikan, pengangkutan dan penyimpanan), 3). Jarak tanam tidak terlalu rapat (minimal 2-3 m x 3 m), 4). Hindari tumpang sari dengan tanaman inang penyakit antraknosa seperti cabai, mangga, pisang dan ubi kayu, 5). Kebusukan selama penyimpanan dapat dicegah dengan merendam dalam larutan Chorine 100 ppm/liter selama 3 menit atau Amistsrtop 250 ppm/liter selama 1 menit, 6). Penggunaan fungsisida di lapang dengan bahan aktif manzeb. Sumber Bacaan : - Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, 2011. Varietas Unggul Baru Pepaya Merah Delima. Balitbu. Solok. - Sunyoto dan Dewi Fatria. 2012. Petunjuk Teknis Teknologi Budidaya dan Pengelolaan Tanaman Pepaya. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. Solok. - Mega Andini. 26 Oktober 2015. Si Kutu Putih Hama Kecil Berdampak Besar pada Tanaman Pepaya. http://balitbu.litbang.pertanian.go.id/index.php/berita-mainmenu-26/info-lainnya/832-si-kutu-putih-hama-kecil-berdampak-besar-pada-tanaman-pepaya . Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. Solok.