Loading...

PADI HIBRIDA UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI PANGAN

PADI HIBRIDA UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI PANGAN
Varietas padi hibrida pertama kali dikembangkan oleh Yuan Longping kelahiran Hanzi 7 September 1930 dan meninggal dunia pada 22 Mei 2021. Ia adalah seorang agronom Tiongkok, anggota Akademi Teknik Tiongkok. Pada tahun 1970-an Yuan menemukan tipe galur mandul jantan (GMJ) pada padi liar Oryza rufipogon, Griff. yang memiliki kegagalan dalam memproduksi gamet jantan atau mandul pada organ jantannya. Galur ini populer dengan nama WA type Cytoplasmic Male Sterile. Gen Rf yang dapat memulihkan kemandulannya berasal dari padi tipe indica (O. sativa L. ssp. indica). Pada tahun 1973, Yuan bekerja sama dengan pihak lain dan berhasil membudidayakan padi hibrida yang memiliki keunggulan lebih tinggi 20% dibanding padi inbrida. Selanjutnya, tahun berikutnya, ia berhasil melepas secara komersial padi yang di beri nama Nan-you No. 2. Di Indonesia, sejarah penelitian padi hibrida dimulai tahun 1980-an. Penelitiannya melalui tiga periode, yaitu Periode I tahun 1980-1997 fase penjajagan; Periode II tahun 1998-2005 fase Intensifikasi Program Pemuliaan; dan Periode III tahun 2006 sampai sekarang fase Pemantapan dan Pengembangan. Keunggulan Padi Hibrida Varietas hibrida adalah varietas yang hanya sekali tanam. Kelebihan padi varietas hibrida adalah potensi hasil panen yang maksimal. Hasil panen dapat mencapai dua kali lipat dari padi lokal, bahkan dibandingkan padi inbrida keunggulan heterosisnya sekitar 10 persen. Di tingkat penelitian dan pengkajian keunggulannya bahkan bisa mencapai 15-20 persen. Sejak awal 2000-an di Indonesia, telah ada 21 varietas padi hibrida unggul yang dilepas oleh Balitbangtan Kementan, serta sekitar 100 varietas swasta. Meskipun produktivitasnya 20-30% lebih tinggi daripada padi inbrida, hanya sekitar 10 varietas yang umumnya ditanam oleh rumah tangga padi sawah. Menurut BPS, hingga tahun 2022, 88% rumah tangga masih menanam padi inbrida, sementara hanya 12% yang beralih ke padi hibrida. Padi hibrida memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas, dengan potensi produksi GKG mencapai 7,3 - 12,4 Ton/ha. Rata-rata produktivitas musiman padi hibrida mencapai 7 ton/ha, lebih tinggi dari padi inbrida yang hanya 5,15 ton/ha. Sayangnya, luas tanam padi hibrida di Indonesia masih kurang dari 1% dari total luas tanam padi, meskipun petani yang menggunakannya melihat manfaatnya, seperti penghasilan tambahan hingga Rp 10 juta per musim per hektar. Perbedaan padi hibrida dengan padi inbrida (Sumber: Satoto et al. 2008): Padi Hibrida 1.Komposisi genetik heterozigot homogen 2. Produksi benih dihasilkan dari persilangan dua galur yang berbeda 3. Benih yang digunakan untuk pertanaman konsumsi berupa benih F1 4. Ada keunggulan yang disebabkan oleh fenomena heterosis 5. Hasil panen dari pertanaman sebelumnya jika ditanam lagi akan bersegregasi Padi Inbrida 1. Komposisi genetik homozigot homogen2. Produksi benih dihasilkan penyerbukan sendiri 3. Benih yang digunakan berupa benih turunan generasi lanjut (bukan F1) 4. Tidak terdapat fenomena heterosis 5. Hasil panen dari pertanaman sebelumnya jika ditanam lagi tidak bersegregasi Varietas padi hibrida menjadi salah satu pilihan yang tepat untuk memperkuat ketahanan pangan nasional karena: Peningkatan produktivitas padi hibrida lebih besar dari perluasan lahan. Hal ini sesuai dengan kondisi ketersediaan lahan yang relatif tetap sedangkan permintaan pangan beras meningkat. Peningkatan produktivitas (potensi hasil) inbrida semakin sulit karena diversitas genetik terbatas Pada turunan pertama persilangan (F1) atau hibrida ada fenomena genetik yang disebut heterosis. F1 padi hibrida cenderung tampil lebih baik dibandingkan kedua tetuanya Sumber: Indra Krishnamurti dan Muhammad Diheim Biru. 2019. Prospek dan Tantangan Padi Hibrida di Indonesia. Center for Indonesian Policy Studies (CIPS). Jakarta Tim Studi Modernisasi Perbenihan Padi. 2022. Laporan Studi Modernisasi Perbenihan Padi. IPDMIP. BPPSDMP. Kementerian Pertanian Yuni Widyastuti. Bahan Paparan tentang Padi Hibrida. 2021. BB Padi. Balitbangtan. KementanYuni Widyastuti, M.Si. dan Tim Padi Hibrida, 2022. Teknologi Padi Hibrida, Alternatif Solusi Peningkatan Produktivitas Padi. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Disampaikan pada Bimbingan Teknis Adopsi Teknologi dan Diseminasi, IPDMIP. Penulis: Pamela Fadhilah, Penyuluh Pertanian Pusat