Loading...

PADI RAMAH LINGKUNGAN SEBAGAI PILAR SWASEMBADA PANGAN BERKELANJUTAN

PADI RAMAH LINGKUNGAN SEBAGAI PILAR SWASEMBADA PANGAN BERKELANJUTAN

Mewujudkan swasembada pangan khususnya beras merupakan agenda strategis nasional yang tidak dapat dipisahkan dari isu ketahanan nasional dan kesejahteraan petani. Selama beberapa dekade, peningkatan produksi padi lebih banyak ditempuh melalui intensifikasi berbasis input kimia. Pendekatan ini memang mampu mendongkrak produksi dalam jangka pendek, namun di sisi lain memunculkan persoalan serius berupa degradasi tanah, ketergantungan input eksternal, serta meningkatnya biaya produksi petani. Kondisi ini menunjukkan bahwa swasembada pangan membutuhkan pendekatan baru yang tidak hanya berorientasi pada kuantitas, tetapi juga keberlanjutan sistem produksi.

Budidaya padi ramah lingkungan hadir sebagai jawaban atas tantangan tersebut. Konsep ini menekankan pengelolaan sumber daya secara bijak melalui pemanfaatan proses alami, efisiensi input, dan keseimbangan agroekosistem. Padi ramah lingkungan tidak berarti menurunkan produktivitas, melainkan mengoptimalkan produksi melalui pendekatan yang lebih presisi dan adaptif terhadap kondisi lahan. Dengan demikian, swasembada pangan tidak lagi dipahami sebagai pencapaian sesaat, tetapi sebagai sistem produksi yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

Salah satu komponen kunci dalam budidaya padi ramah lingkungan adalah pengelolaan hara tanah yang berkelanjutan. Penggunaan pupuk tidak lagi dilakukan secara seragam, melainkan disesuaikan dengan kondisi spesifik lahan melalui pengukuran pH dan status hara tanah. Pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan efisiensi pemupukan, mengurangi pemborosan pupuk, serta memperbaiki kesehatan tanah. Tanah yang sehat menjadi fondasi utama bagi stabilitas produksi padi dan ketahanan pangan nasional.

Selain pengelolaan hara, aspek pengendalian hama dan penyakit juga mengalami pergeseran paradigma. Budidaya ramah lingkungan menempatkan pengendalian hayati dan prinsip Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) sebagai strategi utama. Pelestarian musuh alami, penggunaan agens pengendali hayati, serta pengamatan lapangan secara rutin mampu menekan serangan organisme pengganggu tumbuhan tanpa merusak keseimbangan ekosistem. Pendekatan ini tidak hanya menurunkan ketergantungan pada pestisida kimia, tetapi juga menjaga stabilitas produksi padi dalam menghadapi perubahan iklim dan dinamika lingkungan.

Dari perspektif ketahanan pangan, padi ramah lingkungan memiliki relevansi yang sangat kuat dengan agenda swasembada pangan berkelanjutan. Sistem produksi yang efisien dan ramah lingkungan akan mengurangi ketergantungan pada impor pupuk dan pestisida, sekaligus menekan beban subsidi negara. Dengan kata lain, setiap peningkatan efisiensi di tingkat petani merupakan kontribusi langsung terhadap ketahanan pangan nasional dan efisiensi anggaran publik. Lebih jauh, budidaya padi ramah lingkungan juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hasil panen. Gabah yang dihasilkan dari sistem budidaya yang seimbang umumnya memiliki mutu fisik yang lebih baik, seperti bobot isi yang tinggi dan kadar air yang lebih terkendali. Kualitas ini menjadi faktor penting dalam penyerapan gabah oleh pasar dan lembaga penyangga pangan seperti BULOG yang sudah ditugasakan oleh pemerintah untuk meyerap gabah hasil panen secara langsung (dengan harga RP. 6500/ kg GKP), sehingga membuka peluang peningkatan nilai jual di tingkat petani. Dengan demikian, keberlanjutan lingkungan dan peningkatan pendapatan petani dapat berjalan secara simultan.

Penting untuk ditekankan bahwa keberhasilan budidaya padi ramah lingkungan sangat bergantung pada peran petani sebagai subjek utama pembangunan pertanian. Literasi agronomi dan kebijakan menjadi kunci agar petani mampu mengambil keputusan berbasis data dan kondisi lapangan. Dalam konteks ini, kegiatan sekolah lapang dan demplot berperan sebagai ruang belajar kolektif untuk mentransformasikan pengetahuan teknis menjadi praktik nyata yang berdampak langsung pada produktivitas dan keberlanjutan usaha tani.

Budidaya padi ramah lingkungan pada akhirnya bukan sekadar pilihan teknis, melainkan strategi untuk memastikan swasembada pangan nasional yang tangguh, adil, dan berkelanjutan. Dengan mengintegrasikan aspek produktivitas, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan petani, pendekatan ini menawarkan arah baru pembangunan pertanian yang lebih tangguh. Swasembada pangan yang dibangun di atas fondasi ekologi dan ekonomi yang sehat akan menjadi warisan penting bagi generasi mendatang.

 

Hilmi Hardimansyah, SP