Loading...

PAHAMI SUSUT HASIL AGAR TIDAK RUGI

PAHAMI SUSUT HASIL AGAR TIDAK RUGI
Upaya mencukupi kebutuhan beras untuk penduduknya secara mandiri terus dilakukan pemerintah. Dalam operasional di lapangan, penyuluh dan petani bahu membahu memanfaatkan setiap potensi untuk memporduksi padi secara optimal, baik dengan memanfaatkan bibit bermutu, pupuk berimbang, dan pencegahan serangan hama yang mengancam hasil pertanian. Ada satu pekerjaan lagi yang juga harus diperhatikan, yaitu penanganan pasca panen. Dapat dipahami karena dari datai Badan Litbang Pertanian (2014), potensi susut hasil mencapai 20,7%, dengan rincian sebagai berikut: Kegiatan Panen 9,5% Kegiatan Pengumpulan 4,8% Kegiatan Perontokan 2,2% Kegiatan Pengeringan 3,0% Kegiatan Penyimpanan 1,2% Potensi total susut hasil 20,7% Sementara itu dari dari studi kasus di Kabupaten Jombang (Hidayat, et.al.) potensi susut padi sebesar 12,7%. Dengan asumsi bahwa conversi padi menjadi beras sebesar sebesar 63% (1 ton gabah kering panen setara dengan 630 kg beras), dan harga beras sebesar Rp16.000,- maka kerugian yang disebabkan susut hasil sebesar Rp16.000,- x 630 kg x 12,7% = Rp1,28 juta. Dalam perspektif pemenuhan kebutuhan beras konsumsi, maka potensi kehilangan hasil adalah sebesar 630kg x 12,7% = 80,01 kg. Dengan asumsi kebutuhan beras per minggu perorang sebesar 1,57kg, maka apabila susut hasil tersebut dapat memberikan makan sebanyak 51 orang selama 1 minggu. Memperhatikan hal tersebut, maka dipandang perlu untuk memahami potensi susut hasil selama proses peneringan gabah kering panen sampai menjadi gabah kering giling. Tahap pemanenan Lakukan panen tepat waktu, yaitu saat padi tua sempurna (90%-95% gabah telah menguning). Gunakan mesin pemanen atau bila dilakukan secara manual maka gunakan alat yang direkomendasikan penyuluh Tahap perontokan Segera lakukan perontokan setelah pemanenan. Hal tersebut mengurangi gabah rontok, hama, reaksi enzimatis, dan kerusakan gabah saat penumpukan. Bahkan keterlambatan perontokan sampai 3 hari dapat menyebabkan butir kuning dan tumbuh biji. Tahap pengeringan Pilih metide pengeringan yang tepat. Penggunaan alat pengering mekanis dapat digunakan, terutama saat cuaca tidak mendukung, lantai jemur terbatas, dan tenaga kerja terbatas. Cek kadar air agar mencapai titik optimal untuk proses berikutnya, baik untuk digiling maupun disimpan, sebab setiap tujuan tersebut mensyaratkan kadar air yang berbeda untuk menekan risiko terjadi kerusakan. Tahap penyimpangan Penyimpanan dilakukan dengan tujuan stok, menunggu proses berikutnya, dan menyeimbangkan pasar (over supply). Penyimpanan harus mampu menekan risiko penurunan kualitas gabah dengan menciptakan kondisi ideal, baik dari aspek sirkulasi udara, suhu, kemudahan pengelolaan, dan keamanan dari gangguan hama, seperti serangga, tikus, dan burung. Kelembaban yang tinggi akan cepat mengundang jamur yang dapat berakibat kerusakan gabah. Demikian pula kadar air abah harus menjadi perhatian. Kadar air di atas 14% sangat berpotensi tumbuhnya jamur. Penumpukan karung juga harus memperhatikan bahannya, untuk karung jute (plastik anyaman) tumpukan tidak lebih dari 4 m, sedangkan karung berbahan plastik tidak boleh lebih dari 3 m. Hal tersebut agar tidak mudah runtuh, karena karung plastik bersifat licin. Antar karung diberikan jarak sekitar 1 meter, 1,5 meter dari atap Gudang untuk sirkulasi udara dan memudahkan saat akan menumpuk atau mengambil. Setiap susut hasil akan menimbulkan kerugian bagi produsen maupun pedagang. Setiap susut hasil juga menghilangkan peluang tersedianya beras bagi masyarakat. Cemat pada setiap proses merupakan tindakan bijak dalam mendukung ketahanan pangan. (Edp/012024) Sumber. Mardiah, Zahara, Dr.STP, M.Sc. Strategi Swasembada Padi Berkelanjutan. Materi Ngobras Edisi 4/2024.