Pemerintah telah menetapkan daging sapi menjadi salah satu sasaran komoditas strategis. Hal ini didukung pula oleh potensi usaha sapi potong yang cukup besar. Namun kenyataan di lapangan, suplai daging nasional maupun sapi bakalan untuk konsumsi nasional masih belum terpenuhi dari tahun ke tahun. Selain karena konsumsi masyarakat yang terus meningkat, juga disebabkan karena belum efisiennya pola peternakan sapi oleh para peternak. Sehingga, bobot sapi yang dipelihara memiliki pertambahan bobot harian yang sangat rendah. Kondisi ini tentu sangat merugikan peternak sendiri karena kurang mendapatkan hasil yang memuaskan. Agar dapat memberikan hasil yang optimal, peternak perlu memiliki pengetahuan yang cukup sebelum memelihara ternak sapinya. Diantaranya adalah pengetahuan tentang: pakan, dan penyakit. Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut. Pakan. Pemberiannya harus tepat, baik dalam kuantitas, kualitas dan waktu sesuai dengan kebutuhan fisiologis serta laju pertumbuhan. Pemberian pakan meliputi hijauan, pakan penguat dan air dengan waktu pemberian minimal 2 (dua) kali sehari. Semua zat pakan dibutuhkan dalam proporsi yang seimbang meliputi : a)Kebutuhan air. Kadar air dalam pakan ternak sangat bervariasi. Pakan hijauan misalnya, mengandung air 75 – 90 %, sedangkan bahan pakan yang tampaknya sudah kering misalnya dedak padi masih mengandung air sekitar 10 %. Kadar air sangat menentukan nilai nutrisi bahan pakan; b)Kebutuhan energi. Kebutuhan negeri merupakan syarat utama yang harus terpenuhi dalam ransum. Sumber energi bersal dari kalbohidrat, protein dan lemak; Kebutuhan protein. Kebutuhan protein biasanya dinyatakan berdasarkan prosentase protein dapat diverna dalam ransum.Pada ransum berserat kasar tinggi kandungan protein dapat dicerna sekitar 60 % dan sekitar 70 % pada ransum berkonsentrat tinggi; c)Kebutuhan vitamin. Vitamin diperlukan dalam jumlah sedikit namun harus diberikan kepada ternak.Kekurangan salah satu vitamin dapat menyebabkan akibat yang parah.Vitamin dapat dibagi menjadi 2, vitamin yang larut dalam air (A,D,E,K) dan vitamin yang mudah larut dalam lemak (B,C); d)Kebutuhan mineral. Kebutuhan mineral pada sapi diperlukan untuk kebutuhan hidup pokok dan pertumbuhan, Kebutuhan mineral terutama diperlukan dalam fase-fase pertumbuhan dan reproduksi ternak. Pemberian tergantung pada macama dan defisiensi mineral. Ada mineral yang diberikan dalam jumlah banyak misalnya, Ca,P,Na,Cl,Mg dan K sementara mineral yang diberikan dalam jumlah sedikit misalnya, Zn,S,Se,F dan Fe. Pengendalian Penyakit. Penyakit ternak selain dicegah dan diantisipasi penularannya juga harus segera diobati kalau ada ternak yang terjangkit penyakit. Pencegahannya dengan sanitasi yang baik sedangkan pengobatannya bisa dengan obat tradisional maupun obat-obatan kimia yang sudah terdaftar. Beberapa penyakit yang sering menyerang ternak serta pencegahan dan pengobatannya adalah: 1)Penyakit Kembung Perut. Dikenal pula dengan nama Tympanities,Tympani, Bloat, Hoven, Meteorismus, penyakit ini sering terjadi pada ruminansia dan mempunyai gejala yang khas yaitu terkumpulnya gas dilambung (rumen dan reticulum) sehingga terlihat perut kembung. Penyebabnya, dapat diklasifikasikan kepada 2 hal yaitu: a)Penyebab primer, akibat terbentuknya gas yang berlebihan (hasil fermentasi) karena makan hijauan leguminosa yang berlebihan dan rumput yang berembun dan disertai dengan penghambatan eructasi (sendawa), flatus (kentut); b)Penyebab sekunder, karena tertutupnya saluran pengeluaran gas (eructasi dan flatus) oleh penyumbatan misalnya tersumbat tongkol jagung, tersumbat oleh tekanan dari luar oleh tumor membengkaknya limphonodus mediastinales. Tertutupnya saluran gas /udara oleh karena menderita hernia diaphragmatica, indigesti. Gejala klinis. Terjadi Kembung perut disebelah kiri kemudian kekanan apabila kembung semakin membesar tekanannya (30 mg Hg) maka akan terjadi sesak nafas, mukosa membiru (cyanotis). Pencegahan. a)Jangan menggembalakan ternak terlalu pagi karena masih banyak embun; b)Jangan memberikan daun leguminosa (kacang–kacangan) lebih dari 50 % dari jumlah hijauan; c)Memberikan zat anti buih (minyak goreng nabati) dengan memercikan pada hijauan pakan ternak. Terapi (pengobatan). a)Masukkan stomach tube ke dalam lambung, keluarkan feces dari rectum; b)Berikan obat anti buih seperti: (1)Minyak nabati; (2)Terpentin 30-60ml/ekor; (3)Minyak kayu putih 1 sendok teh; (4)Minuman Sprite 1 botol kecil/ekor; (5)Neometeoryl: Peroral 10 ml dicampur 500 ml air hangat; b)Tusuk lambung kiri dengan trokar sehingga gas akan keluar (merupakan tindakan terakhir apabila tindakan dengan obat tidak berhasil). Tusukan dapat diikuti dengan memasukan obat anti kembung, misalnya: Neometeoryl 10 ml dicampur 200 ml air hangat. 2) Mastitis. Penyakit ini radang pada ambing yang dapat menyebabkan kerusakan pada air susu yang dihasilkan oleh ambing tersebut. Mastitis disebabkan oleh bakteri Streptococcus,Staphylococcus, jamur. Gejala klinis, ada 4 tipe: a)Perakut. Ambing bengkak, hangat bila diraba. Depresi, demam, tidak nafsu makan; b)Akut. Ambing bengkak, hangat bila diraba, Agak depresi, agak demam; c)Sub akut. Ambing bengkak, hangat diraba, tidak depresi; d)Subklinis. Tidak ada perubahan ambing, tidak depresi. Pencegahan, antara lain: a)Lakukan pemerahan susu sesuai prosedur dan hygienis; b)Pemerah jangan sering berganti ganti. Therapi (pengobatan), yang disebabkan oleh bakteri dapat diberikan antibiotik sedang karena jamur sulit untuk diobati; 3)Keracunan Insektisida. Sering terjadi pada ternak karena pakan hijauannya terkontaminasi oleh insektisida melalui penyemprotan. Keracunan insektisida ada 2 macam yaitu: a)Keracunan insektisida kelompok Chlorinated hydrocarbon, misalnya: DD, BHC, Toxaphen, Dieldrin, Aldrin; b)Keracunan insektisida kelompok organophosphor misalnya: Tetra Ethyl Pyrophosphat, parathion, Malathion, Coumaphos, Daizinon; c)Keracunan insektisida kelompok carbamat, misalnya: Sevin, Furadan, Baygon. Gejala klinis. a)Keracunan oleh kelompok Chlorinated hydrocarbon: (1)Tremor (gemetar) sampai lebih hebat lagi yaitu convulsi; (2)Kepala terkulai diantara kaki depan; b)Keracunan Organophsophos dan carbamat sama gejala klinisnya; (1)Salivasi (keluar air liur); (2) Diarrhae; (3)Dyspnoe (sesak nafas); (4) Jalan kaku (ataxia) dan convuls. Pencegahan dan pertolongan pertama. Menghindari pakan yang terkontaminasi insektisida. Apabila insektisida melekat pada tubuh ternak segera bersihkan dengan air. Apabila termakan maka berikan minum air susu, norit, gastric lavage (minyak nabati). Terapi. a)lakukan pertolongan pertama; b)Berikan obat penenang misalnya phentobarbital 5 mg peroral (Inang Sariati). Sumber : https://jabar.litbang.pertanian.go.id/images/stories/JUKNIS%202011/Bdy%20Sapi%20Potong.pdf https://banten.litbang.pertanian.go.id/new/index.php/publikasi/folder/164-budidaya-ternak-sapi-potong https://id.wikipedia.org/wiki/Peternakan