APLIKASI PAKAN COMPLETE FEED Usaha Penggemukan Kambing Kambing yang digemukkan adalah kambing jantan. Umur berkisar antara 10 bulan sampai 1 tahun dengan bobot badan awal antara 18-22 kg. Kriteria bibit yang baik adalah bentuk eksterior tubuh seperti kepala besar dan panjang, badan panjang dang tinggi, bentuk kaki normal, dada dan pinggang lebar. Kondisi tubuh tidak cacat dan yang terpenting ternak dalam keadaan sehat. Gigi bakalan umumnya belum tanggal atau “poel”. Kisaran bobot badan awal bakalan antara 18-22 kg umumnya menunjukkan pertumbuhan yang relatif cepat dan optimal dalam mengkonversi pakan menjadi daging. Bila bobot awal bakalan lebih besar atau diatas 22 kg maka lama penggemukan bisa lebih singkat, sedangkan bila bobot awal bakalan kurang dari 15 kg maka waktu penggemukan lebih lama dari 4 bulan. Dengan bobot awal 18-22 kg rata-rata lama penggemukan mencapai 3-4 bulan dengan target bobot badan akhir waktu dijual sekitar 35-40 kg. Tingkat kenaikan berat badan di para peternak mencapai 4-5 kg/ekor/bulan dengan pemberian pakan complete feedsebanyak 1,2-1,4 kg/ekor/hari. Pakan yang diberikan hanya berupa pakan complete feed, jumlah pemberian disesuaikan dengan perkembangan bobot badan kambing (Tabel 3). Tabel 3. Jumlah pemberian pakan complete feeduntuk penggemukan kambing Frekuensi pemberian pakan complete feeddilakukan dua kali yaitu pagi sekitar pukul 06.30-07.00 dan sore sekitar pukul 15.30-16.00 wib. Untuk stimulan pakan, sebaiknya ternak kambing diberi “jamu” yang terbuat dari ekstrak empon-empon seperti kunyit, kencur, jahe, temulawak yang difermentasi dengan mikroorganisme efektif. Manfaat pemberian jamu ternak ini antara lain: a) untuk mempercepat adaptasi ternak terhadap pakan complete feed, b). meningkatkan/merangsang nafsu makan ternak serta efisiensi pencernaan, c).meningkatkan kesehatan ternak, d).mengurangi bau kotoran. Dosis pemberian jamu ternak tersebut sekitar 25 ml/ekor/hari dengan frekuensi pemberian sekali yaitu pada siang hari. Pemberiannya dapat melalui oral/mulut menggunakan spet plastik, atau melalui minuman dan pakan. Pemberian minum dilakukan secara ad-libitum, setiap pagi air minum diganti dengan yang baru dan selalu dikontrol dan jika air minum berkurang/habis segera ditambah. Air untuk minum ternak bisa air sumur, PDAM, dll. Yang penting bebas dari kontaminan. Usaha Penggemukan Domba Syarat perkandangan sehat meliputi, sirkulasi udara baik, dinding terbuka, kandang panggung dengan lantai kayu bersisir renggang agar kotoran ternak jatuh, tinggi panggung 0.50 m hingga 0.75 m dari tanah. Kandang sebaiknya terkena sinar matahari, kapasitas kandang ukuran 1.0 m X 1.0 m berisi 3 ekor. Tempat pakan terbuat dari kayu dan tempat minum disediakan permanen. Namun kandang paling efisien adalah koloni dengan ukuran yang lebih luas sehingga setiap ruangan cukup untuk 10 ekor hingga 15 ekor. Diusahakan ada tempat penampungan kotoran dan air kencing. Lampu penerangan sebaiknya ada dalam kandang. Jenis domba yang potensial digemukkan meliputi: domba Garut, domba ekor gemuk, dan domba ekor tipis. Umur bibit/bakalan yang ideal 10 bulan hingga 15 bulan. Lama penggemukan 3 bulan sampai 4 bulan. Berat badan awal 18 kg hingga 20 kg. Ciri-ciri bibit baik yaitu badan kurus namun sehat, pertulangan besar, kaki besar simetris, punggung lurus, mata cerah, bulu tipis, muka cembung, tidak bertanduk untuk domba EG, pembelian bakalan sebaiknya mencari di pasar dengan pertimbangan banyak pilihan/perbandingan. Pembelian bakalan dengan taksiran berdiri namun lebih akurat dengan pembelian timbangan hidup. Pakan domba secara umum dipeternak berupa hijauan yaitu rumput dan dedaunan. Hanya sedikit peternak yang menambahkan katul/dedak padi sebagai pancingan minum. Pada saat memberi minum peternak menambahkan sedikit garam untuk menambah palatabilitasnya. Perlu diingat bahwa kandungan nutrisi tertinggi pada hijauan adalah serat kasar saja, sedangkan protein, energi dan gizi lainnya sangat terbatas. Disisi lain pakan penguat (konsentrat)cukup banyak mengandung protein, lemak, energi dan mineral yang sangat esensial dibutuhkan domba. Complete feed perpaduan komponen pakan penguat dan sumber serat sekaligus, sehingga serat kasar sudah cukup terkandung di dalamnya. Kelebihan penggunaan complete feed adalah tidak ada masalah dengan hijauan sehingga jumlah ternak yang dipelihara bukan hambatan dalam penyediaan rumput. Penggunaan tenaga kerja lebih efisien yaitu ratio tenaga kerja 1 orang untuk 100 ekor hingga 150 ekor domba. Jumlah pemberian 3.0% - 4% dari berat badan, misal berat domba 25 kg maka kebutuhan complete feed perhari 0.75 kg sampai 1.00 kg. Cara pemberian kering dengan air minum tersedia tanpa tambahan apapun. Frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari, pagi jam 07.00 – 08.00 dan sore jam 15.00 – 16.00. Malam hari tidak perlu diberi pakan, namun perlu penerangan agar dapat makan apabila pakan belum habis. Adaptasi pakan dilakukan pada minggu pertama yaitu pagi hari dan siang diberikan complete feed sesuai kemampuan ternak baru sore harinya diberi tambahan rumput apabila konsumsi masih sedikit. Adaptasi dapat pula dilakukan dengan mencampur complete feed dengan hijauan selama diperlukan. Namun apabila domba tersebut telah menghabiskan complete feed 3% perhari dari bobot badan maka rumput sudah tidak perlu diberikan lagi. Usaha Pembibitan Kambing Untuk induk dan pejantan dipilih dari jenis unggul yaitu yang berasal dari keturunan yang persentase kelahiran dan kesuburan tinggi, serta kecepatan tumbuh dan persentase karkas yang baik. Hal ini karena keberhasilan usaha pembibitan tidak terlepas dari ketepatan pemilihan induk dan pejantan yang memiliki sifat-sifat baik dan unggul. Pemilihan induk dilakukan dengan kriteria sebagai berikut : calon induk berumur sekitar 1,5-2 tahun, tidak cacat, bentuk perut normal, telinga panjang, bulu halus, roman muka baik, ekor normal dan memiliki nafsu kawin besar. Pemberian pakan dalam usaha pembibitan agak berbeda dengan penggemukan, karena dalam usaha pembibitan waktu pemeliharaan lebih lama sehingga biaya pakan diusahakan semurah mungkin. Pola pemberian pakan dapat diupayakan dengan campuran antara hijauan sebagai ransum pokok dan konsentrat atau complete feedsebagai pakan tambahan. Sumber hijauan dapat memanfaatkan golongan rumput-rumputan (rumput gajah, benggala, raja, meksiko, dan rumput alam), golongan leguminosa (daun lamtoro, turi, gamal, kacang tanah, albisia, kaliandra, siratro), limbah pertanian (tebon jagung, daun ketela pohon, ketela rambat). Komposisi pakan yang diberikan disesuaikan dengan umur dengan patokan proporsi campuran sebagai berikut : a) Dewasa b) Induk bunting c) Induk menyusui d) Anak sebelum disapih e) Anak lepas sapih = = = = = Hijauan 75% + Complete feed 25% Hijauan 60% + Complete feed 40% Hijauan 50% + Complete feed 50% Hijauan 40% + Complete feed 60% Hijauan 25% + Complete feed 75% Jumlah pemberian pakan adalah ±3 % dari bobot badan. Hal yang penting dalam usaha pembibitan antara lain pengelolaan reproduksi yaitu pengaturan perkawinan yang terencana dan tepat waktu. Peternak perlu memahami arti dewasa kelamin dan dewasa tubuh. Dewasa kelamin adalah saat memasuki masa birahi pertama kali dan siap melaksanakan proses reproduksi. Dewasa kelamin pada kambing dicapai pada umur sekitar 8 bulan baik untuk jantan maupun betina. Dewasa tubuh adalah saat jantan dan betina siap untuk dikawinkan. Dewasa tubuh dicapai pada umur 10-12 bulan pada betina dan > 12 bulan pada jantan. Perkawinan akan berhasil apabila betina dalam keadaan birahi. Untuk memudahkan peternak, sistim perkawinan dapat dilakukan secara alami dengan cara mengumpulkan pejantan dalam kelompok induk betina dengan ratio jantan : betina antara 1 : 8 sampai 1 : 10 dalam satu petak kandang koloni berukuran 4 x 4 meter. Bila perkawinan dilakukan secara alami, maka peternak harus selalu memonitor untuk mengetahui induk-induk yang sudah dikawin dan kondisi bunting. Bagi induk yang positif sudah bunting, sebaiknya segera dipisah dari kandang kelompok dan ditempatkan pada kandang khusus untuk induk bunting baik kandang sistim individu maupun kandang kelompok sampai melahirkan dan membesarkan anak. Bila tersedia fasilitas dan tenaga inseminator, sistim perkawinan induk dapat juga dilakukan dengan inseminasi. Namun perkawinan buatan tersebut memerlukan kejelian peternak dalam memonitor gejala-gajala birahi induk-induk dan ketepatan serta kecepatan melakukan inseminasinya. Sedangkan dengan sistim kawin alam, maka tugas memonitor gejala birahi induk tidak perlu dilakukan oleh peternak karena pejantan secara naluriah dan otomatis akan mengawini induk yang sedang birahi. Induk yang bunting diberi makanan yang berkualitas, ruangan untuk bergerak yang agak luas, dan dipisahkan dari kelompok lainnya. Induk yang melahirkan diberi minum dan makanan hijauan yang dicampur dengan konsentrat (pakan penguat) atau complete feed. Selain itu, induk harus dimandikan minimal seminggu sekali dengan cara disiram kemudian dijemur matahari pada pagi hari. Kuku juga perlu dipelihara dan dipotong setiap 4 bulan sekali menggunakan golok, pahat kayu pisau kuku atau gunting kuku. Lama kebuntingan sekitar 150 hari atau 5 bulan. Proses kelahiran berlangsung 15-30 menit, jika 45 menit setelah ketuban pecah anak belum lahir, maka perlu dibantu. Anak yang baru lahir dibersihkan dengan menggunakan lap kering agar dapat bernafas. Biasanya induk akan menjilati anaknya hingga kering dan bersih. PENUTUP Pengembangan teknologi pakan lengkap (complete feed) dengan pemanfaatan limbah pertanian, perkebunan & agroindustri untuk mendukung agribisnis ternak ruminansia harus mempertimbangkan kondisi wilayah dan ketersediaan sumberdaya pakan lokal setempat. Pilihan inovasi teknologi harus mampu mengintegrasikan berbagai potensi, peluang dan kepentingan setiap wilayah sehingga mampu meningkatkan daya saing, berkelanjutan serta mampu merespon dinamika pasar. Teknologi pakan lengkap (complete feed) yang memanfaatkan bahan baku lokal seperti limbah pertanian, perkebunan dan agroindustri merupakan salah satu alternatif “feeding strategy” yang dapat dipilih dan saat ini teknologi complete feedtersebut telah siap untuk diaplikasikan secara meluas di berbagai kondisi daerah. Beberapa keunggulan pengembangan pakan berbasis bahan baku lokal antara lain harga lebih murah dengan kualitas standard, mudah dalam pengumpulan bahan baku dan distribusi produk, nilai tambah dari kegiatan prosesing pakan diperoleh langsung para peternak, serta dapat menumbuhkan embrio usaha agroinput pada skala usaha kecil dan menengah di daerah-daerah sentra produksi ternak. DAFTAR BACAAN : Manajemen Budidaya Ternak Kambing, Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kabupaten Pekalongan, 2016. Petunjuk Teknis : Pembuatan Pakan Lengkap untuk Ruminansia, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat, 2009. Oleh : Ahmad Tsani R.,S.Pt Balai Penyuluhan Pertanian Wonopringgo