Loading...

Pala Komoditi yang Mulai Terlupakan

Pala Komoditi yang Mulai Terlupakan
Tanaman Pala (Myristica fragrans Houtt) merupakan tanaman asli Indonesia, berasal dari kepulauan Banda (MALUKU). Tanaman Pala menyebar ke pulau Jawa,pada saat perjalanan Marcopollo ke Tiongkok yang melewati pulau Jawa pada tahun 1271 sampai 1295 pembudidayaan tanaman pala terus meluas sampai Sumatera. Sampai saat ini Indonesia merupakan produsen pala terbesar dunia ( 70-75 % ). Negara produsen lainnya adalah Grenada sebesar 20-25%, kemudian selebihnya India, Srilangka dan Malaysia. Maluku merupakan pusat asal tanaman pala dengan keragaman yang tinggi (Deinum1949 ). Tanaman ini merupakan salah satu tanaman rempah-rempah yang menjadi rebutan bangsa-bangsa yang datang ke Indonesia,antara lain bangsa Portugis tahun 1511. Biji dan Fulinya dibawa ke daratan Eropa dan dijual dengan harga yang sangat mahal. Harga yang tinggi ini merupakan perangsang bagi bangsa-bangsa lain untuk datang ke Indonesia. Tanaman pala kemudian dikembangkan ke daerah Minahasa dan kepulauan Sanger Talaud,Sumatera barat dan Bengkulu tahun 1748, kemudian menyusul di Jawa,Aceh dan Lampung. Pada jaman kekuasaan Inggris, tanaman ini disebarkan pada beberapa daerah jajahan tetapi tidak berhasil baik di Malaya dikalahkan oleh karet, di pulai kecil India Barat ( Grenada ) dapat berhasil baik, sehingga daerah ini menjadi saingan Indonesia dalam ekspor pala di dunia. Tanaman pala juga membutuhkan iklim yang panas dengan curah hujan yang tinggi dan agak merata/tidak berubah sepanjang tahun. Suhu udara lingkungan 20-30 OC, sedangkan curah hujan terbagi secara teratur sepanjang tahun.Tanaman pala tergolong tanaman yang tahan terhadap musim kering selama beberapa bulan. Tanaman ini membutuhkan tanah yang gembur,subur dan sangat cocok pada tanah vulkanis yang mempunyai pembuangan air yang baik. Tanaman pala tumbuh baik di tanah yang bertekstur pasir sampai lempung dengan kandungan bahan organic yang tinggi. Sedangkan pH tanah yang cocok untuk tanaman pala adalah 5,5 -6,5. Tanaman ini peka terhadap ganguan air, maka untuk tanaman ini harus ada saluran drainase yang baik. Tanaman pala dapat tumbuh baik di daerah yang mempunyai ketinggian 500-700 m dari permukaan laut. Sedangkan pada ketinggian diatas 700 m, produktivitas tanaman akan rendah. Biji pala mengandung minyak lemak (fixed oil) sebanyak 25 - 40 % minyak lemak ini dapat diperoleh dengan cara menggiling dan memeras biji pala tersebut. Apabila minyak lemak tidak dikeluarkan lebih dahulu, pada penyulingan akan ikut tersuling dan akan sulit di pisahkan dari minyak palanya. Setelah biji pala digiling kemudian dimasukkan bejana, dan dilakukan penyulingan selama +10 - 30 jam. Setelah disaring, minyak ditampung ke dalam botol penampung yang digunakan untuk memisahkan air dari minyak, rendemen minyak yang diperoleh berkisar antara 7-16%. Minyak pala berupa cairan yang hampir tidak berwarna/kuning muda, dengan bau khas pala, apabila disimpan akan menyerap oksigen dan menjadi kental. Minyak pala ini dieksport ke Singapura, Perancis, Inggris, Nederland dan Amerika Serikat. Standar mutu minyak pala: Deskripsi : minyak pala adalah minyak yang diperoleh dari penyulingan biji-biji buah tanaman Myristica fragrans Houtt. Jenis mutu : minyak pala digolongkan dalam satu jenis mutu. Sumber: Materi Penyuluhan Bakorluh Maluku