Penyakit bakteri pembuluh kayu cengkeh (BPKC) merupakan salah satu penyakit yang sangat merusak pada tanaman cengkeh di Indonesia. Penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri yang didentifikasi sebagai Ralstonia syzygii (sebelumnya dikenal sebagai Pseudomonas syzygii). Bakteri tersebut mempunyai sifat-sifat morfologi, biokimia, dan patogenisitas yang berbeda dengan Ralstonia solanacearum. Disamping itu R. syzygii juga berbeda dengan bakteri-bakteri patogen pada tanaman lainnya. Cengkeh merupakan salah satu komoditas rempah yang utama di Indonesia. Disamping digunakan sebagai rempah dan obat, cengkeh banyak digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan rokok kretek. Hampir 40 % komponen dari rokok kretek terdiri atas cengkeh, yang pada umumnya merupakan campuran dari kuncup dan bunga kering. Produksi cengkeh di Indonesia sering mengalami fluktuasi yang salah satunya dikarenakan adanya serangan berbagai jenis penyakit. Penyakit Sumatera atau yang lebih dikenal sebagai penyakit bakteri pembuluh kayu cengkeh (BPKC) merupakan salah satu penyakit yang sangat merusak yang pernah mewabah di Indonesia, sehingga menyebabkan kerugian produksi yang sangat besar. Penyakit tersebut kemungkinan telah ada di Indonesia lebih dari seratus tahun yang lalu sebelum penyakit tersebut pertama kali dilaporkan mewabah pada pertanaman cengkeh di Sumatera Barat pada tahun. Selanjutnya penyakit berkembang dan menyebar ke hampir semua daerah sentra produksi cengkeh di Indonesia. Di lapangan, pada umumnya bibit dan tanaman cengkeh yang masih muda yang umurnya kurang dari dua tahun jarang menunjukkan gejala sakit. Walaupun tanamannya mungkin sudah terinfeksi bakteri, namun mash dapat bertahan hidup (disease escape). Pada kebun-kebun yang umur tanamannya beragam, tanaman-tanaman yang paling tua dan lebih tinggi biasanya terinfeksi terlebih dahulu, namun gejala dan kematian tanaman berkembang lebih cepat pada tanaman-tanaman yang lebih muda yang juga telah terinfeksi. GEJALA Penyakit BPKC berbeda dengan penyakit-penyakit penyebab mati massal lainnya, seperti penyakit mati bujang, die back, dan layu yang sering terjadi pada tanaman cengkeh di Indonesia. Gejala penyakit BPKC diawali dengan terjadinya keguguran dan dan matinya bagian puck tanaman yang dimulai dari ujung ranting-ranting di bagian paling atas tanaman. Pada saat gejala awal penyakit terlihat, yaitu pertama kali bagian tanaman cengkeh yang ada di atas permukaan tanah menunjukkan gejala sakit, maka pada saat tersebut infeksi patogen telah berkembang di dalam jaringan tanaman, terutama pada bagian akar dan pangkal batangnya. Selanjutnya patogen menyebar ke cabang-cabang dan ranting-ranting dibagian atas tanaman yang baru tumbuh. Gugurnya daun selanjutnya diikuti dengan gejala layu dari semua daun, schingga baik secara cepat maupun lambat tanaman cengkeh akan mati. Gejala gugur daun dan mati puck merupakan efek dari tersumbatnya pembuluh kayu pada akar dan batang tanaman oleh patogen, sehingga akar dan batang menjadi rusak dan kehilangan fungsinya . Gejala penyakit yang ditemukan di lapangan sangat bervariasi. Keanekaragaman gejala dan penyebaran penyakit disebabkan adanya strain-strain dari patogennya yang day virulensinya berbeda.Ada dua tipe gejala ekstrim dari penyakit BPKC yang dapat dibedakan, yaitu mati cepat (mati secara mendadak atau mati layu) dan mati lambat (seperti mati karena tanaman menua). Tipe gejala mati cepat biasanya terjadi di dataran tinggi, seperti di Kabupaten Agam, Tanah datar, Solok (Sumatera Barat), Tapanuli dan Asahan Selatan (Sumatera Utara), Kota Agung(Lampung), dan di Ciomas dan Pasir Madang (Jawa Barat). Tipe gejala mati lambat biasanya terlihat di dataran rendah, seperti di daerah pantai Padang Pariaman (Sumatera Barat). Kedua tipe gejala yang berbeda tersebut juga ditemukan ada di dataran rendah di Bengkulu, Payakumbuh, dan Padang (Sumatera), serta di Ciomas, Serang, dan Mataram (Jawa Barat). PATOGEN Penyakit BPKC disebabkan oleh sejenis bakteri yang khusus menyerang jaringan pembuluh kayu tanaman cengkeh. Bakteri tersebut secara konsisten dapat diisolasi dari tanaman cengkeh yang menunjukkan gejala khas penyakit BPKC dan keberadaan bakteri tersebut terbatas hanya di dalam jaringan pembuluh kayu. Bakteri penyebab penyakit BPKC pada awalnya disebut Rickettsia-like bacterium (RLB), Xylem Limited Bacterium (XLB), dan selanjutnya disebut Sumatera disease bacterium (SDB). Atas dasar sifat-sifat morfologi, biokimia, dan patogenisitas dari 46 strain bakteri pembuluh kayu yang telah diisolasi dari tanaman cengkeh yang sakit, menunjukkan adanya perbedaan antara strain-strain bakteri tersebut dengan Ralstonia solanacearum yang juga dapat menyebabkan layu pada bibit cengkeh yang dinokulasi secara buatan. Bakteri penyebab penyakit BPKC juga berbeda dengan bakteri-bakteri patogen yang menyerang tanaman lainnya. Oleh karena itu, bakteri tersebut selanjutnya didentifikasi dan diusulkan namanya sebagai Pseudomonas syzygii sp. nov. P. syzygii bersifat aerob, gram negatif, berbentuk batang pendek, berukuran sekitar 0.5-0.6 um x 1.0-1.5 um, tidak mempunyaiflagella, tidak bergerak, tidak berspora, dan dinding terluarnya berlekuk-lekuk Sesuai dengan kemajuan teknologi karakterisasi DNA, nama resmi bakteri pembuluh kayu cengkeh adalah Ralstonia syzygii. Bakteri tersebut dapat tumbuh pada media buatan, seperti nutrient agar (NA) atau setengah konsentrasi NA (dengan tambahan agar pada kepekatan normal) yang mengandung 0.25 % ferik khlorit atau ferik sitrat. Selain itu juga dapat tumbuh pada media yang mengandung asam casamino dan pepton glutamat. Pada media NA dan setengah konsentrasi NA, bakteri membentuk koloni yang tumbuh lambat dengan diameter maksimum 1 mm setelah diinkubasi selama 5-7 hari pada suhu 28 °C. Pada umumnya R. syzygii membentuk koloni yang berbentuk bulat, berwarna bening, dengan ukuran diameter sekitar 1-1.5 mm setelah dinkubasi selama 7-10 hari pada suhu 29-30 °C. Pada media dan suhu yang sama bakteri patogen pada tanaman lain biasanya tumbuh lebih cepat dan koloninya lebih bear, sehingga dapat dibedakan dengan koloni R. syzygit. R. syzygii tumbuh sangat lambat pada media umum yang biasa digunakan dalam bakteriologi. Pada media umum tersebut bakteri tumbuh pada pH sekitar 6-7, pertumbuhan optimumnya pada suhu 28 °C dan tidak tumbuh pada suhu 37 °C. PENGENDALIAN Penyakit BPKC sangat sulit dikendalikan dengan teknik-teknik pengendalian yang tersedia. Cara-cara pengendalian yang telah dikembangkan mash terbatas digunakan untuk perbaikan kondisi lingkungan, pencegahan penyebaran dan penekanan perkembangan gejala penyakit. Sedang teknik-teknik tersebut belum dapat mengendalikan penyakit BPKC secara tuntas. Sampai sat ini belum ada dan belum tersedia varietas cengkeh yang tahan terhadap penyakit BPKC (Bennett et al., 1985 dan Hunt et al., 1987), sehingga mash perlu dikembangkan cara-cara pengendalian lain yang lebih aman dan efektif. Beberapa cara yang telah dikembangkan untuk mengendalikan penyakit BPKC antara lain: PEMBERIAN INFUS ANTIBIOTIK Pemberian antibiotik yang diinfuskan pada batang tanaman cengkeh sakit selain dapat menunda timbulnya gejala juga dapat menekan dan memperlambat perkembangan penyakitpenyakit BPKC. Selain itu infus dengan antibiotik juga dapat memperpanjang masa produktif pohon cengkeh yang sakit. Pada pengamatan secara mikroskopis, jumlah jaringan pembuluh kayu yang tersumbat oleh massa bakteri pada tanaman cengkeh yang diinfus dengan antibiotik lebih sedikit dibandingkan pada tanaman yang tidak dinfus. Aplikasi antibiotik sebaiknya dilakukan dengan jarum infus yang berdiameter kecil (1 mm). Hal ini untuk mengurangi kerusakan pada batang tanaman yang diinfus. Antibiotik seperti oksitetrasiklin (OTC) dan streptomisin dapat dinfuskan ke dalam batang pohon cengkeh yang bergejala awal secara berulang-ulang. Dosis antibiotik (OTC) yang biasa digunakan adalah 6 g/1000 ml air yang diaplikasikan 3-4 bulan sekali. Walaupun pemberian infus antibiotik dapat mengurangi gejala dan perkembangan penyakit BPKC, namun kadang hal ini mash sulit untuk diterapkan. Pemberian infus dengan antibiotik pada tanaman cengkeh sakit hanya efektif jika penyakit BPKC mash pada tingkat serangan awal. Selain itu kadang-kadang ditemukan gejala keracunan tanaman yang ditandai dengan mengeringnya daun dan kuncup bunga. Selain itu, daun-daun menjadi kerdil. Berhubung nilai ekonomi dari tanaman cengkeh sangat tinggi, maka perlakuan dengan antibiotik dapat dipakai sebagai salah satu metode pengendali penyakit BPKC untuk jangka pendek. Aplikasi insektisida dilakukan setiap 6 minggu sekali sampai tidak ditemukan kembali serangga vektornya. Hail penelitian yang dilakukan di Jawa Barat menunjukkan bahwa insektisida sihalotrin dan monokrotofos yang disemprotkan pada daun dapat mengendalikan serangga vektor H. striata dan mempunyai efek yang dapat bertahan lama. Sedang penyemprotan dengan khlorfluazuron dan pengolesan batang dengan insektisida asepat dapat mengendalikan populasi nimfa H. striata. Pengolesan batang dengan insektisida aldikarb, karbofuran, danpenyemprotan dan dengan monokrotofos dan diazinon juga dapat mengurangi populasi H. striata selama 4 sampai 5 minggu setelah perlakuan. Sedang penyemprotan dengan insektida dimetoat kurang berpengaruh terhadap populasi H. striata . Penyemprotan dengan Aldikarb juga memberikan pengaruh terhadap populasi serangga vektor dan dapat bertahan lama sampai 7 hari setelah penyemprotan. Sedang penyemprotan dengan karbofuran pengaruhnya bar mulai terlihat sekitar 42 hari setelah perlakuan yang kedua. Secara biologi Serangga vektor juga memungkinkan untuk dikendalikan dengan cara biologi, yaitu dengan memanfaatkan musuh alaminya. Hasil penelitian yang telah dilakukan di Bogor, Jawa Barat maupun di Tanah Karo, Sumatera Utara, telah ditemukan serangga musuh alami dari Hindola spp. yang berupa parasitoid telur, yaitu Acmopolynema sp.Walaupun keberhasilan pengendalian serangga vektor biasanya sulit dicapai apabila hanya dilakukan dengan cara biologi, namun cara biologi harus tetap dipelajari agar dapat digunakan sebagai salah satu komponen dalam pengendalian penyakit BPKC secara terpadu. (Purnomojati Anggoroseto, SP, MSi.) (Sumber: Penyakit Bakteri Pembuluh Kayu Cenckeh Diagnosa Dan Pengendaliannya, balai penelitian tanaman rempah dan obat, 2013)