Loading...

Panduan Lengkap dan Praktis Budidaya Cabai Merah

Panduan Lengkap dan Praktis Budidaya Cabai Merah

Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu tanaman hortikultura dari famili Solanaceae yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Budidaya cabai merah yang berhasil, dapat menghasilkan produktivitas dan nilai jual yang tinggi. Keberhasilan budidaya cabai merah dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti keterampilan cara bercocok tanam, pemilihan bahan tanam, faktor lingkungan, pemeliharaan seperti untuk pemupukan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman himgga pascapanen.

 

Teknik Budidaya Cabai Merah

 

1.                Persiapan Lahan

Pengolahan lahan yaitu tanah dapat dicangku atau dibajak sedalam 30-40 cm menggunakan traktor secara merata hingga gembur dan dibiarkan 5-7 hari. Lakukan pembuatan bedengan supaya tanaman yang tumbuh tidak tergenang air, menjaga tanaman tetap tegak, dan optimal dalam menyerap unsur hara yang tersedia. Lakukan pengapuran tanah untuk menaikkan pH tanah dari masam menjadi netral dan memperbaiki strruktur tanah. pH yang dapat ditoleransi oleh tanaman cabai adalah pH 5,5-6,8. Pemberian pupuk organic dan pupuk dasar juga sangat penting dilakukan. Lakukan pemasangan mulsa untuk menjaga suhu dan kelembapan tanah agar relatif stabil, mencegah hilang/tercucinya unsur hara akibat air atau penguapan, mengurangi terjadinya penguapan air di tanah, mengurangi intensitas pertumbuhan gulma sehingga mengurangi pemeliharaan penyiangan gulma, dan mencegah kerusakan buah cabai akibat percikan air tanah sehingga mencegah serangan penyakit busuk buah. Pembuatan lubang tanam dilakukan sesuai jarak tanam ideal.

 

2.               Persiapan Benih

Pemilihan benih cabai merah adalah untuk mendapatkan benih yang bermutu tinggi, sehat, memiliki produktivitas tinggi, dan memiliki sertifikat/masa. Selanjutnya membuat perlakuan benih sebelum semai dengan cara merendam benih selama beberapa waktu untuk meningkatkan mutu benih. Lakukan penyemaian benih adalah untuk menghemat benih, menciptakan bibit yang seragam pertumbuhannya, dan memperoleh bibit sehat yang kuat karena telah melalui proses pemilihan benih.

 

3.               Penanaman

Waktu pindah tanam bibit cabai merah adalah 21-28 hari setelah semai. Pindah tanam sebaiknya dilakukan sore hari atau pada pagi hari sekali agar mengurangi layu tanaman akibat terik sinar matahari. Setelah semua bibit selesai dipindah tanam, kemudian disiram air dengan menggunakan sprayer/gembor hingga basah merata. Penyiraman pertama ini dilakukan sore hari untuk mengurangi penguapan.

 

4.               Pemeliharaan

Penyulaman adalah kegiatan mengganti tanaman yang layu atau mati di lahan dengan tanaman baru yang lebih sehat. Penyulaman tanaman cabai merah dapat dilakukan 1-2 hari saja setelah pindah tanam pertama.

 

Penyiraman yang tepat untuk tanaman cabai yaitu dilakukan pada pagi hari. Pengairan untuk tanaman cabai yaitu setiap hari dari awal pertumbuhan hingga umur 1 bulan setelah pindah tanam, dan selanjutnya 2-3 hari sekali hingga akhir masa produksi buah cabai.

Pemasangan ajir mulai dilakukan saat awal pertumbuhan yaitu 1 minggu setelah pindah tanam. Pemasangan dilakukan saat masa pertumbuhan vegetatif tanaman agar mencegah kerusakan perakaran tanaman yang sedang berkembang. Apabila menggunakan sistem tanam tumpang gilir cabai dengan jagung, batang jagung setelah panen dapat digunakan sebagai bahan tambahan pembuatan ajir.

 

Pemupukan harus mengacu pada enam tepat, yaitu tepat dosis, tepat cara, tepat waktu, tepat jenis, tepat harga, dan tepat tempat. Jenis pupuk yang digunakan harus mengandung unsur hara makro (N, P, K, Ca, Mg, S) dan unsur hara mikro (Zn, Fe, Mn, Co, Mo). Contoh pupuk yang mengandung N, P, K, S yaitu NPK 16-16-16, urea (CH4 N2 O), ZA (NH4 ) 2 SO4 ), TSP (Ca(H2 PO4 ) 2 ) atau SP-36, KCl, ZK (K2 SO4 ). Unsur hara Mg dan Ca dapat diperoleh dari dolomit (CaMg(CO3 ) 2 ) saat proses pengapuran di awal persiapan lahan. Contoh pupuk yang mengandung hara mikro yaitu pupuk kandang dan pupuk kompos. Untuk tanah masam, tidak disarankan menggunakan pupuk ZA dan Urea.

 

Perempelan adalah proses kegiatan membuang tunas air, daun dan bunga pada cabai merah yang dilakukan secara manual menggunakan tangan atau bantuan alat yaitu gunting. Perempelan dilakukan di pagi hari, karena bila siang hari penyembuhan luka tanaman akibat pemotongan akan lebih lama.

 

Pengendalian organisme pengganggu tanaman adalah kegiatan untuk menekan serangan OPT yang dapat menurunkan produksi tanaman dengan menerapkan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT), sehingga tidak merugikan secara ekonomi dan aman bagi lingkungan. Tujuan pengendalian OPT yaitu untuk mengontrol perkembangan OPT, menghindari kerugian akibat gagal panen dan penurunan kualitas cabai, serta untuk menjaga kelestarian lingkungan. Pengendalian OPT meliputi pengendalian terhadap gulma, hama dan penyakit yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai merah.

 

5.               Panen dan Pascapanen

Panen cabai merah adalah kegiatan memetik buah cabai yang telah masuk masak fisiologis, yaitu ditandai dengan perubahan warna dari hijau menjadi merah dengan presentase kematangan 80%. Karakteristik buah cabai siap panen yang disukai konsumen yaitu warna buah sudah merata, kekerasan buah sedang – keras, bentuk buah memanjang (±10 cm), diameter buah sedang (±1,5 cm), dan permukaan buah halus mengkilap. Penanganan pascapanen buah cabai dibedakan menjadi 2 yaitu penanganan untuk buah cabai segar dan cabai kering, yang disesuaikan dengan tujuan pemasarannya.

 

Penulis

BPP Kecamatan Muara,  Dinas Pertanian Tapanuli Utara 

Sumber:

https://www.edufarmers.org/