PANEN DAN PASCAPANEN KEDELAI UNTUK PRODUKSI BENIH SUMBER
Dalam tahapan produksi benih sumber kedelai, salah satu titik krusial yang sering dihadapi para petani produsen atau penangkar benih kedelai adalah penanganan panen dan pascapanen untuk mendapatkan calon benih sumber yang bermutu tinggi. Hal ini disebabkan kesalahan dalam melakukan penanganan panen dan pascapanen seringkali menyebabkan turunnya daya tumbuh bahkan kegagalan untuk menghasilkan benih sumber kedelai yang berkualitas. Untuk bisa menghasilkan benih sumber kedelai yang berkualitas perlu diperhatikan cara-cara penanganan pascapanen yang benar sejak dari lapangan setelah dilakukan panen sampai penyimpanan benih kedelai sebelum didistribusikan. Panen kedelai hendaknya dilakukan pada saat mutu benih mencapai maksimal, yang ditandai dengan ± 95% polong telah berwarna cokelat atau kehitaman dan daun pada tanaman sudah rontok. Panen dapat dimulai pada pukul 09.00 pagi, pada saat air embun sudah hilang. Panen dilakukan dengan cara memotong pangkal batang dengan sabit. Brangkasan kedelai hasil panen langsung dikeringkan atau dijemur hingga kadar air benih mencapai ± 14%. Brangkasan kedelai yang telah kering (kadar air 14%) secepatnya dirontokkan dengan cara manual atau dengan threser. Perontokan perlu dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari benih pecah atau retak. Benih hasil perontokan perlu dibersihkan dari kotoran dengan cara ditampi atau dengan blower. Untuk mendapatkan ukuran benih yang seragam, perlu dilakukan sortasi dengan cara memisahkan biji yang berukuran kecil dan tidak dimasukkan ke dalam kelompok benih dan membuang biji tipe yang menyimpang. Benih yang sudah bersih dan seragam ukurannya segera dijemur atau dikeringkan hingga kadar air mencapai 9-10%. Sambil menunggu hasil uji laboratorium dan label selesai dicetak, benih dapat dikemas dalam karung plastik yang dilapisi dengan kantong plastik di bagian dalamnya dengan ketebalan 0,08 mm atau lebih, kemudian di-sealed atau dikelim rapat. Pengemasan dilakukan setelah contoh benih dinyatakan lulus oleh BPSB melalui uji laboratorium. Label benih dimasukkan ke dalam kemasan sebelum di-sealed. Pengemasan dan pemasangan label benih tersebut dilakukan untuk menghindari pemalsuan. Benih yang sudah dikemas dapat disimpan di dalam ruangan beralas kayu atau pada rak-rak kayu agar kemasan tidak bersinggungan langsung dengan lantai/tanah. Benih dalam penyimpanan harus terhindar dari serangan tikus atau hewan pengganggu lain yang dapat merusak kemasan. Kondisi penyimpanan yang baik adalah kondisi yang mampu mempertahankan mutu benih selama periode simpan, bahkan lebih lama. Kondisi ruang simpan yang baik untuk benih-benih yang bersifat ortodoks, termasuk kedelai adalah kondisi kering dingin. Untuk setiap penurunan 1% kadar air atau 100F (5,50C) suhu ruang simpan, akan melipatgandakan daya simpan benih. Kondisi tersebut berlaku untuk kada air benih 14-5% dan suhu 500C- 00C. Hasil penelitian menemukan formula ruang penyimpanan benih yang baik adalah apabila kelembaban relatif (% RH) ditambah dengan suhu ruang simpan (0F) sama dengan 100. Untuk memenuhi kondisi demikian, ruang simpan benih idealnya dilengkapi dengan AC (air conditioner) dan alat untuk menurunkan kelembaban ruang simpan (dehumidifier). Namun pengalaman petani di beberapa provinsi untuk mempertahankan daya tumbuh kecambah kedelai dapat dilakukan dengan cara menyimpan benih kedelai pada kadar air benih kurang dari 10 % (8 % - 9 %) pada ruang kedap udara (jerigen, galon, drum) yang didalamnya diberikan abu gosok secukupnya yang dibungkus kain tipis untuk menyerap air, kemudian ditutup rapat dengan sealed menggunakan lakban hitam. Cara penyimpanan benih kedelai seperti ini bisa mempertahankan daya tumbuh benih kedelai 6 bulan sampai dengan 12 bulan.Penulis : Jamhari HadipurwantaSumber: Pedoman Umum Produksi dan Distribusi Benih Sumber Kedelai, Kementerian Pertanian 2013.