Loading...

PANEN DAN PENANGANAN PASCA PANEN KOPI

PANEN DAN PENANGANAN PASCA PANEN KOPI
Pada budidaya tanaman kopi salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh para petani yaitu penangan panen dan pasca panen kopi. Penangan panen dan pasca panen kopi yang kurang tepat akan dapat merugikan para petani, hal ini terjadi karena kopi yang dihasilkan akan berkurang jumlahnya dan kualitas hasinya menjadi rendah. Adapun langkah-langkah dalam pemanenan dan penanganan pasca panen kopi yaitu: I. Panen buah kopi serta hubungannya dengan kualitas kopi Secara umum sudah disepakati bahwa kegiatan panen buah kopi dilakukan pada saat buah kopi sudah masak yang ditandai dengan warna buah merah. Pada kondisi buah sudah merah, seluruh komponen pembentukan buah sudah mencapai batas optimum. Hal ini dapat diartikan bahwa pada saat tersebut ukuran dan pengisian biji sudah maksimal. Oleh karena itu, kualitas cita rasa kopi pun mencapai puncaknya pada kondisi buah merah, Sebaliknya, bila panen dilakukan pada kondisi buah helum masak atau lewat masak maka pengisian buah belum maksimal sehingga berdampak pada penurunan bobot biji yang ditandai dengan fisik brji yang terlihat kisut untuk buah muda, dan berwarna hitam untuk buah lewat masak. Selain itu. muncul cita rasa yang tidak dikehendaki atau cacat cita rasa. Selain itu, kualitas biji kopi juga ditentukan oleh banyaknya campuran di luar biji kopi yang dapat terikut semenjak panen hingga pengemasan biji seperti ranting, kulit buah, dan bahkan kerikil. Oleh karena itu, diperlukan sortasi yang baik untuk menjamin biji kopi yang bersih dari campuran bahan lain. II. Metode Pengolahan Buah Kopi 1. Secara umum, pengolahan buah kopi dapat dilakukan melalui tiga cara yaitu pengolahan basah, pengolahan semi basah, dan pengolahan kering, Berbagai faktor dapat menjadi alasan pemilihan metode pengolahan kopi. Namun faktor yang sangat mempengaruhi adalah permintaan konsumen, terutama industri atau pabrikan. Perbedaan ketiga metode pengolahan secara prinsip adalah pengupasan buah, pencucian biji hasil pengupasan dan tingkat kemasakan buah. Pengolahan basah dan semi basah mengharuskan buah yang diolah merupakan buah merah sehingga diperlukan sortasi buah setelah panen, Sortasi dilakukan pertarna kali dengan cara diapungkan dalam air. Buah-buah yang mengapung merupakan tanda mutu biji yang tidak baik, contohnya adalah buah yang terserang hama penggerek buah kopi. Selanjutnya sortasi dilakukan untuk memisahkan buah merah dengan buah lainnya. Pengolahan kering dapat menggunakan semua jenis buah mulai dari hijau hingga merah. Seringkali ketiga metode pengolahan tersebut dikombinasikan. Misalnya, buah-buah hijau dan kuning yang terpanen diolah kering, sedangkan buah merah diolah basah atau semi basah. Pada prakteknya, pengolahan semi basah sering dilakukan dengan hanya memecah buah untuk semua tingkat kemasakan buah. Pada pengolahan semi basah, kegiatan pengeringan harus berjalan tanpa hambatan dikarenakan lendir buah yang terbuka merupakan tempat yang baik dan cepat untuk perkembangbiakan jam Pengeringan dapat dilakukan di atas terpal, lantai jemur semen, atau menggunakan para-para. Selama rnasa penjemuran, dilakukan pengadukan sehingga pengeringan dapat merata. Tidak dianjurkan mengeringkan buah kopi di atas lantai jemur tanah karena dapat merusak cita rasa dan rentan terhadap serangan jamur dan kontaminasi bahan non biji kopi. Pengeringan buah atau biji berkulit tanduk harus dilakukan hingga kadar air mencapai !2% sehingga tidak rusak ketika dilakukan pengupasan. Untuk mendapatkan mutu biji kopi yang baik, dilakukan sortasi dengan memisahkan biji hitam, biji coklat, biji berkulit tanduk, biji kopi gelondong, biji pecah, pecahan biji, biji berlubang satu, biji berlubang banyak. biji bertutul, biji muda, biji warna putih, kulit biji, kulit buah dan kotoran lainnya. III. Penyimpanan biji kopi 1. Penyimpanan biji kopi sebaiknya tidak lebih dari 3 bulan. 2. Biji kopi harus dikemas dan disimpan di ruang simpan yang tidak lembab, aerasi baik, bersih dan bebas dari bahan yang berbau asing dan bebas hama gudang. Penyimpanan dalam jangka waktu yang lebih lama memerlukan tempat penyimpanan yang baik, biasanya dilengkapi dengan alat pengatur kelembaban dan suhu. Bila penyimpanan kopi dilakukan untuk jumlah yang terbatas, maka dapat digunakan wadah kedap udara sehingga kadar air biji dapat konstan. Sebetulnya, biji kopi dapat disimpan dalam bentuk kopi gelondong, kopi berkutit tanduk atau kopi beras. Kopi gelondong, kopi H5, atau kopi beras dapat disimpan setelah cukup kering, dengan kadar air kurang dari 13% untuk kopi gelondong dan kurang dari 12% untuk kopi HS atau kopi beras. Penyusunan karung kopi dalam gudang harus menggunakan palet (landasan kayu) dengan jarak dari lantai 10 cm, 60 cm dari dinding, dan 60 cm antar tumpukan. Selama penyimpanan dilakukan pengawasan mutu biji kopi secara periodik (setiap bulan) meliputi kadar air, serangan hama dan jamur Oleh: Suroyo,SST PPL Kecamatan Pulau Panggung