Panen merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan budidaya Kayu manis (Cinnamomum zeylanicum). Mengingat produk kayu manis sangat spesifik yaitu berupa kulit kayu, tentunya dalam melakukan panen kulit kayu manis memerlukan penanganan yang spesifik pula diantaranya dengan cara menebang pohonnya atau mengelupas kulit kayunya. Sampai saat ini kayu manis merupakan salah satu komoditi perkebunan yang dibutuhkan banyak negara sebagai bahan penyedap makanan dan minuman, untuk industri farmasi dan kosmetika yang mutunya sangat ditentukan oleh banyak faktor diantaranya umur panen, waktu panen, sistem panen, teknik pemanenan dan pengelupasan kulit. Umur panen Umur panen sangat mempengaruhi produksi kulit kayu manis. Semakin tua umur tanaman maka hasil kulit kayunya akan lebih tebal sehingga produksinyapun akan lebih tinggi. Untuk mendapatkan kualitas kulit kayu manis yang ditinjau dari bentuk stick, umur ideal untuk dipanen adalah 6-12 tahun. Hal ini disebabkan kulit tanaman belum begitu tebal sehingga kulit kayu dapat menggulung dengan baik. Jika ditinjau dari kandungan minyak asiri, makin tua umur tanaman maka kandungan minyak asirinya makin tinggi pula yang dicontohkan dengan tanaman kayu manis usia 20 tahun kandungan minyak asirinya mencapai 3,5 - 4,5 % sebesar. Waktu panen Saat panen kayu manis terbaik ditandai oleh warna daun yang sudah menjadi hijau tua dan tumbuhnya pucuk baru. Jika tanaman sudah mempunyai tanda-tanda tersebut biasanya sudah cukup banyak aliran getah diantara kayu dan kulit sehingga kulit mudah terkelupas dan segera dapat dipanen. Mengingat kulit yang diperdagangkan dalam bentuk kulit kering, maka waktu terbaik untuk memanen atau menguliti tanaman kayu manis adalah saat menjelang musim hujan agar setelah panen, kulit kayu dapat langsung dijemur. Sistim panen Sistem panen sangat menentukan mutu kayu manis yang dihasilkan, bila dalam panen kurang benar maka mutu kayu manis akan turun. Ada tiga sistem panen yang dapat dilakukan yaitu: sistem tebang sekaligus, sistem situmbuk dan sistem batang dipukuli sebelum ditebang. Sistem tebang sekaligus, sistem ini sangat umum dilakukan oleh petani kayu manis, caranya dengan memotong langsung tanaman hingga dekat tanah, setelah itu dikuliti. Hal ini seperti yang dilakukan 50% petani di Sumatera Barat (di Kabupaten Tanah datar dan Kabupaten Agam). Sistem situmbuk, disebut situmbuk karena cara ini dikembangkan oleh petani di daerah Situmbuk, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Pada sistem ini, dua bulan sebelum tanaman ditebang kulit batang tanaman dikupas melingkar mulai dari ketinggian 5 cm dari pangkal batang hingga 80-100 cm. Selanjutnya tanaman ditebang pada ketinggian 5 cm dari pangkal batang. Tujuan menyisakan pangkal batang ini adalah untuk menumbuhkan tunas baru yang selanjutnya dapat dijadikan bibit. Sistem batang dipukuli sebelum ditebang, Sistem ini dikembangkan petani di daerah Sungayang, Kabupaten tanah Datar Sumatera Barat, dimana cara memanen kayu manis dilakukan dengan memukuli kulit batang secara melingkar. Dengan cara ini diharapkan kulit yang akan diperoleh lebih tebal. Bertambahnya ketebalan kulit karena pada bekas pukulan terjadi keretakan pada kulit, selanjuatanya dari retakan kulit tersebut akan tumbuh kalus baru sehingga kulit kayu tampak ada pembengkakan. Pemukulan batang dilakukan dua bulan sebelum tanaman dikuliiti dengan menggunakan pemukul dari kayu. Cara panen Panen kulit kayu manis dapat dilakukan sejak tanaman berumur muda, yang bertujuan untuk penjarangan. Penjarangan dilakukan dengan pertimbangan beberapa faktor antara lain kesuburan lahan, perkembangan musim, letak kebun diatas permukaan laut. Semakin tinggi letak kebun, maka akan semakin lambat pertumbuhannya. Panen penjarangan, panen ini dilakukan pada saat tanaman berumur 2-3 tahun, dengan tujuan untuk penjarangan tanaman, karena jarak tanaman sudah terlalu rapat, agar tanaman tumbuh lurus dan pertumbuhan cabang terhambat, serta untuk membuang tanaman yang sakit dan tanaman yang pertumbuhannya terlambat. Pada pertanaman kayu manis biasanya dilakukan dua kali penjarangan, namun jika penjarangan sudah dimulai sejak umur 2-3 tahun maka frekuensi penjarangan bisa tiga kali sebelum penebangan total. Interval penjarangan yang baik adalah 3-5 tahun. Cara penjarangan dilakukan hanya dalam baris tanaman dan tanaman yang ditebang pada ketinggian 5-10 cm dari permukaan tanah atau leher akar. Hal ini dilakukan agar pangkal batang yang tidak ditebang akan bisa menumbuhkan tunas-tunas baru. Panen total, yaitu tanaman yang ada dikebun seluruhnya ditebang, termasuk tunas yang dibairkan tumbuh dari pangkal batang bekas penjarangan pertama dan kedua. Panen total biasanya dilakukan setelah tanaman berumur 15 tahun, Cara panen seperti pada penjarangan yaitu ditebang pada ketinggian 5-10 cm. Pengelupasan kulit kayu Pengelupasan kulit kayu manis, dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara pengulitan sebelum tanaman ditebang dan pengulitan setelah ditebang . Pengulitan sebelum ditebang, cara ini pengelupasan sebelum ditebang dianggap lebih praktis jika dibanding setelah ditebang. Kebersihan kulit akan tetap terjamin karena batang tanaman belum menyentuh tanah jadi belum kotor. Untuk meperoleh kulit kayu bermutu baik (bagian luarnya tampak bersih), sebaiknya sebelum pengulitan, kulit yang masih melekat pada tanaman dibersihkan dari lumut/kotoran dengan cara dikerok, sehingga kulit tampak hijau kekuningan dan permukaan luarnya licin. Setelah dibersihkan, kulit dikerat melingkari batang pada ketinggian 5-10 cm diatas leher akar dan pada ketinggian 100 cm dari keratan pertama. Selanjutnya pada kulit diantara batas keratan bawah dan atas ditoreh tegak lurus dalam bentuk garis-garis dengan jarak sekitar 5-10 cm, lalu dengan menggunakan pisau pengungkit, kulit dicungkil dari lingkaran atas dan ditarik ke bawah. Sehingga diperoleh kulit selebar 5-10 cm dan panjang 100 cm. Pengulitan setelah ditebang, pengulitan setelah tanaman ditebang banyak dilakukan petani di Indonesia. Caranya setelah ditebang batang kayu dipukul-pukul untuk memudahkan pengelupasan. Kulit kayu yang dihasilkan dengan cara ini, berkualitas rendah (kualitas C) bahkan setelah dijemur berwarna hitam. Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com Sumber : Rismunandar dan Farry B.Paimin, "Kayu Manis-Budi Daya dan Pengolahan", Penebar Swadaya 2001.