Bagi petani panen padi merupakan saat yang paling dinanti-nanti. Panen merupakan saat petani merasakan keberhasilan dari jerih payahnya menanam dan merawat tanaman selama beberapa waktu. Saat panen, cara panen, perontokan, pengeringan, dan pemisahan kulit gabah pada padi sawah TOT sama seperti padi sawah biasa. A. SAAT PANEN Padi perlu dipanen pada saat yang tepat untuk mencegah kemungkinan mendapat gabah berkualitas rendah yang masih mengandung banyak butir hijau dan butir kapur. Padi yang dipanen muda jika digiling akan menghasilkan banyak beras pecah. Saat panen padi dapat dipengaruhi oleh musim tanam, pemeliharaan tanaman dan pertumbuhan, serta tergantung pula pada varietasnya. Secara umum padi dipanen saat berumur 80-110 hari. Apabila tanaman padi menunjukkan ciri-ciri berikut berarti tanaman sudah siap dipanen. 1) Bulir-bulir padi dan daun bendera sudah menguning 2) Tangkai menunduk karena sarat menanggung butir-butir padi atau gabah yang bertambah berat. 3) Butir padi bila ditekan terasa keras dan berisi. Jika dikupas tidak berwarna kehijauan atau putih agak lembek seperti kapur Sebaiknya padi langsung dipanen begitu tiba saatnya. Jangan menunda panen karena dapat memperbesar kehilangan hasil. Hama seperti burung dan tikus akan senang menyerang petakan sawah. Akibat lainnya gabah akan gampang rontok. B. CARA PANEN Pemillhan alat panen yang tepat menjadi penting agar panen menjadi mudah dilakukan. Biasanya padi dipanen dengan ani-ani atau sabit. Ani-ani umumnya digunakan untuk memanen jenis padi yang sulit rontok sehingga dipanen beserta tangkainya. Contohya jenis padi bulu. Namun, alat ini tidak cocok digunakan untuk penanaman padi sawah tanpa olah tanah. Sabit digunakan untuk memanen padi yang rnudah rontok, misalnya padi cereh. Namun, karena alat ini dapat memungut hasil lebih cepat serta lebih gampang memotong batang padi maka alai ini kini lebih banyak digunakan untuk panen. Untuk padi sawah yang ditanam secara olah tanah pemanenan dianjurkan dengan menyisakan batang setinggi 20 cm dari tanah. Guna keperluan ini, pemotongan paling cocok dilakukan dengan sabit. Caranya batang padi beserta daun dan bulir gabahnya ditahan dengan tangan kiri, sementara tangan kanan melakukan pemotongan batang dengan sabit. C. PERONTOKAN Padi yang sudah dipanen beserta batangnya perlu dipisahkan bulir-bulir gabahnya. Untuk itu padi perlu dirontokkan. Perontokan dapat dilakukan dengan menggunakan mesin perontok tresher, atau menggunakan perontok kaki pedal tresher. Selain itu perontokan sederhana dapat dilakukan dengan memukulkan batangan padi ke kayu atau "kotak gebug" dimana sebelumnya dihamparkan plastik untuk menampung bulir padi yang berhamburan. Bulir-bulir padi yang sudah dirontokkan selanjutnya dibawa ke gudang atau penyimpanan sementara sebelum dikeringkan. Sebaiknya bulir padi tersebut dimasukkan ke dalam karung lalu diangkut agar tak banyak ceceran yang terbuang. D. PENGERINGAN Tujuan utama pengeringan ialah untuk menurunkan kadar air gabah agar dapat tahan lama disimpan. Selain itu gabah yang masih basah sulit diproses menjadi beras yang baik. Bulir-bulir gabah dapat dijemur dengan cara dihamparkan di atas lantai semen yang bersih. Dapat pula dihamparkan di atas lapisan plastik. Dalam cuaca panas, sinar matahari mampu mengeringkan gabah dalam waktu 2-3 hari. Gabah yang sudah kering ini dapat disimpan dalam gudang atau lumbung, atau dapat langsung diproses menjadi beras. E. PEMISAHAN KULIT GABAH Tahap terakhir usaha bertanam padi ialah mengasilkan beras yang dapat ditanak menjadi nasi sebagai makanan pokok. Mula-mula gabah yang sudah dikeringkan perlu dipisahkan dengan gabah hampa atau kotoran yang mungkin terikut selama perontokan atau pengeringan. Caranya dapat dengan ditampi. Pemisahan kulit gabah dapat dilakukan dengan huller atau mesin. Cara ini praktis dan cepat. Namun, untuk daerah yang tak memiliki huller, pemisahan dapat dilakukan dengan penumbukan padi menggunakan alu dan lumpang. (sumber: Bertanam Padi Sawah Tanpa Olah Tanah/Prof. Dr. Muhajir Utomo, Ir. Nazaruddin)