SRAGEN - Menteri Pertanian RI, Ir. H. Suswono, MMA melakukan panen padi perdana Kabupaten Sragen di Desa Jetak Kec. Sidoharjo Rabu (16/02). Hadir dalam kegiatan tersebut Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, Bupati Sragen H. Untung Wiyono, Forum Pimpinan Daerah Kabupaten Sragen serta kepala dinas/dinas/kantor di lingkungan Kabupaten Sragen. "Panen raya padi di sragen ini merupkan jawaban atas kekkawatiran dunia sehubungan dengan adanya pemanasan global", kata Bupati dalam sambutannya. Pemanasan global yang terjadi dikhawatirkan dapat mengganggu ketersediaan pangan nasional, namun Sragen menjawab kekhawatiran tersebut dengan adanya panen ini. Di kabupaten sragen pada tahun 2010 lalu mampu memproduksi beras 543.381 ton dengan surplus beras mencapai 315.851 ton. Dibandingkan dengan tahun 2001 dimana surplus beras hanya 191.472 ton, selama 10 tahun ini ada peningkatan sebesar 165 %. Untuk tahun 2011 diharapkan mampu memproduksi 520.684 ton dan hingga maret 2011 diperkirakan surplus beras mencapai 122.072 ton. Lebih lanjut dikatakan untuk mencapai target tersebut pemkab sragen telah menerapkan beberapa strategi. Antara lain dengan menempatkan PPL di setiap desa, pembenahan hamparan lahan pertanian, membenahi tingkat kesuburan tanah dengan budidaya tanaman organik. Selain itu juga dengan mewirausahakan petani dengan memfasilitasi pendidikaan non formal oleh badan diklat. Gubernur mengungkapkan rasa bangganya dengan suksesnya bidang pertanian Sragen, karena penyokong perekonomian di Jawa Tengah ada pada bidang tersebut. Selain itu juga mengungkapkan rasa bangganya karena di Sragen tidak melakukan alih fungsi lahan pertanian serta bagusnya sistem irigasinya. Ir. Suswono memberikan apresiasi yang positif atas keberhasilan bidang pertanian di Sragen dan Jawa Tengan pada umumnya. Keberhasilan tersebut tak lepas dari dukungan dan program yang dibuat oleh Gubernur dan Bupati yang menjabat. Program dari menteri sendiri, yang terbaru adalah adanya permentan untuk mengantisipasi jatuhnya harga beras. Permentan tersebut adalah revaksi, dimana bulog dapat membeli gabah atau beras lebih rendah atau lebih tinggi dari HPP. Harga tersebut disesuaikan dengan kualitas gabah dari petani. Jadi kedepannya tidak akan ada lagi alasan bulog menolak hasil panen petani. Kementrian telah menentukan beberapa target, diantaranya adalah swasembada pangan yang berkelanjutan, diversivikasi pangan dengan mengganti konsumsi karbohidrat dari nasi menjadi uwi, ubi, ganyon, jagung. Selain itu juga peningkatan nilai tambah daya saing produk lokal hasil pertanian serta pemberian permodalan bagi petani. Peningkatan kesejahteraan tersebut antara lain dengan pemberian KUR tanpa agunan hingga 20 juta. Bagi yang diatas 20 juta cukup dengan agunan 20 % dari besaran kredit. Dalam kesempatan tersebut diberikan beberapa bantuan yang diberikan oleh menteri pertanian serta gubernur. Menteri pertanian memberikan SLPTT berupa benih padi, jagung, kedelai kepada kel.tani Mulyo II. Pemberin voucher embung senilai 200juta serta benih jagung pada unit pengolah pupuk organik. H. Bibit Waluyo memberikan bantuan secara simbolis berupa voucher jagung hibrida senilai 75 juta, voucher gabah senilai 20 juta serta voucher alat pengolah pupuk organik dan alat tebang tebu senilai 30 juta. Pada bidang perekonomian diberikan secara simbolis Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari beberapa bank. Bank Jateng memberikan voucher senilai 400 juta untuk pembuatan pupuk organik, BNI voucher senilai 100 juta untuk perdagangan server elektronik, BRI senilai 100 juta bagi pedaagang kelontong dan alat tulis serta Bank Bukopin voucher senilai 300juta untuk simpan pinjam. Sumber : Supriyanto, SST ( Badan Pelaksana Penyuluhan Kab. Sragen ) Jln. Mayor Suharto No. 7 Telp/Fax (0271) 891277 Website : www.sargen@kab.go.id Email : bapeluh@sragenkab.go.id