Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan yang memiliki arti penting bagi masyarakat, baik dilihat dari penggunaannya sebagai bumbu masak yang dibutuhkan sehari-hari maupun dari nilai ekonominya yang tinggi.Budidaya bawang merah yang dilakukan petani di Kota Metro Propinsi Lampung umumnya belum menerapkan sepenuhnya kaidah budidaya yang benar. Hal ini mengakibatkan usaha agribisnis bawang merah belum memberikan hasil yang optimal bagi petani bawang merah. Oleh sebab itu perbaikan cara-cara budidaya mulai dari persiapan lahan, penerapan teknik budidaya, perbaikan penanganan panen dan pascapanen, prosessing, dan pemasaran perlu dilakukan agar hasil panen bawang merah mempunyai nilai tambah, menghasilkan produk yang bermutu dan berdaya saing. Permasalahan Pascapanen Bawang MerahMudah rusak sehingga waktu penyimpanan pendekPenurunan kualitas bawang merah terutama akibat tumbuhnya tunas dan terjadinya kebusukan. Kebusukan pada bawang merah terutama disebabkan oleh serangan Botrytis sp. (Setyabudi, 2016)Hasil observasi lapang menyebutkan bahwa tingkat kehilanganpascapanen bawang merah mencapai lebih dari 45% setelah disimpan selama 2 bulan. Tingkat kehilangan terutama terjadi pada proses pengeringan dan penyimpanan. Kegiatan Panen Bawang MerahPanenUmur panen bawang merah cukup bervariasi, tergantung varietas, tempat penanaman, tingkat kesuburan, dan tujuan penanaman. Ada varietas bawang merah yang memang mempunyai umur pendek dan ada juga yang berumur panjang. Bawang merah yang ditanam di dataran tinggi seperti di Aceh Tengah dan Bener Meriah biasanya mempunyai umur panen yang lebih panjang dari pada yang ditanam di dataran rendah. Sementara itu tanaman yang sangat subur pertumbuhan umumnya mempunyai umur relatif panjang. Di lain pihak, jika penanaman dimaksudkan untuk menghasilkan umbi untuk bibit, pemanenan harus dilakukan setelah bawang merah cukup tua, sedangkan untuk bawang konsumsi dapat di panen sedikit lebih cepat. Usahakan panen bawang merah dilakukan pada pagi hari dalam kondisi cerah dan tidak hujan. Pemanenan dilakukan dengan mencabut bawang merah dari tempat penanaman dan kemudian diletakkan diatas bedeng lalu kemudian sekelompok umbi diikat bagian daunnya kemudian diangkut ketempat pengeringan. Pengeringan Pengeringan dapat dilakukan dengan cara Konvensional maupun dengan cara yang direkomendasikan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Konvensional dilakukan dengan cara penjemuran atau pembadaran dilakukan di kebun dengan mengandalkan sinar matahari (pengeringan dengan system matahari). Sedangkan untuk cara yang direkomendasikan Pengeringandilakukan dengan cara Instore Drayer yaitu salah satu teknologi yang dihasilkan oleh Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian yang terbukti mampumengurangi kerusakan (losses) bawang merah yangsebelumnya sebesar 25% menjadi 16% selama penyimpananselama 8 minggu . Sortasi dan GrandingKegiatan sortasi merupakan tindakan yang dilakukan untuk mendapatkan mutu yang baik dengan cara memilah-milah antara produk yang baik (bebas dari cacat atau kerusakan fisik akibat kegiatan panen maupun serangan hama penyakit) dengan yang rusak (akibat kerusakan fisik saat panen dan serangan hama penyakit).Grading adalah pengkelasan/penggolongan bawang merah berdasarkan keseragaman bentuk, kebersihan, kekerasan, bebas penyakit dan kerusakan serta ukuran diameter. Sortasi dan grading dilakukan secara manual. Pada saat sortasi dilakukan pemisahan kulit kering, kotoran, dan umbi yang busuk. Untuk bawang merah yang akan dijadikan bibit umbi tidak dipotong dari daunnya namun dipisahkan dari kotoran, bagian bawang yang kering, juga dari umbi yang busuk. Bawang yang akan dijual untuk konsumsi dipisahkan dari daunnya (diprotoli). PenyimpananPenyimpanan bawang merah dapat disimpan dengancara konvensional maupun penyimpanan sesuai rekomendasi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Untuk perbandingannya dapat dilihat pada table berikut :KonvensionalDi simpan dipara-paraIkatan bawang merah disimpan atau digantung dipara-para rumahRuang penyimpanan harus bersihTidak ada pengaturan aerasiTidak ada pengaturan suhu dan kelembabanSanitasi kurang diperhatikan RekomendasiMenggunakan system instore dryerIkatan bawang merah disimpan dalam rak penyimpanan ataudigantungKadar air 80 “ 85 %,Ruang penyimpanan harusbersihAerasi udara lebih baikTidak campur dengan komoditas lainKisaran suhu ruang simpan 26 “ 29oCKisaran kelembaban 70 - 80%Sanitasi gudang diperhatikan Menggunakan sistem Control Atmosphere Storage (CAS)Suhu, kelembaban, komposisi udara (O dan CO )terkendali, Sanitasi terkendali Keunggulan Teknologi CAS (Mudatsir, 2016) Bawang merah dapat dalam unit CAS selama 3-6 bulan dengan susut bobot 8-10%.Kondisi bawang merah tetap segar, tidak keriput, tidak "gembos", aman dari serangga, tidak ada kebusukan. Dapat menyimpan baik bawang merah konsumsi maupun bibit Pengemasan dan TransportasiSecara konvensional, bawang merah yang akan dijual/didistribusikan dikemas menggunakan jaring plastik. Untuk pengiriman jarak dekat, bawang merah dikemas menggunakan karung jala, ditimbang 90 “ 100 kg, ujung karung jala diikat dengan tali plastik. Untuk pengiriman jarak jauh, bawang merah dikemas dengan menggunakan karung jala dengan berat 20 “ 25 kg. Upayakan jumlah tumpukan yang ada dalam kendaraan transportasi tidak melebihi kapasitas angkut.(Isrinah, SP). Sumber :Nurbaiti, 2015, Teknologi Panen dan Pasca Panen Bawang Merah, litbang, http://nad.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/info-teknologi/796-teknologi-panen-dan-pascapanen-bawang-merahPDF, Teknologi Penanganan Pascapanen Bawang Merah Di Indonesia, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian 2016