Susut hasil pasca panen padi di Indonesia diperkirakan mencapai 10-20% dari total produksi. Kehilangan ini terjadi pada setiap tahap:
|
Tahap Pasca Panen |
Penyebab Utama Kehilangan Gabah |
|
Pemanenan |
Padi rontok saat panen atau pengangkutan, penggunaan sabit yang tumpul. |
|
Perontokan |
Gabah tidak terlepas sempurna dari malai, tercecer karena alas yang kurang bersih/rapat. |
|
Pengeringan |
Gabah tercecer, dimakan unggas/tikus, retak (terutama jika dikeringkan terlalu cepat). |
|
Penyimpanan |
Serangan hama gudang (kutu), jamur/kapang (karena kelembaban tinggi), tikus. |
|
Penggilingan |
Biji pecah/menir tinggi karena mesin giling yang tidak disetel dengan benar. |
Indikator Panen Optimum (Tepat Waktu):
· Warna Gabah: 90-95% gabah pada malai sudah menguning atau matang.
· Kadar Air Gabah: Sekitar 22% - 25% (ideal).
· Waktu: Biasanya 30-35 hari setelah berbunga merata.
· Dampak: Memanen terlalu awal menghasilkan gabah hampa, sedangkan memanen terlambat menyebabkan rontok tinggi di lahan.
· Gunakan Alat Panen yang Tepat: Gunakan sabit bergerigi tajam atau combine harvester (mesin pemanen) jika tersedia.
· Tumpuk dengan Hati-hati: Hindari menumpuk padi terlalu lama di sawah sebelum perontokan.
· Pengangkutan: Ikat padi dalam ikatan yang kuat. Gunakan terpal/alas saat pengangkutan dari sawah ke tempat perontokan untuk mencegah tercecer.
· Pilih Alat: Gunakan power thresher (mesin perontok) yang efisien, karena perontokan secara tradisional (dibanting) menghasilkan susut lebih tinggi dan kotoran lebih banyak.
· Alas Perontokan: Wajib menggunakan alas/terpal yang bersih dan rapat di bawah mesin perontok untuk menampung semua gabah rontokan.
· Kebersihan Gabah: Pastikan gabah hasil perontokan bersih dari kotoran (malai kosong, daun, ranting) sebanyak mungkin (Field Cleaned).
· Pengeringan Alami (Penjemuran):
o Lakukan di atas lantai semen/terpal yang bersih dan hitam.
o Tebal hamparan ideal: 3-5 cm.
o Lakukan pembalikan berkala (setiap 1-2 jam) agar kering merata dan mencegah timbulnya jamur.
o Lindungi dari hujan. Jika dijemur terlalu lama dan suhu terlalu panas (> 50°C), gabah akan retak/pecah saat digiling (cracking).
· Pengeringan Mekanis (Alat Pengering/Dryer): Dianjurkan untuk cuaca tidak menentu. Suhu pengeringan harus diatur agar tidak melebihi 40°C untuk mencegah gabah retak.
2.5. Penyimpanan (Storage)
Gabah harus disimpan dalam kondisi kering (KA 14%) dan bersih.
· Tempat Penyimpanan: Gudang harus bersih, berventilasi baik, terhindar dari rembesan air, dan aman dari hama (tikus/burung).
· Alas: Gabah harus diletakkan di atas palet (tidak langsung menyentuh lantai) untuk mencegah kelembaban.
· Pengemasan: Simpan dalam karung goni atau plastik yang kuat dan bersih.
· Pengendalian Hama: Lakukan sanitasi gudang secara berkala dan gunakan fumigan (jika perlu dan sesuai prosedur) untuk mengendalikan kutu gabah.
3. Dampak Penanganan Pasca Panen yang Benar
Penanganan pasca panen yang tepat akan menghasilkan:
|
Manfaat |
Indikator |
|
Pengurangan Susut |
Kehilangan gabah berkurang hingga di bawah 5%. |
|
Peningkatan Mutu |
Gabah bersih, tidak berjamur, dan tidak berbau apek. |
|
Rendemen Beras Tinggi |
Gabah tidak retak, sehingga persentase beras utuh (head rice) saat digiling meningkat. |
|
Harga Jual Lebih Baik |
Gabah dengan mutu tinggi (KA 14%, bersih) akan dihargai lebih mahal oleh penggilingan/bulog. |
Kunci Sukses Pasca Panen:
1. Panen Tepat Waktu (KA 22-25%).
2. Perontokan Cepat dan Bersih.
3. Pengeringan Sampai KA 14% Secara Bertahap.