Setiap keluarga harus berpikir keras untuk menyiapkan strategi guna memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Salah satu strategi yang dapat digunakan keluarga untuk membantu pemulihan ekonomi ruman tangga adalah memanfaatkan pekarangan rumah, paling tidak untuk menyediakan dan memenuhi kebutuhan pangan keluarga sendiri. Selama ini, pekarangan dan lahan sekitar perumahan belum dimanfaatkan secara optimal, padahal lahan tersebut memiliki potensi untuk dimanfaatkan bagi kegiatan bercocok tanam atau berkebun di rumah. Pekarangan dapat ditanami berbagai tanaman yang biasa dikonsumsi dan apabila memungkinkan juga dapat digunakan untuk memelihara hewan ternak seperti ayam, itik atau ikan. Sayur dan buah-buahan sehat bisa langsung dipanen dari pekarangan. Apabila produksinya sudah bisa memenuhi konsumsi keluarga, dan ada kelebihan, maka dapat dijual dan menjadi tambahan pendapatan keluarga. Selain keluarga dapat menjadi mandiri pangan karena kebutuhan pangan sehari-hari dapat dipemuhi dari hasil tanaman dan ternak dari pekarangan sendiri, pemanfataan pekarangan juga meningkatan pendapatan keluarga. Keuntungan lain adalah rumah dan lingkungan sekitar menjadi asri, sejuk dan hijau. Sebelum memulai kegiatan pemanfaatan pekarangan, ada baiknya kita perlu mengetahui beberapa cara bercocok tanam yang bisa dilakukan. Metode bercocok tanam ini menggunakan media tanam yang tidak memerlukan lahan yang luas, serta alat dan bahannya bisa menggunakan barang bekas. Hidroponik Hidroponik adalah cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah. Sebagai pengganti tanah, digunakan media tanam air yang diberi unsur hara yaitu unsur-unsur penting yang dibutuhkan tanaman. Terdapat beberapa teknik bercocok tanam cara hidroponik. Teknik yang paling sederhana dan mudah adalah menggunakan botol bekas. Potong botol bekas menjadi 2 bagian. Bagian bawah yang tidak ada leher botol diisi air yang sudah diberi unsur hara. Bagian atas yang ada leher botol posisinya dibalik dengan leher botol berada di bawah, kemudian tumpangkan ke atas bagian botol yang telah diisi air dan unsur hara. Lapisi botol yang berleher dengan alas seperti kasa, lalu selipkan sumbu di sela-selanya. Kalau lubang kasa terlalu kecil, bisa lubangi atau dilebarkan sedikit supaya sumbunya bisa masuk dan menjuntai di leher botol hingga menyentuh air. Isi bagian atas kasa dengan media tanam seperti sekam atau pecahan bata untuk menopang akar tanaman yang akan ditanam. Terakhir, masukkan bibit tanaman yang sudah disemai ke dalam media tanam dan siram dengan larutan nutrisi yang berupa campuran air dan unsur hara. Tanaman yang bisa dibudidayakan menggunakan metode hidroponik umumnya adalah jenis hortikultura seperti sayuran, buah, tanaman obat, dan tanaman hias. Aeroponik Aeroponik adalah cara bercocok tanam yang memanfaatkan udara sebagai media tanam. Tanaman diletakkan pada wadah atau pot kecil yang berlubang dibawahnya, kemudian disangkutkan pada lembaran styrofoam atau gabus yang telah dibuat beberapa titik lubang sehingga akar menggantung di udara. Kita meletakkan wadah atau pot tanaman berisi bibit tanaman yang sudah disemai pada setiap lubang tersebut. Metode aeroponik tidak menggunakan media tanam tanah. Aeroponik memerlukan air, sehingga hampir mirip dengan hidroponik. Namun, pada aeroponik air diberi larutan unsur hara dan disemburkan langsung pada akar tanaman. Semprotan ini berbentuk kabut, sehingga cara kerja aeroponik bisa juga disebut pengkabutan. Akar menyerap nutrisi yang disemprotkan tersebut, kemudian mengalirkan ke bagian batang dan daun. Untuk membantu penyemprotan, bisa disiapkan alat semprotan atau sprinkler dan mengisinya dengan campuran air dan unsur hara. Waktu penyemprotan sprinkler dapat diatur menggunakan listrik, sehingga tidak selalu menyemprotkan nutrisi setiap saat dan secara manual. Tanaman yang dapat ditumbuhkan menggunakan metode ini umumnya adalah jenis sayuran, seperti caisim, pakcoy, selada, kailan, kangkung, wortel, kentang, dan lain sebagainya. Akuaponik Akuaponik adalah cara bercocok tanam yang merupakan kombinasi akuakultur dan hidroponik. Akuaponik merupakan sistem bercocok tanam yang menguntungkan antara ikan dan tanaman. Cara bertanam akuaponik tidak menggunakan media tanam tanah, tetapi menggunakan air yang berisi unsur hara yang berasal dari kotoran ikan yang berfungsi sebagai nutrisi tanaman. Peralatan yang dibutuhkan adalah wadah tempat tumbuh tanaman, wadah tempat tumbuh ikan, dan struktur penopang. Wadah tempat tumbuh tanaman dapat diisi media tanam pecahan batu atau kerikil, sementara wadah tempat tumbuh ikan dapat berupa akuarium. Struktur penopang berupa saluran yang mengalirkan air yang digerakkan dengan pompa mulai dari tempat tumbuh ikan menuju tempat tumbuh tanaman kemudian mengalir kembali lagi ke tempat tumbuh ikan. Dari tempat tumbuh ikan mengalir air yang berisi nutrisi dari kotoran ikan, masuk ke tempat tumbuh tanaman, setelah diserap tanaman air mengalir kembali ke tempat tumbuh ikan. Tanaman yang dibudidayakan dengan metode ini adalah semua jenis tanaman sayuran atau buah. Vertikultur Vertikultur merupakan metode bertanam pada tempat bercocok tanam yang dibuat secara bertingkat (vertikal). Metode ini cocok diterapkan pada pekarangan yang sempit atau terbatas. Terdapat beberapa model vertikultur seperti gantung, tempel, tegak, dan rak. Sebagai tempat tumbuh tanaman bisa menggunakan pot vertical atau memanfaatkan paralon. Untuk membuat vertikultur tidak membutuhkan banyak biaya, bisa memanfaatkan barang bekas, seperti paralon atau bambu yang masih bisa dipakai. Pada paralon/bambu dibuat beberapa lubang dengan ukuran sekitar 4 cm masing-masing sebagai tempat untuk tanaman yang sudah disemai. Paralon disusun melintang secara berderet ke atas (vertikal), dibuat sambungan antara pralon atau bambu satu dengan yang lainnya, kemudian dibuat kaki di pralon atau bambu yang paling bawah supaya bisa berdiri tegak di atas tanah. Bisa juga menggantung pralon menggunakan tali, dan bagian sampingnya ditutup menggunakan plastik atau polybag. Media tanam menggunakan campuran tanah, kompos dan sekam yang dimasukkan ke dalam pralon/bambu, kemudian letakkan bibit tanaman pada setiap lubang pralon/bambu. Tanaman dirawat dengan cara mengalirkan air dari bagian atas pipa pralon. Tanaman yang cocok diterapkan untuk metode vertikultur umumnya jenis sayuran. Tabulampot Tabulampot merupakan kepanjangan dari tanam buah dalam pot. Metode tabulampot sudah banyak dikenal dan sudah sering dipraktekkan untuk bercocok tanam di pekarangan atau kebun rumah. Pot yang digunakan sebaiknya berukuran cukup besar dan seimbang dengan besar tanaman yang dipelihara atau dipertahankan ukurannya, bisa ukuran 50 – 100 L. Pot dapat terbuat dari plastik, drum, semen atau kayu. Agar cepat berbuah pembibitan sebaiknya berasal dari perbanyakan vegetatif seperti bibit hasil cangkok, sambung (grafting), dan okulasi (tempel). Jenis tanah yang dipakai harus tanah yang gembur dan subur, dapat berupa campuran tanah, kompos dan sekam. Tanah dimasukkan ke dalam pot sampai menutupi akar dan sisakan ruang antara permukaan tanah dengan bagian atas pot. Pastikan tanah di sekeliling tanaman padat dan kuat untuk menopang pertumbuhan tanaman. Letakkan pot pada area yang sejuk dan terhindar matahari langsung. Siram setiap pagi dan sore, setelah satu minggu dipindahkan di tempat terbuka agar terkena sinar matahar langsung. Pada musim kemarau disiram setiap hari, di waktu pagi dan sore hari, sementara pada musim hijan disiram apabila terlihat kering. Pada intinya, penyiraman dilakukan teratur saat masa pertumbuhan vegetatif, saat memasuki masa berbunga, penyiraman dikurangi. Pemupukan dilakukan satu bulan setelah ditanam, selanjutnya teratur setiap 3-4 bulan sekali, menggunakan pupuk kandang dan NPK. Tanaman juga perlu dipangkas untuk menghilangkan ranting-ranting yang sakit, mati atau terlalu rimbun. Apabila sudah lama dalam pot, perlu dilakukan pemangkasan akar dan penggantian media. Jenis tanaman buah yang secara umum mudah ditumbuhkan dengan metode tambulampot diantaranya: jambu air, jambu biji, jeruk, belimbing, sawo, buah nona, nangka mini dan lain-lain. Untuk manggis dan durian tidak disarankan karena memiliki batang pohon yang besar, sehingga perlu wadah atau ruang tumbuh yang juga besar. Kelima metode bercocok tanam di pekarangan atau kebun seperti telah diterangkan sebelumnya ini memiliki keunggulan yaitu hemat lahan, waktu dan tenaga pengerjaan, serta cepat tumbuh, bisa ditanam dimana saja dan kapan saja. Produksi dari berbagai metode tanam ini menghasilkan tanaman dan buah yang berkualitas baik, segar dan bercita rasa tinggi. Itulah beberapa metode bercocok tanam di pekarangan atau kebun di rumah. Tidak memerlukan lahan yang luas, tidak memerlukan banyak tenaga dan biaya. Selamat bercocok tanam dan memanen. Ricky Feryadi Penyuluh Pertanian Pusat