Loading...

Pelatihan Manajemen Kelompok Tani dan Verticulture sebagai Solusi Lahan Sempit di Perkotaan

Pelatihan Manajemen Kelompok Tani dan Verticulture sebagai Solusi Lahan Sempit di Perkotaan
Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Denpasar mengadakan Pelatihan Manajemen Kelompok Tani dan Budidaya Tanaman Verticulture di Kota Denpasar selama dua hari, Rabu (8/5) dan Kamis (9/5). Acara diselenggarakan di BPP (Balai Penyuluh Pertanian) Denpasar Utara yang beralamat di Jl. Antasura, Banjar Uma Desa. Sasaran pelatihan adalah para petani, pelaku agribisnis, dan KWT (Kelompok Wanita Tani) se-Kota Denpasar. Pelatihan dibuka oleh Kadis Pertanian, Ir. I Gede Ambara Putra didampingi oleh Kabid Teknik, Kabid Pemasaran, dan Kabid Program. Turut diundang pada acara pembukaan adalah PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) se-Kota Denpasar. Dalam sambutan, Kadis Pertanian menyatakan bahwa diperlukan kreatifitas dalam berusaha tani sehingga mampu mengubah mindset generasi muda yang seringkali berpikir bahwa pertanian identik dengan berkotor “ kotor dan sedikit menghasilkan uang. Kreatifitas terutama diperlukan dalam pemanfaatan lahan yang ada serta pemilihan komoditas yang sesuai dengan permintaan pasar. Dalam pelatihan ini, peserta belajar kembali tentang Manajemen Pengelolaan Waktu yang disajikan oleh Suryawanta, PPL Provinsi Bali. Materi ini dirasa perlu sebab belum banyak orang dalam kehidupannya memiliki daftar kegiatan yang harus dilakukan sehari “ hari. Berikut 5 poin penting cara mengatur waktu yang dipaparkan dalam pelatihan : (1) Lakukan pekerjaan yang harus dilakukan sekarang, (2) Perhitungkan waktu perjalanan anda dengan baik, (3) Bersikap tegas terhadap diri sendiri, (4) Siapkan waktu khusus untuk refreshing, (5) Hargai waktu. Satu materi lagi disajikan oleh Suryawanta, yaitu Manajemen Sumber Daya Manusia Pengelola Usaha Tani. Dalam materi ini, yang perlu dicermati untuk membangun SDM Pengelola Usaha Tani adalah internal pelaku agribisnis dilihat dari pengetahuan dan ketrampilannya, cara membangun jiwa wirausaha, mempunyai impian untuk maju, etos kerja, egoistik/keseimbangan emosi, serta eksternal pendukung keseluruhan. Kelembagaan SDM pengelolanya pun dikelompokkan menurut kegiatannya yang terdiri dari Kelembagaan On Farm, Kelembagaan Jasa Agribisnis, Kelembagaan Pengolahan Hasil Pertanian, Kelembagaan Komoditi Strategis, Kelembagaan Pemasaran Hasil Pertanian, Kelembagaan Pendukung Agribisnis, serta Kelembagaan Agribisnis yang Mengakses Pasar Tertentu. Bentuk manajemen lain yang disampaikan dalam pelatihan adalah Manajemen Konflik Kelompok Tani (Kabid Teknik, I Wayan Cita) dan Manjemen Pemasaran Produk Hortikultura (Luh Sulastini, PPL Provinsi Bali). Manajemen Konflik Kelompok Tani menyoroti permasalahan Internal dan Eksternal yang dihadapi oleh kelompok tani pada umumnya. Petani dan pelaku agribisnis juga diajak untuk mencari pemecahan masalah dengan hasil win “ win solution. Yang terpenting dalam pemecahan masalah adalah langkah konkret untuk menyikapi permasalahan yang ada, setidaknya meredam potensi konflik. Manajemen Pemasaran Produk Hortikultura diawali dengan dampak dari panjangnya rantai pemasaran produk tanaman pangan dan hortikultura adalah posisi tawar petani lemah, pendapatan menurun, berpengaruh terhadap kegiatan usaha tani, dan tidak adanya manajemen produksi. Peserta pelatihan juga diperkenalkan pada strategi pencapaian modernisasi pertanian tanaman pangan dengan cara perbaikan SDM, penerapan teknologi, perbaikan kelembagaan, dan penerapan SCM (Supply Chain Management) untuk menjamin kontinuitas pasokan. Yang terpenting dalam Manajemen Pemasaran adalah pemahaman akan kiat “ kiat pemasaran itu sendiri yang terdiri dari mengenali calon pelanggan, melaksanakan promosi, penguasaan teknologi, pegang dan tepati janji, proaktif bukan reaktif, jalin hubungan yang baik, serta empati yang tinggi terhadap pelanggan. Setelah peserta pelatihan cukup paham akan beberapa bentuk manajemen di atas yang dirasa perlu sebagai materi pendukung dalam berusaha tani, maka materi berikutnya adalah Mengenal Tanaman Verticulture yang disampaikan oleh Ir. I Ketut Tusta. Yang menjadi penekanan dari materi ini adalah manfaat dari penanaman dengan Sistem Verticulture, di antaranya dapat menjadi salah satu alternatif pemanfaatan lahan/ pekarangan di lahan sempit, dapat menghasilkan produk pertanian yang higienis dan bernilai ekonomi tinggi apabila diusahakan dengan sistem organik, kebutuhan pasar akan produk ini sebaiknya diusahakan secara berkelompok, serta tercipta nuansa indah dan sejuk pada lingkungan. Satu hal yang menarik dalam pelatihan kali ini adalah diadakannya demo olahan produk pertanian yang diperagakan oleh Amna Hartiati, pelaku usaha catering, pemilik Rumah Presto Catering. Pada kesempatan ini ditunjukkan cara mengolah jamur tiram menjadi nugget jamur, membuat pisang coklat, dan selai nanas. Semuanya ini diharapkan dapat memancing ide “ ide baru dari peserta sesudah selesai pelatihan dan kembali ke poktan/gapoktan masing- masing, terutama dalam turut mengembangkan KWT (Kelompok Wanita Tani). Ditulis oleh : Marcella Wayan K.R.,S.P. (PP Pertama)