Bidang Pengembangan Informasi dan Penyuluhan Pertanian Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Sampang pada hari Selasa tanggal 18 Januari 2011 menyelenggarakan pelatihan pengembangan agensi hayati dan dekomposer lokal. Kegiatan yang dilaksanakan di BPP Torjun ini dilaksanakan atas kerjasama BKP4 Kabupaten Sampang dan BPP Plemahan Kabupaten Kediri. Pelatihan ini dibuka oleh Bapak Kustamadji selaku Kabid Penganekaragaman dan Kewaspadaan Pangan yang mewakili Kepala BKP4. Sebagai nara sumber hadir dalam pelatihan tersebut Bapak Karno selaku praktisi dan teknisi agensi hayati, Bapak Wanoto selaku Koordinator BPP Plemahan dan Bapak Syamsul Hidayah selaku salah satu PPL BPP Plemahan Kabupaten Kediri. Peserta pelatihan yang hadir sebanyak 28 orang yang terdiri dari seluruh koordinator BPP dan perwakilan PPL dari 14 kecamatan se-Kabupaten Sampang. Sebagai pengantar, materi disampaikan oleh Bapak Wanoto yang kemudian dilanjutkan oleh Bapak Karno. Dosen Universitas Kediri yang dua tahun terakhir berkarir sebagai PPL THL-TB ini menyampaikan materi mengenai mikro organisme yang banyak dikembangkan sebagai agensi hayati dan dekomposer lokal. Mikro organisme tersebut meliputi PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria), Trichoderma, Spp, Coryne bacterium, Lecanicillium lecani / Verticillium dan Dekomposer Lokal. Oleh Bapak Karno, dijelaskan juga mengenai karakteristik/sifat-sifat, fungsi dan manfaat serta aplikasi dari masing-masing agensi hayati tersebut. Murah dan mudah, aman bagi lingkungan, tidak menyebabkan tanaman toksik, kompatibel dengan pengendalian yang lain dan diperoleh hasil panen,sehat, bebas residu merupakan keunggulan dari penggunaan agensi hayati. Disamping keunggulan, terdapat beberapa kelemahan dari penggunaan agensi hayati, diantaranya adalah daya kerja relatif lambat, tidak membunuh langsung, tidak tahan sinar matahari ,tidak tahan simpan, aplikasi berulang-ulang dan kadang-kadang dirasa kurang praktis. Pada penyampaian materi tersebut dijelaskan pula mengenai peralatan-peralatan dan masing-masing fungsi alat yang digunakan. Kegiatan pelatihan ini ditutup dengan praktek pembuatan dan pengembangan agensi hayati yang dipimpin langsung oleh Bapak Karno dan diikuti oleh semua peserta pelatihan. Tidak terlalu berlebihan jika dengan adanya pelatihan agensi hayati ini diharapkan dapat sedikit mengurangi ketergantungan dan penggunaan pada pupuk anorganik sehingga mampu mengembalikan kesuburan dan pH tanah (Umee).