Loading...

Pelatihan Perbanyakan Agensia Pengendali Hayati Trichoderma Dan Pembuatan Media Ekstrak Kentang Gula Di Subak Pangkung Jajung

Pelatihan Perbanyakan Agensia Pengendali Hayati Trichoderma Dan Pembuatan Media Ekstrak Kentang Gula Di Subak Pangkung Jajung
Subak Pangkung Jajung yang berada di Wilayah Kelurahan Baler Bale Agung Kecamatan Negara Kabupaten Jembrana merupakan salah satu kelompok tani yang mendapat bantuan dari Kementerian Pertanian (Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan). Bantuan yang diperoleh tersebut yaitu Program Pemberdayaan Petani Dalam Pemasyarakatan PHT (P4) Tahun 2023. Salah satu tahapan dalam program ini adalah perbanyakan Agensia Pengendali Hayati (APH). Agensia Pengendali Hayati adalah setiap organisme atau makhluk hidup terutama jamur, bakteri, virus, nematoda, serangga dan binatang lainnya yang dapat dipergunakan untuk pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). APH sudah tersedia di alam yang dapat dieksplorasi, dikembangkan dan dimanfaatkan oleh petani dari lahan pertaniannya. Agensia pengendali hayati menjadi agen pengendali secara alami atau musuh alami hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan. I Made Budiana selaku pendamping kegiatan P4HT dari Balai Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (BPTPHBUN) Provinsi Bali menyampaikan bahwa PHT (P4) memegang peranan penting dalam mendukung pengendalian OPT ramah lingkungan. Selanjutnya, Ida Bagus Dwi Darmada yang juga pendamping dari tim provinsi menegaskan akan terus mendorong dan mendukung praktek-praktek kegiatan pengendalian OPT berbasis alami dengan menggunakan agens hayati di Subak Pangkung Jajung. Beliau sangat mengapresiasi subak yang tetap bersemangat dan antusias dalam melanjutkan program ini. Rabu, 09 Agustus 2023, Subak Pangkung Jajung memasuki tahapan perbanyakan ataupun pengembangan Agen Pengendali Hayati (APH). Kegiatan ini diikuti oleh 15 orang anggota subak yang diharapkan nantinya menjadi promotor untuk menggerakkan seluruh krama subak giat dalam perbanyakan APH. Sebelum perbanyakan, tahapan yang sudah dilakukan subak yaitu kegiatan eksplorasi. Salah satu jamur yang didapatkan pada saat eksplorasi yaitu jamur Trichoderma, Sp yang diperoleh dari perakaran bambu di lahan petani. Tahapan yang sudah dilakukan oleh Subak Pangkung Jajung setelah memperoleh Trichoderma, Sp yaitu pemurnian dan identifikasi lanjut. Biakan murni kemudian diperbanyak pada media Potato Dextrose Agar (PDA). Dalam kesempatan ini, subak melaksanakan perbanyakan jamur Trichoderma, Sp dengan media padat yaitu menggunakan media beras. Proses perbanyakan diadakan di Balai Subak Pangkung Jajung. Kegiatan ini didampingi oleh petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) serta Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Cara memperbanyak jamur Trichoderma Sp tergolong sederhana yaitu hanya memerlukan beberapa alat pendukung untuk menjadi lingkungan yang steril. Adapun langkah kerja yang dilaksanakan oleh Subak Pangkung Jajung untuk perbanyakan adalah mencuci beras hingga bersih. Selanjutnya beras tersebut dikukus selama 10 menit (waktu dihitung setelah air kukusan mendidih). Langkah berikutnya yaitu mengangkat dan mendinginkan beras lalu memasukkan ke dalam plastik bening dengan volume ±200 gram. Plastik yang sudah berisi beras kemudian dikukus selama 10 menit, setelah itu diangkat didinginkan kembali. Setelah dingin, isolat Trichoderma sp diinokulasikan ke dalam plastik dengan menggunakan kawat ose yang sebelumnya telah disterilkan. Lipat plastik kemudian rekatkan dengan menggunkan hekter. Langkah terakhir yaitu melakukan inkubasi selama 7-10 hari dalam wadah yang minim pencahayaan. Perbanyakan APH menggunakan media cair turut serta dilaksanakan pada pelatihan kali ini. Media cair yang dibuat untuk pembiakan APH jenis bakteri yaitu Ekstrak Kentang Gula (EKG). Cara pembuatan EKG yang pertama yaitu mengupas kentang secara dadu dengan ukiuran 1cm, kemudian dicuci bersih sampai lendir hilang selanjutny direbus dalam air mendidih selama 20 menit. Langkah berikutnya yaitu memisahkan kentang dengan air, masukkan gula pasir ke dalam air rebusan dan kembali direbus selama 20 menit. Air rebusan tersebut kemudian didinginkan. Setelah dingin,larutan EKG dan isolate murni Paenibacillus ke dalam jerigen 25 liter dan hidupkan aerator yang sudah dipasangkan selama 15 hari. Diharapkan setelah adanya pelatihan ini, seluruh anggota subak terutama peserta bisa kooperatif dalam melanjutkan tahapan kegiatan program PHT (P4) tahun ini. PPL dan POPT mengharapkan peserta benar-benar memahami materi dan praktek yang telah diberika. Selanjutnya diharapkan peserta dapat secara mandiri melakukan perbanyakan APH dengan skala yang lebih besar lagi di subak. Penulis, Reni Lamtauli Pakpahan, SP