PELATIHAN RICE TRANSPLANTER PT TANIKAYA MULTI SARANA DI KEPULAUAN NIAS
PELATIHAN RICE TRANSPLANTER PT TANIKAYA MULTI SARANA DI KEPULAUAN NIAS Saat ini teknologi pertanian di Indonesia yang ada semakin canggih dan hebat, hal ini membuat kita semakin mudah dalam menyelesaikan segala aktifitas dalam berusaha tani. Salah satu alat pertanian yang dipergunakan oleh kelompok tani di kawasan sentra padi sawah dengan menggunakan mesin tanam padi. Dengan adanya alat tanam rice transplanter sangat mempermudah para petani dalam melakukan pekerjaannya di lahan usaha tani padi sawah. Tanggal 21 Februari 2019 yang lalu Kelompok tani di Kepulauan Nias yang terdiri dari 4 kabupaten dan 1 kota penerima alat tanam rice transplanter sebanyak 19 Poktan telah mengikuti Pelatihan penggunaan rice transplanter dimaksud dengan nara sumber dari PT Tanikaya Multi Sarana Jakarta. Diselenggarakan di Poktan Sanaru desa Maliwa’a kecamatan Idanogawo Kabupaten Nias. Adapun masing-masing wakil Kabupaten Nias 5 poktan, Kabupaten Nias Selatan 5 Poktan, Kabupaten Nias Utara 5 Poktan, Kabupaten Nias Barat 2 poktan dan Kota Gunung Sitoli 2 Poktan. Peserta pelatihan para Operator utusan kelompoktani penerima alat menanam padi dari Kementrian Pertanian yang bersumber dari dana APBN 2018. Alat tanam rice transplanter adalah jenis mesin penanaman padi yang dipergunakan untuk menanam bibit padi yang telah disemaikan pada areal khusus dengan umur tertentu, pada areal sawah kondisi siap tanam. Mesin tanam ini dirancang ringan dan dilengkapi dengan alat pengapung yang disesuaikan dengan kedalaman lumpur. Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi menanam padi dapat lebih cepat selesai di lahan yang lebih luas dan hasil tanam baik dan teratur. Alasan di alokasikan di tempat ini mengingat petani melakukan tanam sistem jarwo bervariasi dengan sistem 2 : 1, 3 : 1 dan 4 : 1 hanya secara tradisi dengan menggunakan tali dan bambu sebagai penyanggah dan persentase penggunaan sistem jarwo baru 50% serta sisanya kelompoktani desa Maliwa’a kecamatan Idanogawo kabupaten Nias masih banyak memilih mempertahankan penanaman padi secara manual. Proses penanaman padi seccara manual ini dilakukan dengan tradisional dengan jarak tanam yang tidak teratur/sembarang di lahan persawahan. Cara menanam padi secara manual menjadi kebudayaan masyarakat setempat, selain mempertahankan warisan adat istiadat terdapat nilai positif bagi kehidupan bermasyarakat di Nias di kenal dengan Fatanõ luo (Penanaman secara gotong royong). Budaya Fatanõ luo ini sejak dulu telah berjalan di wilayah kepulauan Nias yang di dasari atas kebersamaan dan sependapat yang satu kawasan hamparan sawah kaum wanita banyak mengerjakan di saat penanaman, penyiangan dan panen. Kaum laki-laki disaat pembabatan, pengolahan tanah dan pembersihan parit serta perbaikan pematang. Namun sampai saat ini hanya beberapa wilayah/desa yang dapat mempertahankannya tradisi ini. Dengan diadakan pelatihan alat tanam rice transplanter dapat disimpulkan secara teknologi dapat menambah wawasan Operator untuk dikembangkan di kabupaten/kota asal dengan persawahan yang yang luas dan tenaga kerja terbatas. Secara ekonomis terdapat peluang bagi kepengurusan UPJA untuk memperpinjamkan kepada poktan terdekat bilamana alat rice transplanter terbatas sehingga jadwal pertanaman padi lebih cepat dan serentak. Sasaran akhir dengan kegiatan pelatihan tenaga Operator Se-kepulauan Nias diharapkan adanya peningkatan Indeks Pertanaman pertahun dengan Pengaturan pola tanam dan tertip tanam yang serentak serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga Operator di tingkat kelompoktani. Penulis : Syaiful Akmal, SST PPL Kecamatan Idanogawo kabupaten Nias