Kita tahu, bahwa hama wereng batang coklat (wbc) adalah salah satu musuh terbesar petani padi saat ini, karena kenapa, karena serangan wbc ini tidak mengenal fase pertumbuhan padi. Di semua fase pertumbuhan dan perkembangan padi, wbc bisa menyerang sewaktu-waktu, bahkan padi menjelang panen pun, bisa rusak dan gagal panen jika sudah terserang hama ini. Seperti yang dilansir www.ekonomi.kompas.com tertanggal 4 September 2017, pada periode Oktober 2016 sampai dengan Agustus 2017, seluas 63.075 hektar sawah, mengalami serangan hama wereng batang coklat (WBC) di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Sedangkan yang gagal panen (puso) seluas 20.152 hektar. Di beberapa wilayah di Jember, tidak luput dari serangan hama yang bernama latin Nilaparvata lugens ini. Oleh karena itu, beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal "12 September 2017", Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Jember mengadakan pelatihan memperbanyak agensia hayati untuk hama wbc, salah satunya adalah bakteri merah atau yang dalam bahasa latinnya adalah Serratia Marcessence.Pelatihan yang dilaksanakan di Aula Kantor UPTD Wilayah VI Bangsalsari ini, diikuti para penyuluh pertanian, Pengurus Gapoktan, Pengurus Kelompok Tani dan babinsa se Wilayah UPTD VI Bangsalsari. Narasumber pelatihan perbanyakan agens hayati bakteri merah ini berasal dari Dinas Tanaman pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Jember, yaitu Bapak Jono, SP., Bapak Sasrur Romadhon, SP., dan Ibu Tri Kurniawati Pamungkas, SP., selaku POPT-PHP di Wilayah UPTD VI Bangsalsari.Agensia hayati adalah suatu sebutan untuk musuh alami dari hama dan penyakit yang biasanya menyerang pada tanaman di pertanian kita. Adapun musuh alami yang dimaksudkan di sini adalah dari golongan mikroorganisme, jadi dia ukurannya sangat kecil sekali, baik dari golongan jamur maupun bakteri. Sedangkan musuh alami yang secara ukuran besar dan terlihat secara kasat mata sering dikenal dengan istilah predator. Baik predator maupun agensia hayati adalah makhluk hidup yang memegang peranan sangat penting dalam suatu ekosistem pertanian. Keberadaan musuh alami ini dapat menjadi indikator bahwa lingkungan di sekitar areal pertanian adalah sehat atau tidak sehat. Pada lingkungan yang seimbang, keberadaan OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) tidak akan mengalami ledakan populasi yang dapat merusak tanaman yang ada di lingkungan tersebut. Hal ini dikarenakan, tingkat populasi OPT selalu diikiuti oleh tingkat populasi musuh alami sebagai pembatas dari keberadaan OPT tersebut.Bakteri Merah/BM (Serratia Marcessence); begitu jenis bakteri ini diberi nama, memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh agens hayati lain dari jenis fungi/ jamur seperti Verticillium, Metharizium, atau Baveria Bassiana karena memiliki spektrum yang lebih luas. Serratia Marcessence adalah salah satu spesies bakteri entomopatogen oportunistik. Nama Serratia sendiri diambil dari nama fisikawan italia Serafino Serrati dan Marcessence berarti memudar. Habitatnya bisa di air, tanah, permukaan daun, pencernaan binatang dan manusia, menghasilkan pigmen merah yang sangat banyak. Uniknya Serratia bisa tumbuh dalam 2 kondisi aerob dan anaerob. Proses infeksi terhadap inang adalah melalui oral (pada wbc, pada stilet/ alat pencucuk penghisap pada wbc), lalu masuk kedalam pencernaan memperbanyak diri dan merusak sistem pecernaan serangga wbc itu sendiri. Serangga yang terinfeksi biasanya berwarna merah setelah itu menghitam dan berbau busuk dalam beberapa hari kemudian.Untuk keefektifitasannya, dalam sebuah penelitian menyimpulkan bakteri merah yang diisolasikan dari wereng batang coklat (WBC) yang terinfeksi terbukti bersifat patogen terhadap WBC dan jenis serangga lainnya. Sel bekteri yng diaplikasikan dengan konsentrasi 106 “ 107sel/ml mampu membunuh WBC 65,6%-78,2 % dalam rata-rata 6,8 hari setelah aplikasi. Dalam penelitian lain pula disebutkan Bakteri merah dilaporkan bersifat patogen terhadap Spodoptera exigua, Plutella xylotella, Crocidolomia binotalis, Kutu daun mangga, dan belalang kembara. Bakteri merah pun Jika diperbandingkan dengan agens hayati lain seperti Baveria bassiana,Verticillium sp bahkan dengan insektisida kimia Imidakloprit 200 mg/l sekalipun ternyata lebih unggul dengan tingkat penurunan populasi kutu daun mangga sebesar 67,94% ,diikuti Verticillium sp 63,35%, Baveria bassiana 47,07% dan terakhir imidakloprit sebesar 45,40% setelah 7 hari aplikasi. Laporan petani apel di Nongko jajar Pasuruan Jawa Timur juga menunjukkan bakteri merah sangat ampuh memberantas kutu sisik yang sulit dikendalikan dengan insektisida kimia. Beberapa petani perintis, yang mempelopori penggunaan bakteri merah di Jember menyatakan bahwa bakteri merah sangat efektif mencegah dan menekan serangan hama wbc, bahkan pada hasil produksi padi sangat baik, dan padinya bernas/ bening, kemudian tanaman padinya walaupun sudah tua menjelang panen, daun benderanya masih banyak yang hijau. Artinya apa? Artinya bahwa tanaman padi tumbuh sangat optimal dan sehat. Hanya saja, pengguna dari bakteri merah ini belum banyak, dan juga ketersediaan agensi hayati BM masih sangat terbatas. Oleh karena itu Dinas TPHP mengadakan pelatihan-pelatihan di 10 UPTD bagi para petugas dan petani dalam perbanyakan BM dan agensi hayati lain.Potensi patogen bakteri merah ternyata juga efektif terhadap perkembangan infeksi Xantomonas oryzae atau ngelaras dalam bahasa jawa. Pigmen merah yang merupakan hasil metabolit sekunder Serratia marcessence yang diisolasi dari WBC yang terinfeksi terdeteksi sebagai prodigiosin. Prodigiosin adalah metabolit sekunder multi aspek yang mempunyai aktifitas anti bakterial, anti fungal/ jamur, dan anti protozoal, bersifat cytotoxic. Kemampuan tambahan ini pula diharapkan bakteri merah mampu berefek ganda mematikan hama dan menekan perkembangan bakteri dan fungi patogen semacam Xantomonas dan Blast yang sering menyerang tanaman padi.Perbanyakan BM ini sangat mudah sekali dan murah, bahkan peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan ada di sekitar kita. Karena sifatnya yang bisa tumbuh dalam kondisi aerob dan anaerob maka bakteri ini mudah dibiakkan. Media yang biasa digunakan adalah EKG (Ekstrak Kentang Gula), Ekstrak Kedelai, atau dibiakkan dalam ekstrak keong mas. Tapi kita tidak akan membahas yang dengan menggunakan ekstrak keong mas. Disini akan diuraikan dengan menggunakan ekstrak kentang. Cara perbanyakannya adalah sbb:Bahan:1.Kentang 1,5 kg2.Gula pasir 75 gram3.Air 5 liter4.Isolat Serratia/bakteri merah 1 tabung.5.Aerator aquarium6.Galon AquaCara pembuatan:1.Kentang dikupas potong dadu, direbus bersama gula dan air hingga mendidih.2.Masukkan dalam galon sterilisasi selama 2 jam dalam dandang.3.Setelah dingin masukkan isolat dan difermentasi secara aerob dengan bantuan aerator.4.Setelah 10-14 hari larutan siap digunakan.Dosis Aplikasi:Diencerkan dengan dosis 5 -10 cc per liter air.Aplikasi pada pagi atau sore hari dan alat semprot harus bersih dari pestisida.Bisnis perbanyakan bakteri merah bisa ditangkap sebagai peluang untuk meningkatkan pendapatan petani. Karena kenapa?! Karena isu go-organic saat ini sangat luar biasa, dimana masyarakat sudah sangat peduli dengan kesehatan dan produk ramah lingkungan, makanan sehat, beras sehat, yang bebas dari pestisida kimia. Masyarakat bersedia membayar lebih mahal asal sehat, bukan begitu? Sumber: www.pestisidaalamiah.blogspot.com*) Penulis adalah Koordinator Penyuluh Pertanian di UPTD Bangsalsari Dinas TPHP Kab. Jember Email: aboknanda@yahoo.co.id