PEMANFAATAN ECO-ENZYME UNTUK TANAMAN Eco-enzyme adalah ekstrak cairan yang dihasilkan dari fermentasi sisa sayuran dan buah-buahan dengan substrat gula merah dan air. Eco-enzyme merupakan cairan serba guna yang merupakan hasil fermentasi dari sisa buah atau sayuran, gula dan air. Eco-enzyme memiliki banyak manfaat antara lain dapat digunakan sebagai pupuk tanaman , Jenis limbah organik yang diolah menjadi eco-enzyme hanya sisa sayur atau buah yang mentah dan tidak busuk. Dalam proses pembuatan eco-enzyme terjadi proses fermentasi yang menghasilkan alkohol dan asam asetat yang bersifat disinfektan hanya dapat diaplikasikan pada produk tanaman karena kandungan karbohidrat (gula) di dalamnya. Proses fermentasi akan berlangsung 3 bulan. Bulan pertama, akan dihasilkan alkohol, kemudian pada bulan kedua akan menghasilkan cuka dan pada bulan ketiga menghasilkan enzyme. Pada bulan ketiga, eco-enzyme kita sudah bisa dipanen. Caranya adalah dengan menyaring menggunakan kain yang sudah tidak terpakai atau baju juga bisa digunakan untuk saringan. Sisa atau ampas eco-enzyme dapat kita gunakan untuk beberapa manfaat antara lain sebagai starter atau untuk membantu mempercepat proses pembuatan eco-enzyme selanjutnya atau sebagai kompos dengan cara meletakkannya di dalam tanah. Alat dan bahan untukpembuatan eco-enzyme adalah : gula merah/gula aren, bahan organik (sampah kulit buah/sayur), air bersih, botol/toples plastik (jangan gunakan bahan kaca). Bahan yang digunakan dalam membuat eco-enzyme adalah gula, bahan organik, dan air dengan perbandingan 1 : 3 : 10 atau 100 gr gula : 300 gr kulit buah : 1 liter air. Cara pembuatan eco-enzymee : Masukkan air ke dalam wadah toples yang mempunyai tutup yang rapat. Air tidak boleh mengisi penuh wadah, harus tersisa ruang dalam toples untuk gas hasil fermentasi, volume maksimal air adalah 60% volume wadah. Potong-potong gula menjadi kecil-kecil, potong- potong bahan organik kemudian tuang semua bahan ke dalam wadah yang telah diisi air, pastikan gula sudah terlarut semua, lalu tutup rapat. Simpan wadah di tempat yang kering dan sejuk dengan suhu ruangan. Diamkan selama 3 bulan agar proses fermentasi sempurna dan menghasilkan eco-enzyme, setelah 3 bulan, saring eco-enzyme menggunakan kain kasa atau saringan. Residu/sisa dapat digunakan lagi untuk starter produksi baru dengan menambahkan sampah segar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat eco-enzymee : wadah yang digunakan wadah yang bisa mengembang karena wadah akan terisi gas (jangan gunakan bahan kaca) limbah yang digunakan tidak termasuk kertas, plastik, logam, hindari makanan berminyak, ikan atau sisa daging, Untuk membuat enzim berbau segar, tambahkan kulit jeruk / lemon atau daun pandan, dll. Warna ideal dari enzim eco adalah coklat gelap. Jika berubah menjadi hitam, tambahkan gula dalam jumlah yang sama untuk memulai proses fermentasi lagi. Indikator Eco-enzyme bereaksi dengan baik: Hasil akhirnya adalah cairan berwarna kecoklatan. Namun warna ini akan sangat bervariasi dari coklat muda hingga coklat tua tergantung dengan bahan organik dan gula yang kita gunakan. Bahkan jika bahan yang digunakan sudah sama namun micro organisme yang berbeda akan menyebabkan warna yang berbeda. Aroma nya dengan aroma asam segar sesuai dengan bahan yang digunakan (tidak berbau busuk). Ada jamur putih. Kalau jamurnya hitam berarti gagal, dan harus segera memulihkannya dengan cara menambahkan gula kedalam wadah sesuai takaran semula. Penyusun: Sri Suryani M. Rambe (BPTP Bengkulu)