Ternak selain menghasilkan produk utama yaitu daging, susu dan telur, juga menghasilkan produk hasil ikutan , antara lain berupa limbah / kotoran ternak. Limbah usaha peternakan ini berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan sekitarnya jika tidak dimanfaatkan dan ditangani dengan baik, sebab selama ini sebagian besar peternak mengabaikan penanganan limbah dari usaha peternakannya. Jika limbah / kotoran tidak diolah dapat mencemari lingkungannya. antara lain menimbulkan bau tidak sedap yang mengakibatkan polusi udara sehingga dapat mengganggu kesehatan manusia, mempengaruhi pencemaran air di sekitarnya dan merupakan sumber penyakit yang akan menurunkan mutu lingkungannya. Disisi lain limbah ini akan memberikan nilai tambah bagi pemeliharanya asal dilakukan dengan pengelolaan yang tepat guna yaitu dengan menghasilkan produk yang mempunyai daya jual seperti sebagai bahan pakan, media pertumbuhan cacing, pupuk organik, gas bio dan briket energi. Oleh karena itu diperlukan upaya pengelolaan lingkungan yang terintegrasi dengan kegiatan produksi yang dijalankan dalam usaha peternakan. Penanganan limbah ini diperlukan, selain tuntutan akan lingkungan yang nyaman, juga karena pengembangan usaha peternakan mutlak memperhatikan kualitas lingkungan sehingga keberadaannya tidak menjadi masalah bagi masyarakat sekitarnya. Limbah peternakan merupakan sisa buangan dari kegiatan usaha pemeliharaan ternak, rumah pemotongan hewan dan pengolahan hasil produksi ternak. Limbah peternakan yang dihasilkan dari kegiatan budidaya peternakan dapat berupa ¢ Limbah padat merupakan limbah yang berbentuk padatan atau dalam fase padat berasal dari kotoran ternak / tinja dan isi perut dari pemotongan ternak, sisa pakan ternak. ¢ Limbah cair , semua limbah yang berbentuk cairan atau dalam fase cairan berasal dari air seni/urine ternak , air bekas pembersihan kandang , pencucian alat-alat dan ternak ¢ Limbah gas, semua limbah berbentuk gas atau dalam fase gas berasal dari bau kotoran ternak. Produksi limbah ini berlangsung secara rutin / kontinyu setiap hari dan banyaknya limbah yang dihasilkan sesuai dengan banyaknya ternak yang dipelihara. Penanganan limbah peternakan ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, apalagi limbah tersebut dapat diperbaharui (renewable ) selama ada ternak. Limbah ternak juga masih mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk dimanfaatkan. Limbah ternak kaya akan nutrient ( zat makanan) seperti protein, lemak, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), vitamin , mineral dan zat-zat lain. Pada tinja ternak ruminansia khususnya sapi mempunyai kandungan sellulosa yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil penelitian, tinja sapi mengandung 22,59% sellulosa, 18,32 % hemi sellulosa, 10,20 % lignin, 34,72 % total karbon organik, 1,26 % total nitrogen, 27, 56 : 1 ratio C: N, 073% P dan 0,68 % K. Limbah peternakan selain menghasilkan biogas, juga menghasilkan hasil samping / limbah biogas ( sludge ) berupa pupuk organik padat dan cair serta pupuk organik padat dan cair yang langsung dari limbah kandang (kotoran ternak segar) Hasil pengolahan limbah tersebut, dapat menjadi menjadi produk berdaya guna sebagai bahan baku Biogas yang akan menghasilkan energi bahan bakar gas (gas bio) dan pupuk organik. Kedua produk ini dapat mendukung pertanian organik dan mengatasi permasalahan akan bahan bakar ( energi alternatif) dan ketersediaan pupuk organik sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk anorganik/ pupuk kimia. Potensi Biogas dan keuntungan memanfaatkan biogas Biogas merupakan sumber energi alternatif yang murah dan mudah disediakan di lingkungan pedesaan yaitu biogas yang dihasilkan dari kotoran ternak. Hasil analisa pada satu instalasi biogas yang menggunakan kotoran 2- 4 ekor sapi mampu memenuhi kebutuhan energi memasak satu rumah tangga dengan 6 orang anggota keluarga . Biogas yang dihasilkan setara dengan 1 -2 liter minyak tanah/ hari bisa menghemat biaya pengeluaran pembelian bahan bakar. Selain itu dari limbah biogas dapat diolah menjadi pupuk organik padat yang dapat meningkatkan pendapatan sekitar 2500 kg/ekor/tahun atau Rp. 1.250.000/ ekor/tahun sehingga dapat menghemat pembelian pupuk. Keuntungan memanfaatkan biogas : 1) Dapat menyalakan bunga api dengan energi 6400 - 6600 kcal/m3 yang dapat dijadikan lampu penerangan/ petromak, kompor gas dan mesin generator; 2) menyediakan pupuk organik yang bermutu dan siap pakai sehingga ketergantungan terhadap pupuk kimia akan berkurang; 3) membantu memperlambat pemanasan global; 4) sebagai pengganti bahan bakar atau kayu bakar dan 5) mewujudkan peternakan yang bersih dan ramah lingkungan. Pupuk Organik Pupuk organik merupakan hasil olahan limbah kotoran ternak baik itu dari hasil samping biogas maupun olahan langsung dari kotoran ternak di kandang yang dapat berbentuk padat dan cair. Pupuk organik diperlukan untuk mempertahankan kesehatan tanah serta kecukupan unsur hara tanaman. Manfaat pupuk organik : 1)Memperbaiki sifat fisik / struktur tanah, membuat tanah menjadi gembur, menambah daya ikat tanah terhadap air dan unsur-unsur hara tanah serta mencegah erosi; 2) Memperbaiki sifat biologi tanah/ aerasi tanah, mempercepat perbanyakan fungsi bakteri dan mikro flora dan fauna tanah dan menurunkan aktivitas mikroorganisme yang merugikan;3)Memperbaiki sifat kimia tanah, meningkatkan unsur hara dan mineral Pupuk cair lebih disukai petani karena hara yang diberikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman, pemberian dapat lebih merata, kepekaan larutan dapat diatur sesuai pertumbuhan tanaman dan menghemat tenaga. Pupuk organik padat yang paling populer adalah kompos. Kompos yang berasal dari kotoran ternak sapi dapat dibuat menjadi beberapa jenis kompos yaitu kompos curah, kompos blok, kompos butiran dan bokashi. Penulis : Asia (Penyuluh Pertanian BPPSDMP) Sumber informasi : 1. Direktorat jenderal Peternakan. Direktorat Budidaya Ternak ruminansia.2010. Pedoman Teknis Pengembangan Pupuk Organik Cair dan Padat. 2. Direktorat jenderal Peternakan.Direktorat Budidaya Ternak Ruminansia.2008. Penanganan dan Pemanfaatan Limbah.