Loading...

PEMANFAATAN LIMBAH POD KAKAO SEBAGAI PAKAN IKAN

PEMANFAATAN LIMBAH POD KAKAO SEBAGAI PAKAN IKAN
Pakan merupakan komponen biaya operasional terbesar dalam kegiatan terbesar dalam kegiatan budidaya perikanan. Kebutuhan akan pakan dapat menyerap hingga 60% dari total biaya produksi. Sumber bahan baku penyusun pakan yang terbesar saat ini adalah tepung ikan. Penggunaan tepung ikan dapat menyumbang 40-60% dari total bahan baku penyusun pakan. Namun, angka import tepung ikan yang dikeluarkan BPS (Badan Pusat Statistik) menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun. Pada 2006 mencapai angka 88.825 ribu ton, pada tahun 2008 menjadi 67.597 ribu ton. Trend penurunan tersebut seiring dengan penurunan produksi tepung ikan dunia. Dari sisi perdagangan internasional, kondisi ini berdampak pada merangkaknya harga jual tepung ikan. Salah satu alternatif substansi bahan baku ikan yang dapat dilakukan adalah dengan pemanfaatan limbah pertanian. Pemanfaatan limbah kulit buah kakao dapat dipilih sebagai salah satu alternatir bahan baku pakan ikan dikarenakan memiliki kandungan protein yang cukup tinggi sekitar 8-10% dan melimpahnya ketersediaan jumlah bahan ini di daerah-daerah yang ada di Indonesia dan belum termanfaatkan dengan baik. Indonesia merupakan negara produsen terbesar ketiga penghasil kakao dunia. Salah satu alternatif pengolahan limbah yaitu dengan memanfaatkan mikroorganisme yang akan melakukan proses biologis (bioproces) dalam mengolah senyawa-senyawa yang tidak dibutuhkan dalam bahan baku pakan dan mendapatkan senyawa yang diinginkan dalam proses pembuatan bahan pakan. Beberpa jenis mikroorganisme yang berpotensi untuk proses fermentasi kulit buah kakao diantaranya adalah Aspergilus niger, Trichoderma sp, dan Koruria rosea. Pemanfaatan Aspergilus niger menurut hasil penelitian Okpako et al dalam Kurnianzah Aziz dkk (2011) dapat meningkatkan kadar protein sebesar 24%, kadar abu 7,52%, dan mengurangi sianida 7,35 mg/kg. Koruria rosea dapat meningkatkan kadar asam amino lysine 3,46%, histidine 0,94%, dan kadar methionin sebesar 0,69%. Fungsi lain dari mikroorganisme yang sudah disebutkan diatas juga sebagai pengurai serat-serat kasar pada kakao menjadi halus. Untuk menghaluskan kandungan serat kasar juga dapat dilakukan dengan serangkaian proses seperti mekanis, biologi, dan kimiawi. Maka dari itu untuk mempercepat proses pembuaatan pakan ikan dengan limbah kulit kakao dapat dilakukan dengan serangkaian proses tersebut. Saat ini, proses pengolahan limbah kulit kakao sebagai pakan ikan jarang dilakukan oleh para pengelola perkebuana kakao. Biasaya limbah kulit kakao diolah menjadi pupuk kompos dan sebagai pakan ternak. Maka dari itu, jika para petani kakao mengetahi pasokan pakan ikan didunia mulai berkurang, maka para petani akan gencar untuk mengusahakan pengolahan ini. Maka dari itulah, disini perlu diadakan sosialisai mengenai hal ini kepada para petani oleh pemerintah atau oleh pihak penyuluh pertanian. Sumber Tulisan : Sumber Tulisan : https://sustainablemovement.wordpress.com/2012/10/01/618. Penulis : MOH. IRFAN KALUKU,S.TP (PP. Muda pada DISBUNNAK PROV. SULTENG)