Tanaman Sorgum merupakan tanaman serealia yang mempunyai nilai nutrisi yang tinggi, seperti protein, karbohidrat, lemak, kalsium, fosfor. disamping bisa digunakan untuk mengganti sebagai sumber pangan. Sorgum juga merupakan tanaman multiguna yang dapat digunakan untuk pangan, bahan bakar dan sebagai sumber hijauan bagi ternak ruminansia. Salah satu indikator produksi sorgum sebagai Hijauan Pakan Ternak adalah tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah helai daun. Jerami sorgum sebagai produk samping memiliki serat tinggi lebih baik dimanfaatkan untuk ternak ruminansia, disamping itu sorgum mempunyai produktivitas tinggi dan mampu beradaptasi dalam agroekologi yang luas serta toleran kekeringan. Produksi biomass sebagai pakan berani diadu dengan tanaman jagung atau rumput gajah, karena bobot rata-rata setiap tanaman sorghum berkisar 625 gram/tanaman ekuivalen dengan 35 ton/ha/panen setara dengan 140 ton/ha/tahun atau 54.6 ton BK/ha/tahun. Rumput Gajah Hawai bisa mencapai 63 ton BK/ha/tahun sedang rumput Gajah Afrika 40 ton BK/ha/tahun. Akan tetapi, pemeliharaan sorgum masih kurang efisien dibanding budidaya rumput gajah dikarenakan : Lama panen 90 an hari, lebih lama dibandingdan rumput gajah 45 hari. Dalam 3 bulan panen sorgum 1 x dan rumput gajah 2 x. Biaya perawatan lebih tinggi, sorgum ratun 3 sampai dengan 4 kali dan harus tanam lagi, sedangkan rumput gajah 5 tahun (40 x panen) baru peremajaan lahan dan tanaman Umur muda (fase vegetative) 40-60 hari kandungan nutrisi sebanding rumput gajah, Umur lebih dari 70 hari kandungan nutrisi batang daun menurun, nutrisi terpusat pada biji. Kualitas nutrisi rendah apabila tanaman dipanen pada umur lebih dari 90 hari Biji dan limbah setara Jagung, namun punya anti nutrisi berupa tannin terutama pada biji sorgum yang cukup tinggi, mencapai 0,40−3,60% yang dapat kontraproduktif pada unggas. Tingginya kandungan tannin pada batang sorgum dapat diantisipasi dengan strategi silase dari campuran komponen sorgum Konsep dasar Silase Definisi : Awetan segar hijauan pakan setelah mengalami proses EnsiLase (fermentasi) oleh bakteri asam laktat dalam suasana asam dan anaerob. Untuk memacu dapat ditambahkan aditif berupa karbohidrat mudah dicerna, misalnya tetes,dedak,onggok,jagung dan lain-lain. Tujuan : Untuk mengawetkan dan mengurangi kehilangan zat makanan suatu hijauan untuk dimanfaatkan pada masa mendatang dengan pertimbangan jumlah produksi tinggi/fase tanaman dalam masa kandungan nutrisi tinggi. Keuntungan : Tidak tergantung pada kondisi cuaca harian dan hasil disukai ternak Prinsip Kerja Pembuatan Silase adalah : Harus bisa memacu terjadinya kondisi anaerob dan asam dalam waktu singkat 3 hal penting untuk memperoleh kondisi tersebut yaitu menghilangkan udara dengan cepat, menghasilkan asam laktat yang membantu menurunkan pH, mencegah oksigen kedalam silo dan menghambat pertumbuhan jamur selama penyimpanan. Fermentasi silase dimulai saat oksigen telah habis digunakan oleh sel tanaman. Bakteri menggunakan karbohidrat mudah larut untuk menghasilkan asam laktat dalam menurunkan pH silase. pH tanaman turun dari 5 dan 6 menjadi 3.6- 4.5. Penurunan pH yang cepat membatasi pemecahan protein dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme anaerob merugikan seperti enterobacteria dan clostridia. Produksi asam laktat yang berlanjut akan menurunkan pH yang dapat menghambat pertumbuhan semua bakteri. Alur Pembuatan Silase : Potong batang dan daun sorgum sepanjang 5-10 cm Tebarkan dan campurdengan dedak Encerkan tetes dengan air secukupnya Campuran potongan batang / daun sorgum dan dedak disiram dengan tetes Aduk rata dan ulangi pengadukan sampai homogen Masukkan dalam kantong plastik, padatkan dan tali dengan rafia hingga tidak ada udara Simpan dan fermentasikan selama 6 bulan Panen, angin2kan siap diberikan ke ternak