Loading...

PEMANFAATAN SAMPAH RUMAH TANGGA MENJADI ECO-ENZYME

PEMANFAATAN SAMPAH RUMAH TANGGA MENJADI ECO-ENZYME

Mengenal apa itu Eco-Enzyme

Eco- Enzyme adalah cairan yang banyak manfaat, dari sampah organik rumah tangga yang berasal hasil limbah dari buah-buahan dan sayuran mentah (yang belum dimasak atau diproses), yang kemudian diolah dengan cara di fermentasi untuk selanjutnya dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Eco-enzyme merupakan alternatif alami dari bahan kimia sintesis berbahaya di rumah.  Dengan membuat eco-enzyme berarti mengurangi produksi limbah kimia sintesis dan sampah plastik sisa kemasan produk rumah tangga pabrikan. Eco-Enzyme dapat dijadikan sebagai cairan multiguna dan aplikasinya meliputi rumah tangga, pertanian dan juga peternakan..

Manfaat Eco-Enzyme antara lain: Eco-Enzyme dapat dicampurkan pada kompos hewan untuk mengurangi bau ammonia dan meningkatkan manfaat pupuk kompos. Penggunakan eco-enzyme dapat meningkatkan kapasitas produksi sayur dan buah-buahan. Eco-Enzyme dapat dituangkan pada air sungai yang sudah bau tidak sedap dan membuatnya menjadi air yang layak digunakan untuk pertanian. Eco-Enzyme sebagai bahan utama Pesnab atau sebagai biang POC.

Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan Eco-enzyme:

  1. Gula, Dalam memilih gula, tidak dianjurkan untuk menggunakan gula pasir karena gula pasir termasuk zat kimia. Gula yang dianjurkan untuk dipakai yaitu molase cair, molase kering, gula aren, gula kelapa, dan gula lontar,
  2. Air, Sumber air yang bisa digunakan adalah air hujan, air sumur, air buangan AC, air isi ulang, air PAM, dan air galon
  3. Sisa sayur dan buah, Kategori sayur dan buah yang digunskan adalah semua jenis sisa buah dan sayur kecuali yang sudah dimasak (direbus, digoreng, ditumis), busuk, berulat, berjamur, dan kulit buah yang keras, seperti kulit kelengkeng, durian, dan lain-lain. 

TIPS: Sisa buah/sayur dipotong kecil-kecil dan semakin banyak jenis bahan yang digunakan akan semakin kaya hasil eco-enzyme.

 

Langkah-langkah pembuatan:

  1. Membersihkan wadah dari sisa sabun/bahan kimia. TIPS: Wadah yang digunakan memiliki tutup bermulut lebar, bisa besar/kecil, berbahan plastik, tidak bermulut sempit karena rentan meledak, dan tidak berwadah kaca karena rentan pecah.
  2. Ukur volume wadah.
  3. Masukkan air bersih sebanyak 60% dari volume wadah.
  4. Masukkan gula sesuai takaran yaitu 10% dari berat air.
  5. Masukkan potongan sisa buah dan sayur sebesar 30% dari berat air, lalu aduk rata.
  6. Tutup rapat dan beri label tanggal pembuatan dan tanggal panen.
  7. Selama 1 minggu pertama, buka tutup wadah untuk membuang gas.
  8. Aduk pada hari ke-7, hari ke-30, dan hari ke-90.
  9. Lokasi penyimpanan eco-enzyme yang baik: Tidak terkena sinar matahari langsung., Memiliki sirkulasi udara yang baik, Jauh dari wifi, WC, tong sampah, tempat pembakaran sampah dan bahan kimia.

 

Proses fermentasi akan berlangsung selama tiga bulan. Bulan pertama, akan dihasilkan alkohol kemudian pada bulan kedua akan menghasilkan cuka dan pada bulan ketiga menghasilkan enzim. Pada bulan ketiga eco-enzyme sudah dapat dipanen. Caranya adalah dengan menyaring menggunakan kain yang sudah tidak terpakai atau baju juga bisa digunakan untuk saringan.

 

Sisa atau ampas eco-enzyme dapat gunakan untuk beberapa manfaat seperti:

  • Sebagai starter atau untuk membantu mempercepat proses pembuatan eco-enzyme
  • Untuk membantu proses penguraian di dalam septitank. Untuk itu, ampas ini kita hancurkan dan masukkan ke dalam saluran toilet.
  • Sebagai kompos dengan cara dikeringkan, kemudian diblender dan dibenamkan kedalam tanah sebagai pupuk.

 

Eco-enzyme ini jika diproduksi dengan baik dan secara meluas di masyarakat maka dapat mengurangi pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah sampah organik dari kegiatan rumah tangga. Perlu mendorong dan mengedukasi masyarakat, pentingnya mengelola sampah untuk dipergunakan sebagai cairan multiguna dan dapat diaplikasikan untuk rumah tangga, pertanian dan juga peternakan. Ayok belum terlambat, untuk memperbaiki lingkungan lebih baik dan pertanian berkelanjutan.