Loading...

PEMASARAN BUAH APEL DI DALAM NEGERI

PEMASARAN BUAH APEL DI DALAM NEGERI
Prospek pemasaran buah apel cerah, menurut data pada Biro Pusat Statistik tahun 2001, tentang impor buah apel yang mencapai 124.000 ton, menunjukkan bahwa buah apel memang diminati penduduk Indonesia. Buah impor tersebut terutama berasal dari Selandia Baru dan Amerika Serikat. Kebutuhan buah apel selain sebagai buah meja, juga untuk parcel, jus, jam, jelly juga untuk keperluan kesehatan serta kosmetik. Apel segar sebagai buah yang mengandung vitamin dan khasiat yang baik bagi kesehatan cukup digemari masyarakat Indonesia. Semakin banyak ketersediaan buah apel di dalam negeri maka masyarakat akan semakin mudah menikmati rasa dan manfaatnya. Apel local seperti apel dari daerah Malang Jawa Timur merupakan salah satu kantong produksi yang cukup membanggakan. Selain rasanya lebih renyah, segar dan wangi juga kandungan vitamin belum banyak terdegradasi akibat transportasi dan penyimpanan. Apabila pemasaran lancar dan semakin pendek rantai pasarnya , maka buah semakin segar diterima masyarakat. Pemasaran buah apel di dalam negeri melalui pembelian langsung kepada produsen, yakni petani apel lokal, dan ada pula pembelian pada area pertanian apel binaan langsung dari sebuah perusahaan, serta pembelian melalui pedagang pengumpul yang mendatangi kebun-kebun apel. Pada akhirnya pedagang tersebut menyalurkannya melalui supermarket dan kios buah serta pembukaan outlet-outlet buah di hotel dan restoran bahkan airport. Dari berbagai studi tentang pemasaran buah apel diperoleh informasi bahwa ada perbedaan harga beli dari beberapa lokasi pembelian. Hal ini tentu bervariasi akibat jarak tempuh dan fasilitas pengangkutan buah yang tersedia dari masing-masing pembeli. Untuk pemasaran buah apel petani langsung didatangi oleh tengkulak untuk bernegosiasi tentang harga buah apel. Demikian pula untuk apel organic juga mendapatkan pasar yang memadai , hal ini karena daya dukung apel dalam skala usahatani cukup besar, diindikasikan dengan: a) adanya kelembagaan produsen apel yang secara rutin melakukan pembinaan; b) pupuk dan obat dibuat dengan memanfaatkan tanaman yang ada di sekitarnya dan c) adanya kepastian lembaga pemasaran untuk membeli hasil produksi dengan tingkat harga yang lebih tinggi dari apel anorganik Dari sisi tataniaga produk pertanian yang tidak efisien, menyebabkan harga produk pertanian menjadi tidak rasional. Permasalahan distribusi produk pertanian dari produsen sampai pada konsumen akhir menjadi permasalahan utama untuk ketersediaan produk pertanian. Dalam beberapa kasus keberadaan lembaga pemasaran dengan fungsi yang melekat dalam arus distribusi produk pertanian ternyata memberikan andil yang cukup besar dalam persoalan ini. Sebaiknya petani/ produsen buah apel dan pedagang/ pembeli harus mempertimbangkan beberapa hal dalam memperlancar pemasaran buah apel, ada beberapa pendekatan yang perlu diperhatikan antara lain : pendekatan komoditi (commodity approach), pendekatan lembaga (institutional approach), pendekatan fungsi (functional approach) dan pendekatan teori ilmu ekonomi (economics theorical approach). Pendekatan lembaga (institusional approach), yaitu pendekatan yang difokuskan pada keterlibatan lembaga pemasaran beserta fungsi yang dijalankan dalam tataniaga apel mulai dari produsen sampai pada konsumen akhir. Keterlibatan lembaga pemasaran apel perlu dikaji secara mendalam hal ini disebabkan karena 1) apakah lembaga pemasaran yang timbul sesuai dengan keinginan konsumen untuk memperoleh komoditi yang sesuai dengan waktu, tempat dan bentuk yang diinginkan konsumen, 2). Mengurangi ketimpangan produksi dan konsumsi yang berakibat harga berfluktuasi, 3) mendorong gairah petani meningkatkan produksi lebih lanjut, 4) pengendalian penjualan apel dalam pemasaran, dengan jumlah produksi yang terkendali harga akan dapat dikendalikan sehingga pendapatan petani akan meningkat. Keberadaan lembaga pemasaran dikarenakan oleh dorongan atau keinginan konsumen untuk mendapatkan komoditi yang sesuai dengan waktu,tempat dan bentuk yang diinginkan. Timbal balik dari konsumen adalah memberikan balas jasa kepada lembaga pemasaran berupa margin pemasaran. Ir. Sri Purwanti MS Sumber : Anonymous, 2003 Agriculture