Loading...

PEMASARAN DAGING SAPI SAHIWAL

PEMASARAN DAGING SAPI  SAHIWAL
Sapi Sahiwal adalah salah satu sapi impor yang berasal dari Punjab, Pakistan yang layak untuk dibudidayakan dan dikembangkan sebagai sapi potong di Indonesia, karena mempunyai keunggulan mampu beradaptasi dengan lingkungan tropis dan potensial sebagai sapi penghasil daging. Ciri-ciri sapi sahiwal adalah : bentuk badan besar dan panjang, badannya berat (dewasa jantan 500 - 800 kg dan betina dewasa 450 kg), kaki pendek dan kokoh, presentase lemak 3,7%, bulu sangat halus, ambing besar, warna beragam yaitu merah pucat, coklat tua, hampir semua hitam ada bercak-bercak putih namun umumnya warna kelabu ke merah-merahan. Bila dilihat dari bentuk badan dan ciri-ciri tersebut, sapi sahiwal memenuhi kriteria sebagai sapi potong yang baik yaitu. Ciri-ciri sapi potong yang baik dan sehat adalah : 1) ukuran badan panjang dan dalam, dengan rusuk tubuh panjang yang memungkinkan sapi mampu menampung jumlah makan yang banyak; 2) bentuk tubuh segi empat, pertumbuhan ubuh bagian depan, tengah dan belakang serasi; 3) paha penuh berisi daging; 4) dada lebar; 5) kaki besar, pendek dan kokoh. Sedang sapi sehat adalah sapi yang tidak menderita penyakit (seperti TBC, cacing hati, kekurangan darah dll), nafsu makan dan minum cukup besar dengan pandangan mata tajam dan cerah (tidak sayu). Dengan dikembangkannya sapi sahiwal, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan daging sapi dalam negeri. Jika produksi hasil ternak sapi berhasil ditingkatkan, tentunya harus diimbangi dengan penanganan pemasaran yang baik, sehingga bahan pangan hewani tersebut dapat sampai ke konsumen dengan mudah, murah, dalam kondisi yang baik, dan jumlah yang cukup. Produk sapi dapat dipasarkan berupa sapi hidup, karkas daging sapi termasuk limbahnya (jeroan, darah, tulang, kulit dan kotorannya) juga berupa olahan daging sapi (abon, dendeng, kornet, daging asap dll). Jika ingin mendapat harga jual di pasar tinggi, baik sapi hidup maupun karkas daging sapi harus mendapat perlakukan yang tepat dan benar. Pemasaran sapi hidup Sapi potong yang akan dipasarkan berupa sapi hidup, tentunya harus memenuhi kriteria yang telah ditentukan khususnya kesehatan sapi itu sendiri. Agar sapi hidup tetap terjaga mutunya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu : 1) pada hari-hari terakhir sebelum ternak dijual, sapi harus diberi pakan yang cukup dan berkualitas dan tidak digunakan sebagai tenaga kerja ternak, hal dimaksudkan agar tidak terjadi penyusutan berat badan; 2) sapi mendapat perawatan/ pengobatan (yang sakit harus segera diobati); 3) bila sapi diangkut dengan truk, hendaknya diberi alas jerami padi setebal 10 cm dan diberi sekat/pemisah dari bambu yang cukup kuat untuk menghindari ternak dari lika atau terpeleset. Kapasitas pemuatan sapi, disesuaikan dengan luas bak truk; 4) pemberian cap bakar, diberikan pada bagian badan ternak yang sekiranya tidak menurunkan kualitas kulit sapi. Pemasaran sapi hidup dapat dilakukan melalui pasar ternak/ pasar lelang, perusahaan yang telah bekerjasama dengan peternak, atau melalui koperasi. Khusus untuk sapi potong yang akan diekspor, harus dilengkapi dengan sertifikat yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang melalui penilaian dan rekomendasi. Pemasaran berupa karkas daging sapi yang layak konsumsi Persiapan sapi yang akan dipotong.Agar kualitas daging bagus/bermutu, sapi yang akan dipotong sebaiknya diperlakukan dengan baik, yaitu diberi pakan dan minum yang cukup, ditempatkan di tempat tertentu yang cukup tenang, dan bila didatangkan dari luar kota, sebaiknya sapi diberi kesempatan untuk istirahat yang cukup. Pemotongan sapi. Daging sapi yang layak konsumsi adalah daging yang berasal dari sapi yang sehat, disembelih di pemotongan hewan resmi dengan cara yang benar/ halal, diperiksa dan distempel sesuai dengan ketentuan yang ada di Rumah Potong Hewan (RPH), warna daging merah (warna khas daging sapi), serat daging halus dan sedikit berlemak, berbau khas daging sapi, struktur kenyal dan padat, lemak berwarna kekuning-kuningan. Penyimpanan daging sapi. Untuk mendapatkan daging yang bermutu, daging harus disimpan dengan cara yang benar yaitu setelah dipotong, semua karkas dilayukan terlebih dahulu dengan menggantungkan belahan badan disuatu tempat khusus (chiller). Pelayuan dimaksudkan untuk memberikan kesempatan sisa-sisa darah yang masih tinggal didalam jaringan daging lebih cepat lepas sehingga proses rigor mortis (kekejangan yang terjadi pada hewan setelah mati) dapat berlangsung dengan sempurna. Daging yang proses rigor mortisnya belum sempurna, bila direbus dagingnya menjadi keras/liat. Daging merupakan tempat berkembang biaknya mikro organisme, sehingga daging mudah sekali rusak (busuk). Bila penanganan dan tempat penyimpanan kurang baik, daging akan mudah terkontaminasi oleh kuman-kuman dan akan mempercepat proses pembusukan, Agar daging sapi tahan lama, sebaiknya dimasukkan dalam wadah, kemudian dibungkus dan disimpan dalam freezer. Nilai gizi daging sapi. Daging sapi merupakan sumber protein hewani yang kaya protein dan kalori serta lemak, vitamin dan mineral. Berdasrkan data dari Deprtemen Kesehatan, 1981), dalam 100 gram daging sapi mengandung kalori 207 kkcl, protein 18,8 gram, lemak 14,0 gram, calsium 11 mg, phosfor 170 mg dan besi 2,8 mg. Dari semua jenis daging, daging sapi mempunyai kandungan protein yang tertinggi. Pemasaran karkas daging sapi dapat dilakukan di pasar tradisional dan pasar modern (hyper market), tentunya setelah mendapat sertifikasi standar mutu dan sertifikasi halal dari instansi yang bewenang, Pemasaran berupa aneka produk olahan. Dapat, dilakukan secara tradisional (di warung, di pasar dll), dipasarkan melalui restaurant/ waralaba maupun di pasarkan melalui pabrikan sebagai bahan olahan (kornet, daging asap dll). Jika produk olahan tersebut akan diekspor harus mendapat sertifikasi standar mutu dan sertifikasi halal dari instansi yang bewenang, Oleh : Sri Puji Rahayu, Penyuluh Pertanian Sumber : Pedoman Standar Bibit Ternak di Indonesia, Ditjen Peternakan (1991); Pedoman Budidaya Ternak Sapi Potong Yang Baik (Good Farming Practice), 2007, Dinas Pertanian Provinsi DI Yogyakarta; Performans Produksi dan Reproduksi Sapi Madura (2007); Sudarmono, AS dan Bambang Sugeng, Y, 2008, Sapi Potong, Edisi Revisi.