Setelah diresmikannya Jembatan Suramadu maka perekonomian masyarakat Madura menjadi meningkat dan telah dilaksanakan pemetaan wilayah oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Pulau Madura ditetapkan menjadi sentra pemeliharaan sapi Madura di empat kabupaten yaitu Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Sampang, Kabupaten Sumenep dan kabupaten Pamekasan. Dari hasil penelitian oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Timur maka Pulau madura memang cocok untuk pengembangan dan pemeliharaan sapi Madura. Sapi Madura merupakan salah satu sapi lokal Indonesia yang mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan, karena sapi Madura mempunyai daya tahan tinggi terhadap strees dan penyakit, tetapi juga mempunyai tingkat kesuburan tinggi, dan kemanpuan adaptasi terhadap kualitas pakan yang rendah dan kebutuhan pakan yang lebih sedikit dibandingkan dengan sapi impor. Untuk pengembangan sapi Madura dari hasil penelitian para ahli dapat disimpulkan bahwa ada kecendrungan penurunan genetik sapi lokal Indonesia, juga akan menurunkan populasi sampai 12,5 % yang menyebabkan penurunan produksi dan juga penurunan populasi termasuk pada sapi Madura. Dengan ditunjuknya pulau Madura sebagai sentra sapi Madura, diharapkan plasma nutfah sapi Indonesia dapat dijaga kemurniannya dan kepunahannya. Dari data Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur tahun 2008, populasi sapi madura di Pulau Madura sebanyak 601.795 ekor yang tersebar di kabupaten Bangkalan sebanyak 142.567 ekor, di kabupaten Sampang sebanyak 123.438 ekor, kabupaten Pamekasan sebanyak 97.899 ekor dan kabupaten Sumenep sebanyak 237.891 ekor, dengan jumlah populasi sapi Madura tersebut telah memberikan kontribusi sebanyak 20 % terhadap sapi potong di Provinsi Jawa Timur. Sapi Madura merupakan sapi yang tergolong berukuran kecil, badan bewarna merah bata atau merah coklat dengan warna putih yang tidak jelas pada pantat, tanduk kecil pendek dan mengarah keluar. Sapi Madura yang jantan gumbanya berkembang dengan baik, sedangkan yang betina gumba tidak jelas, tubuh kecil dan kaki pendek. Tinggi gumba pada sapi jantan kelas I minimal 121 cm, yang kelas II tinggi gumba minimal 110 cm dan yang kelas III tinggi gumba minimal 108 cm, sedangkan berat badan hidup 220 - 250 kg, dengan berat karkas berkisar 50,96 % - 51,72 %. Sapi Madura termasuk sapi yang lambat pertumbuhannya, pada umur 3 - 4 tahun baru beranak pertama kali dengan berat badan mencapai 150 - 180 kg dan calving ratenya (jarak beranaknya) hampir 75 %, sehingga effiisiensi reproduksi sangat rendah. Disamping itu sapi Madura ada saatnya mengalami pertumbuhan yang cepat sekali pada umur 1 - 2,5 tahun, karena konsumsi zat gizi digunakan untuk pertumbuhan daging sehingga berat badan yang dihasilkan paling tinggi. Bila sapi digemukkan pada umur lebih dari 2,5 tahun, zat gizi yang dikonsumsi digunakan untuk pertumbuhan fungsi reproduksi sehingga berat badan yang dihasilkan agak rendah, dengan demikian pemeliraannya menjadi tidak effisien. Pemasaran sapi Madura dapat dikoordinasikan dengan kelompok tani atau koperasi, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk pemasaran dapat ditanggung bersama-sama. Disamping itu pemasaran sapi Madura yang paling menonjol di kabupaten Pamekasan yang dipasarkan ke kota Surabaya, Probolinggo dan Jakarta sebagai sapi potong. Disamping dijadikan sapi potong ada juga dijadikan untuk sapi lomba pada acara tertentu yang lebih dikenal dengan karapan sapi. Sapi potong adalah sapi jantan dan sapi betina yang tidak layak dijadikan bibit sehingga disebut sapi bakalan yang berumur 2,5 - 3,5 tahun yang digemukkan dengan sistem kereman sekitar 4-6 bulan. Dengan pengandangan terus menerus dan tidak dipekerjakan sama sekali dengan pemberian pakan rumput unggul seperti rumput gajah, rumput raja yang nilai nutrisi terutama protein kasar yang sangat tinggi. Disamping itu ditambahkan pakan kosentrat yang berfungsi sebagai pertumbuhan untuk pembentukan daging. Sapi Madura dengan sistem kereman ini mempunyai kualitas daging yang baik dan harga jual yang lebih tinggi dari pada daging sapi biasa. Permintaan dari daging sapi kereman ini sangat tinggi dari tahun ke tahun, karena dagingnya empuk sehingga cocok dijadikan sate, sup dan soto Madura. Disamping itu melalui ikon sapi madura ini juga dapat dikembangkan pariwisata, misalnya melalui pertunjukan tradisional yaitu karapan sapi yang dapat dinikmati para wisatawan di pulau Madura. Dampak positif dari dari usaha peternakan sapi potong dari sapi Madura ini adalah: 1. Membuka kesempatan berusaha dan peningkatan usaha agribisnis terpadu serta membuka kesempatan kerja. 2. Menggerakkan perekonomian wilayah di Pulau Madura dan meningkatkan pendapatan peternak. Untuk membantu pelaku utama peternak sapi potong di Pulau Madura dalam hal pemasaran diperlukan peran aktif dari Penyuluh Pertanian, karena penyuluh pertanian adalah mitra dari pelaku utama pternak sapi potong sapi madura. Disarikan : Oleh Maiyunir Jamal, Penyuluh Pertanian Madya. Sumber: 1. http://duniasapi.com/silsilah -sapi-madura. 2. Beternak Sapi Potong, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung. 3. http://disnak.jawatengah.go.id.