Pendahuluan Perkebunan lada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan perkebunan rakyat dimana sebagian besar petani masih menerapkan cara budidaya yang telah dilakukan secara turun temurun. Budidaya lada yang dilakukan beberapa belum menerapkan konsep konservasi lahan, penggunaan sumber bibit masih asalan, menggunakan tiang panjat mati, memupuk dengan jenis dan dosis tidak tepat, belum menggunakan bahan organik, pengendalian dan pemberantasan hama penyakit belum tepat sasaran. Petani masih mempertahankan cara budidaya yang lama yang mengakibatkan produktivitas dan kualitas lada rendah. Teknik perbaikan awal dalam usaha peningkatan produksi dan kualitas lada yaitu dengan penyediaan benih unggul disetiap sentra produksi melalui pembangunan kebun sumber benih. Dengan membangun kebun sumber benih sesuai standar dan bersertifikat, akan mampu menghasilkan benih bermutu dan tersedia setiap saat dibutuhkan. Untuk menghasilkan benih bermutu, pembangunan kebun induk lada harus memperhatikan tahapan tahapan pelaksanaannya yang meliputi yaitu persiapan lahan, pembenihan, penanaman, pemeliharaan dan panen. Persiapan Lahan Kegiatan persiapan lahan di awali dengan pembukaan lahan dan pengolahan tanah serta rancangan tata letak pertanaman yang ideal dengan maksud untuk memudahkan pencarian setiap varietas yang ditanam. Kebun induk dapat terdiri atas satu varietas atau beberapa varietas. Apabila terdiri atas beberapa varietas, kebun induk dibagi dalam beberapa blok yang berukuran 10 x 10 m berdasarkan varietas yang akan ditanam. Jumlah tanaman per blok 100-150 tanaman. Pada akhir musim kemarau (1 bulan sebelum musim hujan), lahan dibersihkan dari pepohonan, semak belukar dan sisa-sisa pohon yang ditebang. Selanjutnya dilakukan pengajiran, khusus untuk kebun induk jarak tanam bisa lebih rapat, yaitu 1,75 x 1,75 m atau 2 x 2 m. Pada awal musim hujan ditanam tajar/pohon panjat. Pohon panjat yang disarankan yaitu gamal (Glyricidia maculate) dan dadap cangkring (Erythrina fusca Lour). Selanjutnya dibuatkan bedengan persemaian dengan ukuran 2 m x 20 m sebanyak tiga bedeng atau menyesuaikan lahan. Kebutuhan benih untuk 1 ha areal pertanaman adalah 10-25 kg. Benih yang telah mulai berkecambah ditabur di tempat persemaian dengan kerapatan 25-50 g/m2 atau 0,5-1 kg benih per 20 m2 lahan. Persemaian dipupuk dengan Urea, SP-36, dan KCl masing-masing sebanyak 15 g/m². Pohon panjat diperbanyak dengan setek batang dengan panjang 2 m, diameter 5 cm, dan tidak terlalu tua atau terlalu muda, ditanam tepat ditengah-tengah bekas ajiran dengan menancapkan pangkalnya sedalam 25-30 cm ke dalam tanah lalu dipadatkan tanahnya. Lubang tanam lada dibuat dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm (panjang, lebar dan dalam) dengan jarak ± 10 cm disebelah timur pohon panjat. Tanah bekas galian dibiarkan selama ± 40 hari sebelum dilakukan penanaman benih lada. Kemudian setiap lubang tanam diisi dengan campuran tanah dan 5-10 kg pupuk kandang sapi atau kompos yang sudah matang sampai berbentuk guludan setinggi 25 cm. Selanjutnya dibuatkan saluran pembuangan air diantara barisan tanaman dengan ukuran 30 x 20 cm (lebar x dalam) dan parit keliling kebun berukuran 40 x 30 cm (lebar x dalam). Pembenihan Setek lada diambil dari sulur panjat yang sudah berkayu berasal dari pohon induk varietas unggul berumur < 3 tahun (belum berproduksi), sehat, tanpa gejala serangan hama dan penyakit lalu dicuci dengan air mengalir. Untuk memperbanyak lada disarankan menggunakan setek 1 buku berdaun tunggal. Untuk setek 1 buku berdaun tunggal cara membuatnya adalah yang pertama setek satu buku berdaun tunggal harus disemaikan terlebih dahulu pada polibag sampai tumbuh menjadi 5-7 ruas. Setek panjang dipotong-potong menjadi setek satu buku berdaun tunggal kemudian direndam dalam larutan gula (1-2%) selama ½ - 1 jam, lalu disemai dalam polibag ukuran 12 x 15 cm yang berisi media tanam campuran tanah atas (top soil) dengan pupuk kandang dan pasir kasar atau sekam padi dengan perbandingan 2:1:1 atau 1:1:1. Benih yang sudah ditanam dalam polibeg disimpan ditempat persemaian yang ternaungi (intensitas sinar matahari 50-75%). Naungan persemaian dapat terbuat dari daun kelapa, alang- alang atau paranet. Persyaratan persemaian harus mengikuti Standarisasi Nasional Indonesia. Untuk mempertahankan kelembaban lingkungan maka digunakan sungkup plastik dengan kerangka bambu setinggi lebih kurang 1 m. Penyiraman dilakukan 2 hari sekali dengan menggunakan embrat. Sungkup dibuka setiap pagi (jam 09.00-10.00) selama 1 jam. Apabila telah tumbuh 2-3 daun baru, setiap benih harus diberi tegakan dari bambu agar terbentuk akar lekat. Sungkup plastik kemudian dibuka. Benih siap ditanam apabila setek telah tumbuh mencapai 5-7 ruas. Penanaman Penanaman dilakukan pada saat musim penghujan dengan cara setek lada 5-7 ruas ditanam miring (30 – 45°) dalam alur mengarah pada pohon panjat dan sebanyak 3-4 ruas bagian pangkal daunnya dibuang kemudian dibenamkan ke dalam lubang tanam, sedangkan bagian atasnya (2-3 ruas berdaun) disandarkan pada pohon panjat kemudian diikat dengan tali. Tanah disekelilingnya dipadatkan dengan tangan. Apabila menggunakan benih yang berasal dari polibag, polibagnya dibuang, sedangkan tanahnya harus tetap utuh menempel pada akar. Daun yang terdapat pada ruas 1-3 dari pangkal batang dibuang, benih kemudian ditanam pada lubang tanam. Sulur bagian atas diikat dengan tali pada pohon panjat. Tanah disekililingnya dipadatkan dengan tangan. Benih yang telah ditanam diberi naungan, berupa daun alang-alang atau daun kelapa yang diikat pada pohon panjat. Setelah tanaman lada cukup kuat naungan dilepas. Lakukan penyulaman apabila ada setek yang mati. Dalam waktu 2-3 bulan telah tumbuh tunas-tunas baru yang selanjutnya menjadi sulur-sulur panjat lada. Tanaman penutup tanah seperti Arachys pentoi pada areal diantara barisan tanaman lada yang dapat menghambat penyebaran penyakit dalam kebun. Pemeliharaan Kegiatan pemeliharaan meliputi penyiraman, penyiangan, pengikatan sulur panjat lada, pemangkasan sulur panjat, pemupukan, pemangkasan pohon panjat (tajar hidup), dan pengendalian OPT. Penyiraman dilakukan jika tidak turun hujan, penyiraman sangat diperlukan terutama pada periode kritis tanaman yaitu < 60 hari setelah tanam. Kegiatan penyiangan dilakukan dengan membersihkan sekitar pangkal batang tanaman lada antara 3-4 kali dalam setahun, penyiangan bersih dilakukan hanya pada guludan tanam dengan cara dicabut pakai tangan, hindari penggunaan alat seperti cangkul atau kored untuk mengurangi kerusakan akar lada. Areal diantara barisan tanaman lada disiang dengan cara memotong/babat gulma dengan parang/arit. Kegiatan pemeliharaan selanjutnya adalah pengikatan sulur panjat lada. Sulur panjat yang baru tumbuh diikat pada pokok tegakan dengan tali, pengikatan sulur dilakukan tepat dibawah bagian ruas agar setiap ruas sulur melekat pada pokok pohon panjat. Hanya 3 sulur panjat yang terbaik dipelihara dan sisanya dipangkas. Sulur tanah dan sulur cacing dibuang karena akan menghambat pertumbuhan ketiga sulur panjat. Selanjutnya kegiatan pemangkasan sulur panjat lada yang dilakukan bersamaan dengan panen setek pertama, yaitu setelah sulur mencapai 7-9 ruas (umur tanaman ± 7-9 bulan) pada ketinggian ± 30 cm dari permukaan tanah. Setelah dipangkas dari sulur tersebut akan tumbuh sulur-sulur baru. Hanya 3 sulur panjat yang terbaik dipelihara dan sisanya dibuang. Setiap kali setelah pemangkasan, bekas pangkasan harus diolesi fungisida untuk mencegah infeksi penyakit. Pemupukan dilakukan setelah pemangkasan sulur panjat. Jenis pupuk yang diberikan dapat berupa butiran seperti urea, SP-36, dan KCl atau pupuk bentuk tablet. Disarankan untuk menggunakan pupuk tablet, karena umumnya kandungan unsur haranya lebih lengkap (NPKCaMg dan unsur mikro). Dosis pupuk tablet untuk kebun induk lada umur dibawah 1 tahun yaitu 15 gr, umur 1-2 tahun 30 gr dan diatas 2 tahun 45 gr dengan interval pemberian 6 bulan sekali yang diberikan pada awal dan akhir musim hujan masing-masing ½ dosis. Pupuk jenis tablet diberikan pada 4 lubang tugal sedalam 10-15 cm searah angin pada batas guludan, dibagi secara merata disetiap titik tugalan. Dosis pupuk jenis butiran yaitu untuk tanaman berumur kurang dari satu tahun Urea 25 gr, SP 36 12 gr, K 5 gr. Umur tanaman 1-2 tahun urea 50 gr, SP36 24 gr, K 1 gr. Umur tanaman diatas 2 tahun Urea 75 gr, SP36 120 gr dan K 7 gr dengan interval pemberian masing masing per 3 bulan. Sebelum dilakukan pemupukan, guludan dibersihkan dari gulma. Untuk pupuk jenis butiran diberikan dengan cara ditaburkan dalam alur sedalam 5 cm, yang dibuat memanjang disebelah kiri-kanan batas guludan, lalu ditutup kembali dengan tanah. Pada awal musim kemarau diberikan 5 kg/tanaman pupuk kandang atau kompos yang telah matang. Tanaman lada membutuhkan intensitas sinar matahari 50-75%. Pemangkasan pohon panjat dilakukan 2 kali setahun, yaitu pada awal dan akhir musim hujan dengan meninggalkan 2-3 cabang. Pemangkasan dilakukan 7-10 hari sebelum dilakukan pemupukan. Hasil pangkasan berupa biomas dapat digunakan sebagai mulsa yang diberikan pada guludan tanaman lada menjelang musim kemarau dan untuk bahan baku pembuatan kompos atau untuk pakan ternak. Pengendalian OPT merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan usaha tani lada. Serangan OPT dapat mematikan tanaman yang sedang dibudidayakan, kerugian akibat serangan OPT yang paling terlihat yaitu menurunnya pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Panen Setek Kebun induk mulai diambil/dipanen seteknya setelah sulur mencapai 7-9 ruas (umur 7-9 bulan). Sulur panjat dipangkas pada ketinggian ± 30 cm dari permukaan tanah. Selanjutnya panen setek dilakukan dengan interval 6-9 bulan. Semua bunga yang muncul harus dibuang, karena akan mempengaruhi pertumbuhan sulur utama. Setiap kali setelah panen setek, bekas pangkasan harus diolesi fungisida Mankozeb 80% untuk mencegah infeksi penyakit. Sulur-sulur dengan cabang-cabangnya yang baru dipanen segera dibawa ke tempat penyiapan benih. Sulur-sulur diletakkan di tempat teduh, kemudian di semprot dengan air dan ditutupi dengan daun pisang atau koran basah. Buang cabang-cabang pada sulur, kemudian sulur dipotong-potong menjadi 5-7 ruas atau 1 ruas berdaun tunggal. Setek yang telah terkumpul kemudian disortir dengan cara pilih setek yang kekar, gemuk, berwarna hijau tua sampai hijau kecokelatan dan agak mengayu. Pada setiap ruasnya terdapat banyak akar. Pada setiap ketiak daun terdapat mata tidur. Daun pada setek tampak sehat, tidak terserang hama penyakit dan tidak ada gejala kekurangan unsur hara. Setek yang terpilih selanjutnya dicuci dengan air mengalir dan dicelupkan dalam larutan fungisida. Sumber Bacaan : Kementerian Pertanian. 2015. Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 316/Kpts/KB.020/10 2015 tanggal 30 Oktober 2015 tentang Pedoman Produksi, Sertifikasi, Peredaran dan Pengawasan Benih Tanaman Lada. Kementerian Pertanian. 2013. Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 10/Permentan/OT.140/1/2013 tanggal 21 Januari 2013 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Kebun Induk Lada.