Dalam rangka meningkatkan produksi beras di wilayah binaan Popongan kecamatan Banyuurip kabupaten Purworejo, saya drh Novi Dwi Andajani, penyuluh pertanian bekerja sama dengan Jaringan kelompok SRI Purworejo mengadakan Pelatihan Pembelajaran Ekologilogi Tanah. Tempat di Rumah Kompos kelompok Tani Lestari Widodo 3 desa Popongan kecamatan Banyuurip pada tanggal 9 Pebruari - 12 Pebruari 2011. Peserta 50 orang terdiri dari perwakilan kelompok tani dari desa Cengkawakrejo, desa Candingasinan, desa Mangunrejo, desa Ringgit dan desa Popongan sendiri. Materi meliputi : Proses Pembelajaran Ekologi Tanah dan Pemahaman SRI (System of Rice Intensification) Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Times New Roman","serif";} System of Rice Intensification (SRI) Organik sebagai sebuah usaha budidaya padi dikenal sebagai metode budidaya padi dengan input luar rendah (pupuk kimia sintetik, pestisida, insektisida dan herbisida) sehingga efisien dalam biaya yang harus ditanggung petani, ramah lingkungan karena menerapkan praktek-praktek budidaya yang menekan produksi Gas Rumah Kaca (CO2 dari pembakaran jerami dan CH4 “ Methan “ dari kebiasaan penggenangan lahan sawah), disamping itu dalam budidaya padi dengan metode SRI banyak sumber daya lokal bisa digunakan bagi keberhasilan budidaya, efisien dalam penggunaan air irigasi dan bibit serta yang terpenting adalah mampu menghasilkan produktivitas yang tinggi. System of Rice Intensification (SRI) adalah cara budidaya padi yang intensif dan efisien dengan memperhatikan proses managemen sistem perakaran berbasis pengelolaan Tanah, Tanaman, dan Air. Tanaman padi sebenarnya mempunyai potensi yang besar untuk menghasilkan produksi dalam taraf tinggi, hal ini bisa dicapai bila kita membantu tanaman dalam kondisi baik bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Hal ini dapat dilakukan melalui pengelolaan Tanah, Tanaman, dan Air. Tanaman padi sawah berdasar praktek SRI ternyata bukan tanaman air tetapi dalam pertumbuhan membutuhkan air, dengan tujuan menyediakan oksigen yang banyak dalam tanah, tanah tidak digenangi air, sehingga akar tumbuh dengan subur dan besar. Dengan demikian tanaman dapat menyerap nutrisi/makanan sebanyak-banyaknya. LANGKAH-LANGKAH PRAKTEK LAPANGAN SRI-ORGANIK : 1. PENGEMBANGAN MOL (mikroorganisme lokal). · MOL adalah cairan yang dibuat dari bahan-bahan alami yang disukai sebagai media hidup dan berkembangnya mikroorganisme (jasad renik). · Keguanaan MOL : sebgai tambahan makanan bagi tumbuhan, mempercepat penguraian bahan organik dalam pengomposan (dekomposer) dan sebagai aktivator yang dapat mempercepat pertumbuhan dan perkembangan tanaman. · Bahan yang dapat dipergunakan dalam pembuatan MOL : limbah sayuran, air cucian beras, air kelapa, nasi, buah-buahan, urine, keong dan sebagainya. 2. PEMBUATAN KOMPOS. · Kompos adalah bahan alami padat yang telah lapuk melalui proses perombakan/penghancuran oleh biota tanah, jamur dan mikroorganisme. · Bahan pembuatan kompos antara lain kotoran hewan, sisa tanaman, limbah organik rumah tangga, jerami, dan lain-lain. · Cacah/perkecil ukuran bahan kemudian siram dengan MOL dan letakkan ditempat yang terlindung dari sinar matahari dan tetesan maupun aliran air. 3. PENGELOLAAN TANAH. · Tanah diolah seperti metode konvensional. · Masukkan kompos 10 “ 15 hari sebelum bibit dipindah ke lahan · Buat parit di keliling dan di tengah lahan, semakin banyak parit semakin baik. 4. PEMILIHAN BENIH SEHAT DAN BERNAS. · Benih adalah miniatur tanaman oleh karenanya harus dipilih yang benar-benar sehat. · Benih dipilih dengan melarutkan garam dalam air secukupnya kemudian masukkan telur ayam. Saat telur ayam bisa mengapung kemudian masukkan benih padi. · Benih padi yang tenggelam pada larutan diambil kemudian cuci bersih dengan air tawar, benih siap ke tahap penyemaian. 5. PENYEMAIAN. · Persemaian bisa dilakukan pada besek, kotak, nampan maupun di lahan. · Media semai ditambah kompos untuk memudahkan pencabutan juga mencegah kerusakan akar terlalu banyak. · Kebutuhan benih per hektar 5 kg. 6. PENANAMAN DAN JARAK TANAM. · Penanaman bibit muda antara 7 “ 15 hari. · Pencabutan benih dari persemaian harus hati-hati agar akar tidak rusak. · Tanam cepat, tidak lebih dari 15 menit. · Tanam tunggal,dangkal, akar sejajar tanah (dislereke). · Jarak tanam lebar (25x25 cm, 30x30 cm, dst). 7. PENGELOLAAN AIR DAN PENYIANGAN. · Air di lahan dalam kondisi macak-macak. · Air ditambah 2 “ 3 cm (digenangi) saat akan penyiangan (matun/gosrok). · Penyiangan selang 10 hari setelah tanam, penyiangan 4 kali. · Semprotkan MOL. · Memasuki masa pembuahan lahan dikeringkan. · Setelah bakal buah dalam batang membesar (meteng) tambahkan air macak-macak. · Setelah padi bernas, air dikeringkan sampai panen. 8. PENGENDALIAN ORGANISME DI LAHAN. · Pengendalian organisme pengganggu dilaksanakan dengan konsep pengendalian hama terpadu secara utuh. · Menghindari praktek-praktek pengendalian organisme dan penyakit yang akan merusak agroekosistem. · Pengembangan pestisida nabati. 9. SEKOLAH LAPANG SRI. · Sekolah lapang SRI dilakukan pada lahan SRI oleh petani bersama petani lain secara berkala, 10 “ 15 hari sekali selama satu musim tanam. · Materi Sekolah Lapang mengenai penyelarasan hubungan unsur-unsur biotik bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. SRI, sebagai sebuah sistem tentu saja tidak akan bermanfaat, jika petani tidak mampu menjalankan. Menyadari keadaan ini maka penting kiranya mengadakan Pembelajaran Ekologi Tanah dan Pemahaman SRI, sehingga terciptanya wahana komunitas pembelajaran ekologi dan SRI, yang dapat digunakan sebagai wadah perbincangan untuk tukar pengalaman dan pengembangan potensi diri petani serta diketemukan masalah-masalah dalam pengalaman praktek SRI. Materi Pelatihan : 1.Uji Aerasi : - Tanah sawah - Tanah sawah + bahan organik - Tanah sawah + pasir Kesimpulan : Tanah sawah + bahan organik mampu membuat rongga di dalam tanah. 2.Uji KMA : - Tanah sawah - Tanah sawah + bahan organik - Tanah sawah + pasir Kesimpulan : Tanah sawah + bahan organik mampu menyerap air lebih cepat. 3. Praktek pembuatan Kompol dan MOL (Mikro Organisma Lokal) KOMPOS PUPUK KIMIA ? ? Tanaman/Tanah Tanaman/tanah ? ? Diambil nutrisi/hara Nutrisi/hara ? ? Sisa humus Koloid? tanah atos/lempung KOMPOS : Bahan organik yang dibuat dari proses kegiatan mikroorganisma. FUNGSI : 1. Memperbaiki sifat fisik tanah. 2. Menyediakan makanan bagi mikroorganisma. 3. Menyediakan nutrisi. BAHAN : 1. KOHE (Kotoran Hewan)). 2. Hijauan/daun. 3. Bekatul. 4. Abu sekam. 5. Jerami. 6. Sampah dapur. PRINSIP PENGOMPOSAN : 1. Terlindung dari air hujan. 2. Terlindung dari sinar matahari. 3. Bahan kompos diperkecil/dirajang. 4. Menjaga kelembaban. 5. Menjaga suhu optimal. 6. Pakai MOL. JENIS MOL : a. MOL Dekomposer. b. MOL Tunggal. c. MOL Pembelah Sel. d. MOL Penambah Hormon, Mineral dan Vitamin. e. MOL Inhibitor (Penghambat). f. MOL Buah I dan II (Air kelapa segar + gula). 4. Praktek Tanam SRI Materi Teknis : 1. Benih muda : Umur 7 “ 12 hari. 2. Tanam dangkal horisontal ? untuk mempercepat peranakan. 3. Pindah tanam cepat. 4. Lahan rata dan berparit. 5. Air macak-macak. 6. Penyiangan 4 kali. 7. Jarak tanam semakin lebar. 8. Kompos. 9. MOL (Mikro Organisma Lokal). 10. PHT (Pengendalian Hama Terpadu). INGAT : - Umur 10 hari sudah berpotensi beranak, maka penyiangan jangan lebih dari 10 hari. - Misal umur 5 “ 7 hr sudah beranak 2 ? 5 “ 7 hr berikutnya beranak 4 ? 5 -7 hr berikutnya beranak 8 ? dan seterusnya. - Ciri SRI : Umur 32 hr ? anakan daunnya masih kecil-kecil. Setelah selesai Pembelajaran Ekologi Tanah, Rencana Tindak Lanjut: 1. Praktek membuat kompos dan Mol, dilaksanakan 27 Pebruari 2011, di kelompok tani Mukti Rahayu desa Cengkawarejo 2. Tanam Padi SRI di desa Cengkawakrejo : 15 Maret 2011 3. Sekolah Lapang I di desa Cengkawakrejo, 30 Maret 2011 , tanaman masih memprihatinkan, belum beranak, selanjutkan dianjurkan tanaman 7 hari sekali disemprot mol tunas. 4. Sekolah Lapang II di desa Cengkawakrejo, 14 April 2011 , tanaman sudah beranak , jumlah rumpun paling sedikit 2 rumpun dan paling banyak 24 rumpun. 2 5. Sekolah Lapang III di desa Candingasinan, 2 Mei 2011, kelompok Ngudi Makmur, tanam padinya masih terlalu dalam, kemudian diberi contoh untuk bisa sebagai perbandingan. 6. Sekolah Lapang IV di desa Popongan, 14 Mei 2011 , tanaman terjadi daun mengering, tindakan dibei kapur bangunan. Sedang tanaman padi di desa Cengkawakrejo terserang tikus, usaha sudah dilakukan berbagai cara, tetapi tikus tidak pergi tetapi lebih ganas menyerang, akhirnya petani putus asa dibiarkan saja.