Peningkatan produksi beras adalah suatu cita-cita mulia yang seyogianyalah harus mendapat dukungan dari semua fihak, diupayakan semaksimal mungkin untuk mewujudkan agar Indonesia dapat berswasembada beras baik untuk saat ini maupun untuk masa yang akan datang, untuk itu diperlukan upaya-upaya yang serius sehingga tercapai swasembada secara berkelanjutan. Menyikapi hal tersebut, baru-baru ini telah dilaksanakan Temu Teknis Tingkat Kabupaten Pemberdayaan Petani Melalui Metode Demfarm dengan Pola SL Agribisnis Padi yang diikuti oleh Ka. BPP, Para Penyuluh, Petugas Pengamat Hama/Penyakit, Pengurus serta anggota kelompok tani calon pelaksana demfarm dalam wilayah Kecamatan Kumpeh Ulu pada tanggal 5 April 2012, di Balai Desa Kota Karang, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi. Dalam pengarahannya Kepala BPPKP Kabupaten Muaro Jambi yang diwakili oleh Kabid Kelembagaan dan Pemberdayaan SDM mengatakan bahwa Kabupaten Muaro Jambi sebagai bagian dari Indonesia Surplus Beras 10 Juta Ton Tahun 2014, pada tahun 2012 ini mendapat sasaran produksi padi sebesar 50.204 ton GKG, yang rencananya berlokasi dibeberapa kecamatan antara lain Kecamatan Sekernan, Maro Sebo, Jambi luar Kota, Taman Rajo, Kumpeh Ulu dan Kecamatan Kumpeh. Sasaran tersebut bukan suatu hal yang mudah untuk dicapai tanpa keikut sertaaan dan kerja keras dari semua fihak yang terkait, untuk itu sangat diharapkan partisipasi para Penyuluh Pertanian, Pengamat Hama & Penyakit, Petugas Perbenihan, KTNA agar secara aktif memberikan pendampingan yang maksimal kepada para petani dan kelompok tani dilapangan, baik dalam aspek agroinput, produksi, pasca panen dan pengolahan hasil, pemasaran dan aspek penunjang. Dalam acara tersebut juga turut memberikan materinya Penyuluh Pertanian Kabupaten yang membidangi tanaman pangan dan hortikuktura, yang menguraikan secara panjang lebar hal-hal yang terkait dengan budidaya padi sawah di lahan lebak. Dijelaskannya bahwa budidaya padi di lahan sawah lebak berbeda penanganannya dengan budidaya padi di lahan sawah dengan irigasi teknis, karena secara umum, lahan sawah lebak tidak mengenal apa yang disebut dengan irigasi, pada lahan sawah lebak istilah tersebut lebih tepat dengan sebutan system drainase, yang memerlukan cara-cara tersendiri sesuai dengan kondisi lapangan. Acara dilanjutkan dengan diskusi tentang permasalahan hangat dan keingintahuan peserta tentang beberapa hal antara lain, cara tanam system legowo, upaya-upaya melindungi tanaman padi dari serangan hama burung pipit kepala putih yang datang secara bergerombol serta permasalahan-permasalahan lainnya yang sering ditemui petani dilapangan. Untuk itulah, dengan adanya demfarm padi yang dilaksanakan dengan metode Sekolah Lapang Agribisnis ini, melalui beberapa kali pertemuan dan praktek dilapangan, diharapkan petani dapat memetik pengalaman baru dari aplikasi teknolgi yang akan didemonstrasikan, untuk selanjutnya bersedia menerapkan pada lahan usahataninya serta menularkan pengetahuan/pengalaman yang didapat kepada petani lain disekitarnya, sehingga sasaran yang ingin dicapai dengan pelaksanaan demfarm ini dapat tercapai sesuai dengan harapan. ( Syamsul Bahri, SP / Poknal PP Kab. Muaro Jambi ).