Perkembangan ayam buras (bukan ras) atau lebih dikenal dengan sebutan ayam kampung saat ini semakin pesat, dan banyak dipelihara oleh peternak-peternak maupun masyarakat umum sebagai usaha untuk; pemanfaatan pekarangan; pemenuhan gizi keluarga; sekaligus meningkatkan pendapatan. Peranan ternak ini tidak kalah pentingnya dalam menyuplai kebutuhan protein hewani (daging dan telur) bagi masyarakat. Melihat animo masyarakat ini dan berbagai kendala yang ada, maka Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah melepas jenis ayam kampung yang bersifat unggul. Ayam tersebut disebut ayam KUB (Kampung Unggulan Balitbangtan) yang merupakan ayam kampung galur baru dengan genetik produksi telur tinggi, mencapai 180 butir/ekor/tahun (2 x lipat ayam kampung biasa); sifat mengeram yang rendah hanya sekitar 10%; serta tingkat kematian sekitar 7,86%. Salah satu faktor penentu keberhasilan suatu peternakan, disamping faktor genetik adalah faktor pakan. Produktivitas ayam kampung akan optimal, jika menggunakan bibit unggul dan pakan yang sesuai dengan kebutuhan biologis dan nutrisi ternak dengan kandungan zat-zat nutrisi seimbang. Untuk itu perlu menjadi perhatian dalam menyusun pakan ayam kampung, adalah penggunaan secara maksimal bahan pakan lokal yang tersedia di daerah bersangkutan dan berupaya menekan serendah mungkin penggunaan bahan pakan impor. Perlu diketahui biaya pakan dalam suatu usaha peternakan merupakan komponen terbesar dari total biaya produksi, yaitu mencapai 60-70% dari modal yang harus dikeluarkan peternak selama proses produksi. Sehingga untuk memenuhi asupan nutrisi berkualitas dibutuhkan inovasi-inovasi baru dalam peningkatan kualitas bahan pakan, seperti halnya bahan pakan dedak dalam formulasi ransum ayam KUB. Masalah utama dari penggunaan dedak padi sebagai pakan ayam, adalah rendahnya kandungan protein dan tingginya kandungan serat kasarnya, namun hal ini dapat diperbaiki dengan penerapan teknologi fermentasi sebagai upaya meningkatkan nilai nutrisi dan kecernaan dedak padi dengan aman. Teknologi Fermentasi adalah salah satu metode yang digunakan untuk meningkatkan kualitas dari bahan pakan ternak secara biologis, melibatkan aktifitas mikroorganisme guna memperbaiki kualitas nutrisi dan gizi bahan berkualitas rendah. Pada proses fermentasi ini akan terjadi perubahan kimiawi senyawa-senyawa organik (karbohidrat; lemak; protei; serat kasar dan bahan organik lain), baik dalam keadaan aerob maupun anaerob melalui kerja enzim yang dihasilkan mikroba. Semakin lama waktu fermentasi akan semakin banyak zat-zat yang dapat dirombak, sebaliknya semakin banyak level inokulum yang diberikan semakin cepat proses fermentasi berlangsung. Permasalahan utama dalam budidaya ayam KUB secara intensif adalah mahalnya harga pakan dan tidak stabil karena beberapa bahan baku utamanya masih diimpor, seperti jagung, bungkil kedelai, tepung ikan, tepung daging, dan tepung tulang. Komposisi dan formula yang pas untuk ayam kampung yang memenuhi syarat kebutuhan ayam untuk tumbuh secara maksimal, belum ada petunjuk yang pasti. Sehingga perlu diatur kompsisi pakan yang akan diberikan sesuai bahan tersedia dan memiliki nilai nutrisi tinggi dengan penekanan harga minimal. Upaya peningkatan kualitas dedak padi melalui teknologi fermentasi dan penggunaan dedak padi fermentasi, untuk perbaikan penampilan ayam KUB sudah dilakukan dalam berbagai penelitian. Salah satunya telah dilakukan kajian terhadap penampilan ayam KUB umur 3 bulan, diberi formulasi campuran pakan konsentrat; jagung giling dan dedak padi fermentasi dengan komposisi 40%; 40%; 20%. Telah memberikan gambaran bahwa ayam KUB diberi pakan dedak padi fermentasi mampu memberikan hasil berat badan ayam KUB sedikt lebih baik, yaitu mencapai 986,80 g/ekor. Dibandingkan dengan komposisi pakan yang sama untuk ayam KUB dengan campuran dedak padi non fermentasi, hanya menghasilkan berat badan sebesar 978,53 gram pada auyam KUB umur 3 bulan (Ruswendi).