Loading...

PEMBIAYAAN BUDIDAYA TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin Benth)

PEMBIAYAAN BUDIDAYA TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin Benth)
Sudah sejak jaman dulu tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth) dikenal sebagai pengharum masakan, sebagai aroma parfum dan kosmetik, sabun juga sebagai bahan antiseptik. Dengan kemajuan. Dengan semakin majunya teknologi farmasi, kedepan minyak nilam yang bersifat fixatif (sebagai pengikat minyak atsiri lainnya) banyak dibutuhkan sehingga budidaya tanaman nilam perlu dibudidayakan secara luas. Produk yang dihasilkan dari nilam adalah terna (daun dan ranting) tanaman. Tanaman nilam dapat dipanen pertama kali pada umur 4-6 bulan, panen berikutnya dilakukan selang waktu 2-6 bulan sekali sampai tanaman berumur tiga tahun. Untuk lebih meningkatkan minat petani, perlu dikenalkan syarat tumbuh, siklus panen, pasca panen dan komponen pembiayaan budidaya nilam. Hasil penelitian Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat-obatan, Bogor, dari jenis/varietas nilam yang ada, tiga varietas dari Aceh yang unggul dalam menghasilkan minyak atsiri, yaitu varietas Tapak Tuan, Lhoksemawe dan Sidikalang. Syarat tumbuh Secara umum nilam tumbuh baik didataran rendah dan berproduksi tinggi pada ketinggian 10-400 meter diatas permukaan laut. Memerlukan tanah yang subur, cukup humus dan bahan organik. Nilam juga memerlukan penyinaran matahari yang cukup denganncurah hujan berkisar 2.500 - 3.500 mm/tahun, dengan suhu 24-28 derajat Celcius. Nilam yang tumbuh di dataran tinggi, relatif lebih baik, karena pengaruh suhu udara dan kondisi kesuburan dan kondisi alam yang relatif sejuk. Siklus panen Tanaman nilam dapat dipanen 7-9 kali selama tiga tahun. Jumlah tanaman per hektar berkisar 15.000 - 25.000 dan setiap rumpun mampu menghasilkan terna (daun dan ranting) nilam seberat 1 - 4 kg. Pasca panen Dengan jumlah rumpun sebanyak 15.000 - 25.000 per hektar, hasil panen nilam basah mencapai 15.000 - 40.000 kg/hektar yang dapat langsung dijual ke pengumpul dengan harga Rp. 500,- - Rp. 1.000,-/kg. Proses selanjutnya adalah dilakukan pengeringan dengan angka penyusutan 1:5 (utuk menghasilkan 1 kg terna kering diperlukan 5 kg terna basah), Pelayuan/ pengeringan harus dilakukan dengan benar (dijemur selama 3 hari dengan meletakkan terna di rak penjemuran/ dilantai ruangan penjemuran) dengan kadar air sekitar 14% karena bila tidak akan menyebabkan kadar Patchouli Alkohol (PA) yang dihasilkannya rendah. Bila proses pengeringan baik terna dapat disimpan selama 3-4 bulan dan dapat dijual dengan harga Rp. 2.500 - Rp. 5.000/ kg ke pengumpul. Tahap selanjutnya adalah penyulingan terna kering menjadi minyak dengan rendemen sebesar 2,0% - 3%. Mesin suling dan tempat penampungan yang digunakan sebaiknya dari bahan stainless steel agar menghasilkan minyak atsiri yang jernih dengan kandungan PA tinggi. Hasil penyulingan (kadar PA> 30%) ini dapat langsung dijual ke pasar domestik maupun eksportir dengan kisaran harga Rp 300.000 - Rp. 750.000/kg harga sangat fluktuatif. Pada tahun 2008 lalu harga minyak nilam mencapai Rp. 1.000.000 - Rp. 1.500.000/kg. Berdasarkan pengalaman usahatani nilam di Desa Marang, Lampung, perhitungan kelayakan usahatani nilam 1 hektar dengan B/C ratio 1,44, petani dengan satu kali panen (umur tanaman 6 bulan) mampu mendapatkan penghasilan sebesar Rp. 5.285.000,- dengan rincian sebagai berikut : 1. Pengeluaran a. Sarana Produksi - Bibit Nilam 25.000 setek @ Rp. 50 - Pupuk organik 10.000 kg @ Rp 250 - Pupuk N (Urea/ZA) 550 kg @ Rp. 1.250 - Pupuk P (TSP/SP 36) 250 kg @ Rp. 2.600 - Pupuk K(KCl) 250 kg @ Rp. 2.600 - Pestisida 6 kg/lt @ Rp.75.000 b. Tenaga kerja - Pembersihan lahan 15 HOK @ Rp. 20.000 - Pembuatan parit keliling 10 HOK @ Rp. 20.000 - Pengolahan lahan 40 HOK @ Rp. 20.000 - Pembuatan bedengan 15 HOK @ Rp. 20.000 - Pemupukan dasar 10 HOK @ Rp. 20.000 - Penanaman 15 HOK @ Rp. 20.000 - Pemupukan (4 kali) 30 HOK @ Rp. 20.000 - Penyiangan (4 kali) 30 HOK @ Rp. 20.000 - Pembubunan 30 HOK @ Rp. 20.000 - Membersihkan parit 10 HOK @ Rp. 20.000 - Pengendalian hama/penyakit 15 HOK @ Rp. 20.000 - Panen 75 HOK @ Rp. 20.000 Jumlah 11.965.000 2. Penerimaan - Produksi 3.4500 kg - Harga (Rp) 500 - Penjualan (Rp) 17.250.000 3. Pendapatan 5.285.000 Bila petani nilam sebagai pengrajin dengan menyuling sendiri, harga jual dalam bentuk minyak mencapai Rp. 40.000.000,- (Rp.200.000/kg produksi 200 kg/ha) hanya menambah biaya untuk peralatan suling dan kompor sebesar Rp.8.725.00 dan biaya operasional Rp. 3.139.000 (biaya penyusutan: peralatan, kompor, upah penyulingan dan BBM). Perhitungan berdasarkan data hasil penelitian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Badan Litbang Pertanian di Desa Marang, Lampung tahun 2008. Oleh : Sri Puji Rahayu (Penyuluh Pertanian) Sumber : Pedoman Budidaya Tanaman Nilam, Direktorat Budidaya Tanaman Semusim, Ditjen Perkebunan, Departemen Pertanian, 2006; Teknologi Budidaya Nilam, Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Badan Litbang Pertanian, 2008.